Kisah Apel dari Tambang

i3

Pa pohon apel yang ditambang belum berbuah ya, kok tidak bawa pulang apel..?” sebuah pertanyaan dari anak pegawai di PT.NNT ketika ayahnya pulang tidak membawa sisa makan siang berupa buah apel. Sebuah sisi kemanusiaan yang kadang tidak dipandang bahkan tidak dipikirkan oleh mereka yang hanya melihat raihan rupiah manakala tanggal gajian. Bekerja siang dan malam, bahkan lembur di area yang berbahaya dan rawan kecelakaan adalah sebuah harga yang pantas dengan pendapatan besar.

Ada yang mengatakan bahwa pekerja tambang adalah mayat-mayat hidup atau zombie, bahkan ada yang menganggap sebagai robot manusia. Mereka bekerja berdasarkan instrumen atau perintah dan tidak bisa bekerja sesukanya sendiri. Aturan-aturan yang ketat dan mutlak dijalankan sudah menjadi kitab suci dan perjanjiannya. Alhasil mereka bekerja benar-benar terikat oleh aturan. Rasa bosan, frustasi kadang hanya terlampiaskan oleh rasa lelah dan ngantuk dan terbayarkan saat ada di camp site. Keluarga mereka yang ada di luar tambang bahkan luar pulau nan jauh di sana hanya bisa mereka temui saat cuti, itupun harus bergantian. Bagaimana rasanya jika dalam keseharian hidup kesepian dalam keterasingan.

Saya tertarik dengan salah satu pekerja yang kesehariannya bertugas mengawasi mesin pompa air. Bekerja sendirian atau kadang berdua di tengah hutan kadang siang atau malam. Pekerjaannya tidak melelahkan, sebab hanya melihat panel-panel kendali pompa saja. Yang melelahkan adalah menunggu jam pergantian. Sebuah ponsel pintar sudah bosan dia gunakan, baik sebagai televisi atau pemutar video tetap saja bosan itu selalu melanda. SOP dia adalah tidak boleh keluar dari area, dan harus tetap mengawasi jalannya pompa, benar-benar kesepian ditengah keramaian mesin.

1423190068198198224

Dunia tambang, tambang dan tambang menjadi pembicaraan sehari-hari seputar pekerjaan. Acapkali rasa bosan melanda, yang terlampiaskan dengan sesaat untuk bersenda gurau. Ada yang menikmati, adapula yang tersiksa dalam menjali, kembali pada hati (dok.pri).

Profil penjaga pompa adalah satu dari sekian banyak bagian yang sangat-sangat membosankan. Namun ada hal yang kadang membuat rasa bosan tersebut hilang dan menjadi sebuah semangat tersendiri, yakni anak istri. Segarang-garangnya penjaga gerbang tambang, manakala kaca mata hitam, batu akik di jemari, dan suara berat mendatangi bisa membuat keder siapa saja yang dia periksa. Memang kadang dengan modal tampang garang menjadi kriteria seorang petugas keamanan, tetapi jika dikejauhan diperhatikan batin mereka kadang menangis. Iseng saya menanyakan “gimana pak kabar anak istri di rumah..?”, sesaat dia tidak menjawab dan raut muka dan mimiknya berubah menjadi seorang ayah yang rindu terhadap keluarga.

14231902061041959277

Merasakan keriangan anak-anak bermain kadang lebih berat daripada menjalankan mesin-mesin berat. Nampak keceriaan anak-anak pagawai tambang yang siang itu sedang bermain gasing (dok.pri).

Kerja di sini uang bisa dikatakan utuh. Kita makan, minum, mandi, tranportasi ditanggung perusahaan, namun kadang ada yang kurang yakni keluarga“, curhat seorang satpam yang bekerja di perbatasan tambang. Sebuah konsekuensi logis mereka harus bekerja jauh dari keluarga selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Kadang hanya lewat ponsel sesekali mereka menghubungi keluarga, namun suara saja kadang tak mengobati rasa rindu. Yang hanya bisa mereka lakukan adalah jauh-jauh hari mengatur untuk cuti.

1423190318509375933

Sebungkas nasi lombok balap denang harga Rp 5.000,00 menjadi santapan yang nikmat dengan bumbu cerita-cerita yang hangat dan bisa mencurahkan semua perasaan, berbeda dengan di mess hall. kira-kira begitu sepenggal kisahnya (dok.pri).

Suatu saat saya mendapat kesempatan untuk hidup ditengah-tengah pekerja tambang. Pada jam kerja, kita sibuk membicarakan seputar dunia tambang dan seluk beluknya. Makanan dari mess hall dan jatah nasi kotak yang penuh dengan nutrisi serasa hambar manakala apa yang menjadi lauknya adalah keseharian dan rutinitas. Menjelang malam tepatnya di sebuah rumah kost di luar tambang suasana berubah tak seperti di camp site. Sebuan nasi bungkus seharga Rp 5.000,00 menjadi hidangan istimewa didalam kamar yang sederhana, tak ada pendingin udara hanya putaran kipas angin saja. Sambil melahap makan malam, pembicaraan tak lagi dunia tambang dan pekerjaan, tetapi kisah kerinduan hati.

Dengan layar ponsel dia bercerita “ini istri saya, ini anak saya yang pertama, ini yang kedua dan yang ini yang ketiga laki-laki semua. Ketiganya kadang suka berkelahi layaknya anak-anak, tapi jika salah satu pergi keduanya sama-sama mencari“. Cerita berlanjut entah berapa banyak foto-foto yang dia tampilkan dan masing-masing memiliki kisahnya sendiri-sendiri. Suasana ini mungkin tak akan terjadi saat ada di camp site dan diceritakan dengan mereka yang bernasib sama, mungkin ada yang jauh lebih menderita suasanan hati dan batinnya.

1423190451546705689

Menu makan siang yang setiap hari dinikmati para pekerja. Biskuit, minuman dalam kemasan dan buah apel akan masuk tas untuk anak-anak di rumah (dok.pri).

Perusahaan memberikan fasilitas yang wah dan berkecukupan untuk hidup. Di jamin makan kenyang dan tidur nyaman, tetapi suasana hati siapa yang dapat memenuhi. Di balik nyamanya camp site, tetap saja ada yang memutuskan untuk tinggal di luar. Demi anak, istri rela berkendara lebih dari satu jam untuk pulang. Di rumah hanya sesaat mata ini terlelap mana kada sudah melihat anak tertidur, dan dia harus bangun pagi-pagi buta untuk berangkat kerja. Kadang sebuah apel sisa makan siang menjadi oleh-oleh yang bisa dibawa pulang, dalam hati hanya berkata sebelum dia terbangun “papa baru saja panen apel dari tambang“.

2 thoughts on “Kisah Apel dari Tambang

  1. terharu ni baca ceritanya mas dhave, tp ga cuma di tambang mas. kita para kontraktor pun demikian, para pekerja yang telah berkeluarga, setiap dapat tugas proyek di kota atau provinsi atau pulau yang berbeda dari rumah, punya rasa yang sama, biasanya sekitar 3 tahun. cuma aku aja yang bandel yang menikmati saat dapat tugas proyek yang jauh, jadi kesempatan buat xplore lebih….heheheheee,nikmatnya jadi lajang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s