Alkisah Penyintas Pantai Siung

siung

Pagi menyeruak setelah semalam di guyur hujan ringan. Tenda yang masih basah oleh embun masih kuat menantang hempasan angin laut yang mendera semalaman. Setelah semalaman menginap di hotel bintang 5 miliar, beratapkan langin beralaskan pasir, kini saatnya untuk menyongsong sang surya di ufuk timur. Sebuah ritual para pelancong yang bangun pagi-pagi buta, tangan ini meraba-raba trangia dan perangkatnya. Alat masak buatan swedia ini yang akan menyajikan minuman hangat sembari mendengarkan kumandang adzan subuh.

Secangkir teh panas sudah dalam genggaman. Dalam pagi yang masih remang-remang, ombak selatan selalu saja memberikan aroma mistisnya. Sembari duduk di bawah pohon Fillicium, sesekali menyeruput teh hangat dengan aroma melati dan gula batunya. sebuah kemping yang sempurna malam ini, dan sesaat harus segera beranjak untuk menyaksikan sang surya yang mulai merangkak.

Langkah kaki berjalan pelan di atas pasir putih yang belum ternoda jejak manusia. Saya menjadi yang pertama dan meninggalkan jejak pagi ini. Berjalan di sepanjang pantai, kadang-kadang harus benar-benar menepi jika tak ingin basah oleh air samudra hindia. Sebuah sungai kecil memaksa harus mengerahkan tenaga berkali lipat, manakala harus melompat. Kembali harus berjalan dan kali ini harus lewat jalan setapak di antara semak.

Jalan menanjak dari sela-sela batuan karang yang terangkat. Jalur yang sempit dan licin, karena semalam diguyur hujan harus ekstra hati-hati. Dalam pundak menggantung 2 buah kamera, dan tangan kiri masih menggenggam sebuah kamera saku dan tangan kanan penyangga kaki tiga. Nafas yang terngah-engah akhirnya mengantarkan kaki ini pada sebuah puncak bukit tertinggi di Pantai Siung.

Laut selatan begitu jelas dari tempat ini. Aroma garam begitu pekat dan halimun masih menutupi beberapa sudat pantai. Sayup-sayup terdengar deburan ombak yang menghatam batuan karang, dan samar dari sisi timur mulai menyeruak cahaya merona. Benar saja, saatnya sang surya beranjak dari peraduanya dan akan menjadi momen yang indah pagi ini. Perlahan kelamnya langit berubah warna menjadi merah merona, lalu semburat kuning emas bermunculan. Namun pagi ini saya sepertinya belum beruntung, manakala banyak sekali awan yang menggantung. Kisah pagi ini cukup sampai di sini, dan inilah seni mengejar matahari.

14241462031010472075

Jalur Kuda Laut, begitu para pemanjat tebing memberi nama untuk tebing ini. Di puncak tebing terukir alam sebuah ornamen mirip bekas lambang pertamina (dok.pri).

Kepala kuda laut mirip bekas lambang Pertamina begitu menggoda. Saya termangu menakala seorang gadis dengan tali pengaman tubuh mencoba meraih sudut-sudut tebing untuk menambah ketinggian. Inilah tebing di pantai Siung, Gunung Kidul-Yogyakarta. Konon ditempat ditemukannya taring harimau, oleh sesepuh yang tinggal di pantai ini yakni mBah Wasto. Saya kagum kana kelenturan gadis pemanjat yang meliuk-liukan tubuhnya untuk mencari pegangan dan pijakan. Kaki yang kokoh dan tangan yang kuat, mental yang tangguh berkolaborasi dengan kemampuan memanjat.

14241463132032412358

Gadis Pemanjat, menyusuri sela-sela tebing sambil mengaitkan tali pengan pengaman pada cincing kait. (dok.pri).

Kembali saya menyusuri tebing-tebing pantai Siung yang dibagi menjadi beberapa blog. Blog-blog sesuai abjad huruf ini menunjukan lokasi pemanjatan, dan yang terkenal adalah sebuah blog yang memiliki ikon kuda laut. Konon tebing inilah yang memiliki tingkat kesulitan tinggi di mata pemanjat, selain ornamen kuda laut yang terukir  di atas sana. Tangan ini ternyata gatal juga. Sebuah tas berisi peralatan panjat, terpaksa harus keluar untuk sedikit mencoba jalur yang mudah, ternyata tak semudah yang kami perkirakan. Beberapakali jatuh, naik lagi, dan jatuh lagi. Rasa frustasi dan tenaga yang menipis, kembali membuat kami segera menggulung tali.

Ikan goreng dengan lalapan daun pepaya dan segelas teh hangat menemaki kami untuk berbincang dengan mBah Wasto. Sesosok lelalu dengan kerut wajah, menapak usia yang sudah senja, namun tetap bersemangat untuk bercerita. Tahun 70an saat tempat ini belum berpenghuni dia sudah mulai ‘babat alas’. Dia menceritakan sebagai salah satu abdi dalem kraton, harus siap ditempatkan dimana saja. Sisi timur pantai selatan menjadi tempat dia mengabdi dengan beragam suka dukanya menjadi seorang abdi dalem.

Kisah-kisah hidupnya yang sederhana, penuh dengan halang rintangan dengan segala keterbatasan membuat dia ‘sumeleh, berserah pada Gusti Allah dan alam“. Konon sebagai orang yang dipasrahi menjaga pantai dia harus berjalan jauh dari satu pantai ke pantai yang lain. “Tak ada jalan bukan halangan, selama ada kantong macan” sebuah pegangan mirik pintu saja milik doraemon. Percaya tidak percaya, tetapi itulah uniknya sebuah budaya yang kadang hanya bisa dinikmati dan dikagumi hanya lewat cerita.

14241463781220605829

Sejenak berbincang dengan sesepuh di pantai Siung, yakni mBah Wasto (dok.pri).

Pantai Siung memang salah satu pantai yang aksesnya cukup sulit. Tidak ada listrik, sinyal acapkali menjadi kendala bagi mereka yang benar-benar tergantung, tetapi tak masalah bagi mBah Wasto dan keluarga karena sudah terbiasa. Tak terasa, obrolan siang ini harus berhenti karena harus melanjutkan perjalanan, “mbah ada kantong macan” sergah saya dan beliau pun terkekeh.

Video ada di SINI.

2 thoughts on “Alkisah Penyintas Pantai Siung

  1. Melihat foto gadis pemanjat tebing itu jadi ingat kawan blogger si Mutia (mutiaky.blogspot.com) yang seakan punya 9 nyawa berhadapan dengan medan kayak gitu, hahaha.

    Eh, kantong macan itu lebih tepatnya apa e Mas?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s