Kisah Pencari Logam Mulia di Batu Hijau

a3

Pukul 03.10, suara menggelegar terdengar dari dalam pit. Sontak bumi bergetar dan kami yang menantikan detik-detik ledakan tersebut terkejut dan hanya bisa melihat kepulan asap putih dari jarak lebih dari 1,5km. Blasting, atau peledakan adalah salah satu cara untuk meremukan bebatuan agar mudah ditambang. “hampir setiap hari dilakukan blasting dengan dinamit, kebetulan hari ini hanya kecil saja ledakannya” kata pak Edi yang juga sama-sama terkejut begitu hendak melihat jam karena waktunya molor 10 menit.

Pagi buta menjelang subuh, tubuh ini harus dipaksa untuk bangun pagi. Guyuran air hangat membasahi tubuh sekaligus mengusir rasa kantuk. Setelah mengenakan pakaian lapangan, maka harus ditambah helm, kacamata dan rompi berwarna oranye. Dalam gelapnya pagi, manakala sang surya masih menyemburatkan secercah cahayanya rombongan korps rompi oranye berhelm putih sudah berjalan menuju mess hall.

“ID Card ini harus dipindai dulu agar bisa masuk dalam mess hall yang digunakan sebagai ruang makan. Jika ID Card ini hilang, ketinggalan, atau rusak makan makan bisa batal atau harus meminta teman untuk membungkuskan, tetapi sepertinya mustahil” kata pak Molet yang selalu mengingatkan tentan ID Card. Solusi cerdasnya cukup hafalkan nomer kode ID Card dan meminta petugas untuk meng-input secara manual. Kejadian tersebut seperti yang di alami teman saya karena kartunya terselip di belakang tirai jendela. ID Card tak sebatas urusan makan saja, tetapi semua aktivitas dipertambangan diakses dengan kartu pengenal tersebut, sehingga pegawai dituntut menjaga baik-baik karena sebagai nyawa serepnya.

1422412904799821411

Makan pagi bisa menjadi ajang diskusi dan curhat bagi mereka yang biasa sesehari di lapangan. Setelah seharian mengoprasikan kendaraan berat, makan ruang makanlahlah radevousnya. Terlihat sebuah haul tru yang sedang melintas dan sehari berjalan 24 jam (dok.pri).

Makan pagi adalah tempat reuni para pekerja tambang. Ruang bersosialita tepatnya karena semua obrolan bisa dilakukan di meja makan sambil mengunyah, sebab ditempat kerja hanya bisa lewat radio dan itupun terbatas. Pagi ini usai sarapan, bus dengan 4 percepatan sudah menunggu kami untuk menuju lokasi MMA. MMA (Mining Maintenance Area) yang sebagian berisikan orang-orang teknik, baik pertambangan, geologi, metalogi, mesin dan lain sebagainya menjadi perintis dalam pertambangam.

Geolog akan mensurvey sekaligus mengekplorasi lokasi-lokasi mana yang memiliki potensi menghasilkan bahan tambang. Mereka akan mengambil contoh dengan mengebor ratusan meter dibawah tanah dibeberapa titik lalu mensimulasikan kandungan logam mulia dan memetaknnya. Setelah dipetakan mereka akan menaksir seberapa besar potensi sumber mineral yang ada. Para ahli pertambangan akan mendisain bagaimana model penambangan, berikut dengan peralatan yang hendak dipakai, sedangkan para ahli logam akan mendisain bagaimana mengolah hasil tambang. Beberapa kepakaranilmu lain juga dihadirkan disini yang berkaitan dengan pertambangan, terutama dengan alat-alat berat yang ibarat monster-monster pemakan bebatuan.

14224130391172223138

Presentasi dari staff MMA tentang seputar pertambangan Batu Hijau (dok.pri)

Pagi ini pak Edi dan ibu Oni, bak duet maut dalam dunia tambang di PT.NNT. Mereka  menjelaskan bagaiamana awal mula tambang batu hijau ini dieksplorasi hingga dilakukan penambangan. Dengan logat Jawa yang kental pak Edi yang asli Yogyakarta begitu antusias dalam presentasi. Beliau menjelaskan bagimana 20 tahun yang lalu datang ditempat ini, lalu bersama para geolog menggali potensi tambang di Pulau Sumbawa.

14224137221120112065

Salah satu contoh batuan hasil pengeboran sedalam 80m di 21 cm, seperti yang terlihat pada label berwarna kuning 9dok.pri).

