Tanggungjawab Travel-Blogger Untuk Sumbawa

d7

Awas jangan sampai semua apa yang ada di sini, kami duluan yang mempublikasikan dan mengenalkan pada semua orang. Seharusnya kalianlah yang mengeksplor semua potensi ini dan mengenalkan pada dunia, sebab kalian adalah pemiliknya“. Kata-kata ancaman yang saya berikan kepada siswa-siswi SMK 1 Maluk, Sumbawa Barat manakala kami di ijinkan untuk berbagi ilmu dan pengalaman kepada mereka.

Usai senja kami kami sampai di Maluk, sebuah kecamatan di Sumbawa Barat sisi selatan. Kedatangan kami, bak segerombolan pengungsi karena malam itu semua barang bawaan kami untuk perjalanan selama 7 hari ada dalam gendongan kami. Malam ini kami akan menginap di rumah salah seorang penduduk yang yang bernama pak Abdul. Kedatangan kami di sambut ramah yang empunya rumah dan satu persatu kami memperkenalkan diri. Para traveler dan blogger, begitu kami menyabut segerombolan orang-orang nomaden yang berpergian  dan berpindah-pindah tempat di pelosok nusantara. Lewat Newmont Bootcamp kami diajak untuk menikmati kehidupan bersama penduduk asli Sumbawa dan berbaur bersama selama 2 hari 2 malam.

14226750332034595037

Dengan jontar yang selalu di tangan, pak Abdul mengajak kami mengobrol hingga larut malam (dok.pri).

Sesosok bersahaja, pak Abdul menemani kami mengobrol malam itu. Sambil mengelurkan slepen, yakni dompet berisi tembakau, cengkih, korek dan daun lontar. Slepen ini sebenarnya adalah milik para istri sebagai pembungkus pershiasan dari toko emas. Oleh para suami, slepen ini diminta untuk pembungkus rokok. Masyarakat Sumbawa menyebutnya Jontar, yakni rokok yang pembungkusnya dari dain lontar. Jika di beberapa tempat seperti di Jawa biasa membungkus rokok dengan kulit buah jagung kering, atau yang biasa disebut klobot.

Daun lontar yang sudah kering dibuat dalam bentuk lembaran segi empat. Dengan tlaten pak Abdul mengajari rekan saya Griska untuk melinting tembakau dengan daun lontar. Dengan sabar pak Abdul mengajari, walau acapkali harus di ulang karena punya Griksa ambyar. Setelah berhasil digulung kemudian diikat dengan menggunakan serat daun lontar juga, kemudian siap dibakar dan hisap. Begitulah cara masyarakat sumbawa menikmati kepulan asap rokok, dan sebuah pengetahuan baru dan mahal, ketika Griska yang penasaran mencoba menghisap jontar walau setelah itu terbatuk-batuk.

14226751411272973810

Rumah adat sumbawa yang masih kokoh berdiri walau sudah di himpit 2 rumah batu (dok.pri).

Pagi menjelang dari bawah pohon mangga saya melihat sebuah keanggunan Sumbawa pada masa lalu. Rumah panggung yang nampak renta, namun masih menyisakan pesonanya walau sisi kanan dan kiri adalah rumah batu. Anak-anak tangga yang tersusun rapi, berteriak menderit manakala kaki ini menapkanya untuk memasuki terasnya. Aroma kayu yang begitu pekat, membuat saya terpikat akan rumah tua ini.

Dinding rumah yang terbuat dari anyaman bambu dengan motif rejeng, menambak eksotisnya rumah adat sumbawa ini. Sebuah bajak terpajang rapi di sisi kanan rumah yang entah sudah berapa lama tidak menyentuh sawah. Saya berkeyakinan ini adalah sebuah budaya agraris di pesisir pantasi selatan Sumbawa. Saya membayangkan betapa melimpahnya pangan manakala agraris bersanding dengan maritim.

1422675208752149242

Bajak yang diletakan di samping rumah panggung menggambarkan kehidupan agraris, walau di pesisir selatan Sumbawa (dok.pri).

Belum puas menikmati rumah panggung sumbawa, teriakan pak Budi membuncah lamunan saya tentang bajak di samping rumah. Pagi ini kami diminta untuk mengisi sebuah acara di SMK 1 Maluk. Jauh-jauh hari saya dan Fahmi diminta untuk memberikan pengetahuan seputar dunia fotografi dan blog. Kamera dan blog adalah senjata wajib para traveler, sebab dari situlah kami membagikan apa yang kami dapatkan selama jalan-jalan. Namun, apakah hanya cukup berbagi lewat dunia maya saja, sedangkan jelas-jelas dunia nyata juga membutuhkan. Sebuah tantangan dan tanggung jawan para traveler untuk membagikan ilmu dan pengalamannya kepada yang membutuhkan.

1422675309883648558

Aktivitas di SMK 1 Maluk, sebuah sekolah dengan lansekap terindah yang pernah saya potret (dok.pri).

Di sebuah ruangan, yang sepertinya bakal dijadikan perpustakaan akan menjadi arena pertanggung jawaban para travel blogger ini. Satu persatu kami memperkenalkan diri kami, pengalaman kami serta sedikit membagikan motivasi kepada siswa-siswi di sini. Tiba saatnya Fahmi membagian ilmu bloggingnya, sebab dia sudah melanglang buana kemana-mana dan semuanya tertulis rapi lewat webnya www.capterku.info. Di awali bagaiman cara membuat blog, mendisainnya agar terlihat menarik, dan yang terakhir adalah mengisi dengan konten-konten yang bagus.

