Mitan Yang Langka Di Timur Indonesia

j2

Raut wajah-wajah lelah penuh harap, semakin jelas manakala kedua tangang menggenggam jeruji besi pagar sambil menunggu antrian. Pagi itu berjubel ibu-ibu yang sedang berjuang agar sebelum siang dapur sudah menyala dan mengepul. Ibu rumah tangga ini sedang melanjutkan jerih payah suami untuk menyediakan hidangan lezat dimeja makan. Sebuah pemandangan yang miris di negeri ini yang konon katanya sumber alam berupa minyak melimpah, sedang masih ada mereka sisi yang masih susah payah. Sumbawa, saya tidak banyak mendengar ada banyak sumber minyak, tetapi mereka juga tetap bagian dari negara yang kaya akan minyak.

1423457365388280689

Salah seorang pria, menjadi kepala rumah tangga sekaligus tulang punggung keluarga ikut serta mengantri minyak. No Money No Honey, mungkin salah satu jeritan hatinya (dok.pri).

Uang melimpah, tetapi jika tidak ada yan dibeli seolah tak bermakna. Konon uang bisa membeli apa saja, tetapi pagi ini di barat sumbawa seolah tak bermakna apa-apa. Saat deretan jerigen-jerigen berukuran 5 liter berjajar untuk mengantri mitan (minyak tanah). Saya tidak menyangka saat dibelahan lain, kaum ibu-ibu sudah meningalkan mitan dan beralih ke gas, namun di sini minyak tanah ini masih saja menjadi primadona. Tidak hanya di sumbawa, tetapi di Indonesia timur seperti NTT, Maluku, dan Papua minyak tanah masih menjadi pilihan utama walau terkadang langka.

Di Jawa minyak tanah mungkin sudah menjadi barang kenangan. Kompor 12 sumbu sudah hilang di pasaran. Minyak tanah bak barang langka, jikapun ada itu harus ditebus dengan harga yang mahal untuk 1 liternya. Konon untuk 1 liter minyak tanah di jawa dihaargai 10-15 ribu rupiah. Alhasil untuk membuat sebuah obor, kini minyak tanah harus di oplos dengan bensin yang lebih murah, tetapi saya membayangkan di timur jauh sana saat minyak tanah adalah kebutuhan utama. Ibu-ibu berebut minyak tanah untuk dapur, sedangkan suami memainkan minyak tanah untuk lampu-lampu petromax di ujung perahu.

1423457469386788494

Walau hanya 4 ribu rupiah perliter, tetapi karena di batasi dan terbatas maka harganya bisa melonjak di luar batas (dok.pri).

Antrian pun ricuh saat semakin banyak ibu-ibu yang mengantri, dan hanya ada satu pintu kecil dan beberapa petugas yang melayani. Perjuangan kamu hawa ini tak kalah sengitnya dengan kaum adam yang katanya tulang punggung keluarga kerja keras banting tulang, tetapi lihatlah salah satu perjuangan ini. Harus disadari, keterbatasan minyak kadang menjadi bisnis yang menjajikan dan bahan rebutan. Tidak salah jika semua berjuang mati-matian untuk mendapatkan.

Manisnya kue-kue di pasar ini, tak semanis ibu-ibu di sini yang hanya mendapat jatah seminggu sekali mendapat pasokan minyak tanah, itupun hanya 4 liter. Terik matahari tak menghalangi semangat insan pejuang keluarga ini. Beberapa suami dari mereka yang bekerja di tambang di atas bukit sana, mungkin tak akan merasakan kerasnya mencari dan mengantri di sini. Dari sinilah awal perjuangan di tanah yang sudah merdeka, tetapi belum merata. Langkanya mintan bisa menjadi pembakar untuk membuat bubur panas permasalahan negeri ini, yang harus diselesaikan dari garis terluar.

1423457584157599309

Manisnya kue-kue ini tak semanis manakala mereka harus berjuang dan antri mendapatkan mitan yang utama dan langka (dok.pri)

Advertisements

4 thoughts on “Mitan Yang Langka Di Timur Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s