Cerita singkat tentang sebuah proses tembaga yang teroksidasi dan tercampur air akan berwana hijau. Warna hijau akibat oksidasi tembaga tersebut kemudian menyelimuti bebatuan yang ada di sekitar sungai, sehingga sepakatlah lokasi tersebut diberi nama Batu Hijau tanpa harus ada selamatan dan pembuatan akta kelahiran. Cerita kemudian berlanjut manakala beliau harus bekerja mengebor batu-batuan keras, yang harga sekali mengebor per meternya habis 25 juta rupiah, tinggal dikalikan berapa ratus meter yang dibor dan berapa puluh titik. Harga yang sangat mahal untuk mencari sesuatu yang berharga di dalam perut bumi.

14224131182106257750

Truk Haul melintas lereng pit. Terlihat tingkatan yang masing-masing setinggi 15m (dok.pri).

Kisah para pencari logam mulia dilanjutkan ibu Oni yang menceritakan tentang teknis pertambangan. Sisi feminim begitu terlihat walau bekerja dilokasi yang kebanyakan diisi kaum maskulin, tetapi di tangan dialah proses penambangan dilakukan. Proses awalnya adalah dengan pembukaan lahan, kemudian tanah lapisan atas di kumpulkan sebagai simpanan untuk meterial remidiasi lahan. Proses seanjutnya adalah penggalian bebatuan secara terbuka yang dinamakan open pit. Pit itu sendiri adalah lokasi pengerukan bahan tambang yang dibuuat secara melingkar mirip kerucut terbalik. Dengan alat berat berukuran puluhan meter batu-batu tersebut di angkut dengan truk haul yang sekali angkut sebanyak 240 ton.

Penyajian dari dewa-dewi tambang ini harus berakhir manakala jam makan siang datang, dan kebetulan ruang rapat hendak dipakai. Saya hanya diam dan menyimpan pertanyaan serta tidak bisa membayangkan apa yang sebenarnya ada di dalam dunia pertambangan. Sebuah nasi kotak, buah apel dan beberapa biskuit menutup pertemuan siang ini manakala pendamping kami Pak Molet, Fajri dan Ari memanggil kami untuk segera naik ke dalam bus.

1422413188839958888

Seorang peserta NewmontBootcamp sedang mencoba simulator haul truk. Rahma dengan mudah mengendalikan truk raksasa tersebut. Ada 11 wanita yang mengemudikan truk ini dari 100 lebih armada (dok.pri).

Bus yang kami tumpangi melaju pelan dan sang sopir matanya selalu waspada, karena yang dihadapi adalah haul truk yang ukuranya 5x lipat dari armadanya. Di sebuah pos penjagaan, bus kami berhenti karena harus melewati pos pemeriksaan. Bus melaju pelan sambil terus waspada melihat ke seluruh penjuru arah jalan, karena faktor keselamatan adalah yang utama. Saya tidak membayangkan jika monster-monster itu menggilas kendaraan-kendaraan kecil dibawahnya karena begitu besarnya, sehingga setiap kendaraan harus dipasang bendera lebih dari 4 m.

Tujuan pertama kali adalah untuk melihat fasilitas pelatihan bagi karyawan. Bangunan 2 lantai ini menjadi pusat pelatihan baik karyawan baru atau lama. Semua karyawan wajib hukumnya untuk mengikuti pelatihan, terutama karyawan baru, mereka yang lama istirahat, pasca kecelakaan dan program refreshing karyawan lama untuk evaluasi. “Standar penilaian di ruang pelatihan ini sangat ketat, dan untuk lulus harus nol kesalahan dan kecelakaan, jika tidak lulus bisa di ulang atau harus dimutasi atau diberhentikan” kaya pak Untung sebagai salah satu instruktur.

Sebuah ruangan mirip peti kemas menarik perhatian saya. Di dalam ruangan tersebut terdapat simulator haul truk. Sekilas mirip mainan seperti dalam pusat perbelanjaan. terdapat sebuah kabin dengan 1 tempat duduk yang depannya ada dasboard truk, lalu di sekalilingnya depan dan samping terdapat monitor berukuran besar sebagai jendela truk. Inilah awal untuk menjadi sopir truk raksasa ini. Alat simulator ini dirancang kusus untuk mensimulasikan berbagai keadaan dilapangan berkaitan dengan oprasional truk haul. Walau lewat simulator, Rahma nampak antusias mengemudikan truk seharga puluhan miliar ini dalam kondisi hujan walau akhirnya menabrak tebing batu dan kursi bergoyang. Sungguh mainan yang mahal.