Antusias siswa-siswi di sini begitu meledak, manakala kami semua adalah blogger yang bisa jalan-jalan hanya lewat tulisan dan gambar. Bahkan ada yang bisa keluar negeri hanya lewat pengalaman jalan-jalan saja. Di sinilah Fahmi membagikan tips, trik dan motivasi agar semua membuat blog dan mengisinya dengan konten-konten yang manarik, khususnya Sumbawa yang banyak belum tersentuh. Saya kemudian menyambung, bahwa agar membuat blog menarik harus disertai dengan foto-foto juga. Ilmu fotografi praktis dengan kamera apa saja, yang penting adalah teknis dan kreativitas. Sesi di akhiri dengan tanya jawab, dan selesai sudah tugas dan tanggung jawab para traveler hari ini.

1422675386262407893

Wajah-wajah calon traveler, blogger dan fotografer dari Sumbawa Barat (dok.pri).

Usai makan siang, kami dibawa menuju sebuah tempat penampungan sampah. Saya berpikir, mengapa jauh-jauh ke sumbawa hanya dibawa ke tempat sampah. Inilah yang menjadi tantangan apa yang menarik dari tempat sampah ini, karena tempat ini sebenarnya adalah bank. Seorang ibu-ibu dengan menenteng tas kresek berisi sampah yang sudah dipilah menyetorkan kepada petugas bank sampah. Usai ditimbang dan taksir harganya, maka buku tabungan pun di isi sejumlah nominal harga sampah yang disetorkannya.

1422675458575452843

Seorang petugas sedang menunjukan buku tabungan sampah salah satu nasabahnya (dok.pri).

Bank sampah juga melayani barter sampah dengan pulsa listrrik, pulsa telepon seluler, pembayaran PDAM dan lain sebagainya. Pelajaran yang menarik adalah mengajarkan bahwa sampah bukan lagi menjadi masalah, namun bisa menjadi berkah. Masyrakat diajari memilah dan melih sampah untuk di olah. Sampah-sampah plastik dan logam yang sudah dipilah akan dinilai lebih tinggi harganya daripada sampah yang masih tercampur atau belum dipilah. Masyarakat minimal belajar mengelola sampahnya sendiri, sehingga tak akan menjadi permasalahan,namun menjadi simpanan berharga dikemudian hari.

Perjalanan kami lanjutkan kembali, kali ini kami dibawa untuk melihat coconet. Nama yang asing ditelinga, tetapi jika dicerna kira-kira adalah jaring kelapa, tetap saja susah dibayangkan. Coconet ternyata adalah jaring yang terbuat dari pintalan serat-serat serabut buah kelapa. Dengan mesin pemutar, serabut kelapa di pilon menjadi tali dengan diameter sekira 1 cm dengan panjang 15 m. Para pekerja sebagian besar adalah ibu-ibu rumah tangga yang tingga disekitar pengolahan coconet di Maluk.

1422675534317998158

Pembuatan coconet di awali dengan memilin serabut kelapa menjadi tali sepanjang 15 m (dok.pri).

Coconet pada dasarnya digunakan oleh PT.NNT untuk proses remidiasi lahan pascatambang. Untuk melindungi tanah dari abrasi sekaligus menguatkan tanah yang hendak ditanami digunakanlah jaring penutup dari jaring berbahan serabut-serabut kelapa. Dengan panjang 15 x 2 m, coconet ini dihargai 95 ribu jika dibuat siang hari, sedangkan pada malam hari 100 ribu rupiah. Dalam satu hari, tempat ini bisa menghasilkan 8-9 jaring dan hasilnya dibagi sama rata untuk 32 karyawan. Kebutuhan akan banyaknya jaring kelapa ini yang besar, maka di beberapa tempat di bangun usaha yang sama. Sebagian besar bahan pembuatan coconet ini didatangkan dari Lombok Timur.

14226756121143641591

Seorang karyawa sedang merajut tali-tali dari serabut kelapa menjadi jaring (dok.pri).

Di akhir perjalanan, saya melihat beberapa notifikasi sosial media di ponsel. Sesaat melihat, ternyata ada beberapa anak-anak tadi yang suda merespon pertanggung jawaban dari kami sebagai tukang jalan-jalan, memotret dan ngeblog. Sebuah harapan, ancaman kami kepada anak-anak ini menjadikan tantangan untuk berani mengekplorasi potensi daerahnya dan mengenalkan pada seluruh dunia, ini Sumbawa “add friend, confirm“.

Video ada di SINI

4 thoughts on “Tanggungjawab Travel-Blogger Untuk Sumbawa

  1. Semoga jejak yang ditinggalkan para Travel Blogger ini jadi api kecil yg akan membakar semangat anak-anak untuk mulai mengeksplorasi lingkungan mereka dan menceritakan pada dunia. Ngomong2 apakah sudah ada sambungan internet di sini, Mas?

  2. Awas jangan sampai semua apa yang ada di sini, kami duluan yang mempublikasikan dan mengenalkan pada semua orang. Seharusnya kalianlah yang mengeksplor semua potensi ini dan mengenalkan pada dunia, sebab kalian adalah pemiliknya“.

    nah lho Lulu, ayooo semakin rajin nulisnya, Sumbawa keceee…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s