Tak lama berselang, kami harus segera meninggalkan camp pelatihan ini untuk meneruskan kunjungan kami. Bus yang membawa kami harus membuntuti haul truk yang berjalan didepan kami dengan menjaga jarak aman 8x panjang bus. Kami berhenti disebuah hutan kecil yang merupakan hasil remidiasi lahan pasca tambang. Beberapa spesies tanaman seperti, Jabon, Lamtoro, Sengon, Gamal dan bermacam jenis semak tumbuh baik ditempat ini. Suara burung dan serangga bersahut-sahutan yang menjadi indikator baiknya ekosistem untuk habitat mereka.

14224133091670159526

Pusat lubang pit yang berisi ari berwarna biru laut. Warna biru laut ini dihasilkan dari logam-logam yang larut dalam air dan teroksidadi. Nampak pipa-pipa panjang yang berguna menydot ari ini dan memompanya keluar pit. (dok.pri).

Kamipun melanjutkan penjelajahan kami dan saat yang kami tunggu-tunggu tiba juga, yakni melihat lubang raksasa. Kami berhenti dan turun di posko pemantuan yang sedalam 240 m dari muka tanah. Dari sini kami bisa memandang aktivitas di dalam pit. Truk-truk haul nampak berjalan pelan dan beriringan sambil membawa muatanya. Bola-bola pelampung berwarna oranye salin terhubung dari pipa-pipa HDPE untuk menyedot air yang menggenangi pusat pit.

Kami benar-benar terpukau dengan pemandangan yang tak sembarang orang bisa lihat, bahkan berdiri ditempat ini. Pak Edi dan ibu Oni yang menemani kunjungan dengan semangat menjelaskan kami seputar pekerjaan mereka yang menggali perut bumi. Saya teringat monitor besar dekat MMA yang menuliskan jadwal Blasting pukul 03.00, tetapi waktunya sudah terlewat dan kemungkinan dibatalkan. Sepetinya telinga operator juru bom ini panas, maka 10 menit kemudian ledakan dasyat mengguncang dinding pit. Kecepatan suara 340 m/s membaut kami 4 detik terlambat mendengar manakala asap putih sudah mengepul sembari di iringi hujan rintik-rintik.

14224134341496887676

Mimpi saya menjadi kenyataan duduk di ruang kabin haul truk, walau sedang di parkiri (dok.pri)

Akhirnya salah satu mimpi saya dikabulkan untuk melihat kendaraan raksasa dari dekat. Dengan dimensi panjang 11x5x7 m truk ini menjadi ikonnya dunia pertambangan, sekaligus sebuah prestis tersendiri. Lebih dari 100 armada dikerahkan PT.NNT untuk mengangkut bebatuan dari perut bumi menuju lokasi pengolahan. Rasa penasaran saya terbayar sudah manakala bisa menyentuh roda setinggi 3x tubuh saya, lalu naik ke ruang kemudi dan duduk dalam kabinnya. Saya berani bertaruh, tak semua orang yang bekerja di tambang ini bisa duduk memegang setir, menyentuh dasboard, menginjak gas dan berteriak seperti anak kecil menemukan mainan baru seharga puluhan miliar rupiah, bahkan 1 rodanya saja bisa mendapat mobil seharga 300an juta.

14224136451605336167

Komparasi haul truk dengan tubuh manusia. Walaupun sudah melompat, tetap saja dia masih kendaraan raksasa (dok.pri).

Usai berjibaku dengan monster pemakan dan pengangkut batuan saatnya kami harus belajar tentang bebatuan dalam perut bumi. Setelah berpamitan dengan ibu Oni saatnya kami berguru dari pak Edi sang begawan geologi. Ada yang berbisi “di sini dia dewa batunya” dan saya hanya mengangguk sambil tertawa. Dia menjelaskan tentang koleksinya berupa batangan batu-batu hasil pengeboran ratusan dalam perut bumi. Dari sinilah data perut bumi di batu hijau dikumpulkan, dipetakan lalu dikalkulasi berapa kira-kira jumlah logan berharganya.

14224135311259648359

Pak Edi menjelaskan tentang pirit, yakni urat-urat logam mulia yang salah satunya adalah emas (dok.pri).

Batu besar berukuran hampir 1,5 diameternya menjadi akhir pertemuan kami menjelang petang ini. Batu yang sudah terbelah ini terdapat guratan-guratan hitam yang kata pak Edi itu adalah pirit atau urat-urat emas dan logam lainnya, sambil menunjukan batu berkilauan yang mengandung logam ferum. Saya hanya terdiam, membayangkan bagaimana proses terjadinya hingga kini hadir menjadi bahan pesolek manusia dalam bentuk logam mulia.

1422413798642740504

Salah satu logam dalam batuan (dok.pri).

Videoa Ada di SINI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s