Limousine Sang Blantik

IMG_3438

Nampak seorang blantik sedang menarik limousinnya ke ruang penimbangan, setelah sebelumnya susah payah menurunkannya dari bak truk. “7,5 kuintal bobotnya” kata sang blantik sembari tersenyum lalu menarik sang limousin menuju ruang pamernya. Langkah kakinya yang pelan, namun mantap dan tubuh yang kekar harus berjalan mengikuti tali kekang yang mengikat leher dan menembus hidungnya. Harga pembuka sebesar 29,5 juta ditawarkan untuk menebus limousin dan berdatanganlah para blantik yang ingin mencari peruntungan pagi ini di Pasar Hewan Ambarawa menjelang pasaran pon pada penganggalan Jawa.

Pasar Pon begitu lebih familiar untuk menyebut nama pasar hewan terbesar di kabupaten Semarang ini yang terletak di kecamatan Ambarawa. Pasar ini memiliki puncak pada pasaran Pon menurut penanggalan jawa, atau setiap 5 hari sekali setelah wage, kliwon, legi, pahing. Pada hari-hari biasa pasar hewan ini tetap buka, namun hanya pedagang burung dan unggas saja yang berjualan, sedangkan sapi dan kambing hanya pada pasaran pon saja.

14206810801155849023

Dengan susah payah, pemilik sapi menggiring sapi-sapinya untuk masuk di pasar hewan Ambarawa (dok.pri).

Merdu suara beraneka jenis burung memenuhi sisi selatan pasar, bahkan jajaran terungku membludak hingga ke tepi jalan utama yang mengubungkan Bawen dengan Magelang. Burung-burung disini bebas diperjual belikan, tanpa harus melihat apakah kadang masuk daftar yang dilindungi, lanka atau hampir punah. Sebagian besar burung yang diperjual belikan adalah burung haris penangkaran, walau ada beberapa jenis burung hasil tangkapan dari alam liar.

Burung-burung hasil penangkaran seperti parkit, kenari, perkutut, merpati, love bird dapat mudah ditemukan karena jumlahnya yang cukup banyak. Berbeda dengan burung hasil dari tangkapan dari alam liar seperti, pentet, trocok, atau kutilang jumlanya tidak menentu karena tergantung dari hasil tangkapan pemburu dengan cara menjaring atau dengan lem.  Beraneka jenis kurungan juga diperjual belikan disini begitu juga dengan jenis makanan burung.

1420681143460569634

Limousin yang berjajar (kanan) nampak kontras dengan sapi lokal (kiri) jika dilihat dari bentuk tubuhnya. (dok.pri).

Suara lenguhan sapi bersahut-sahutan di sisi timur laut pasar pon. Ratusan sapi-sapi berbagai ukuran dan ras di jajakan di sana. Di area parkir nampak berjajar truk-truk bak terbuka nampak sibuk mengatur kendaraannya agar bisa menurunkan sapi-sapi yang dimuatnya. Nampak seekor sapi limousin yang bertubuh besar akan diturunkan. Dibutuhkan 3 orang untuk menurukan sapi berbobot ratusan kilo ini turun dari truk. Seorang bertugas menarik tali kekang, seorang lagi mengatur arah sapi dan seorang sisanya mendorong dari belakang dan bila perlu mencambuknya dengan cemeti.

1420681206476094046

Bakalan limousin yang sudah memiliki harga selangit walau masih kecil (dok.pri).

Setelah bersusah payah payah akhirnya bisa membawa sapi (Bos turus) ke penimbangan dan pagi ini rekor sapi terberat adalah 7,5 kuintal. Sapi pedaging dari perancis ini lantas dibanderl harga sebesar 29,5 juta. Tak berapa lama beberapa blantik atau pedagang sapi, kambing atau kerbau mengerumuni untuk menawar sekaligus memeriksa kondisi fisik sapi. Sepertinya para blantik sudah hafal betul dengan sapi-sapi berkualitas baik. Beberapa kali blantik mencubit-cubit kulit sapi, ingin memastikan seberapa tebal lapisan otot/daging.

Tak berselang lama puluhan limousin pun berdatangan di ruang pamer untuk dijual. Rata-rata berat diatas setengah ton dan dihargai diatas sepuluh juta rupiah. Di sisi barat nampak limousin-limousin yang masih kecil dan siap menjadi bibit sapi pedaging yang unggul dan tentu saja memiliki harga jual yang tinggi dibanding sapi ras lain. Di blok yang lain sapi pedaging bramhan, lokal/jawa, dan kebau  yang juga dijajakan. Ada pula sapi perah yang para pedagang menyebutknya dengan sapi setrolo, yang konon sapi jenis ini berasal dari Australia  (Australian Milking Zebu).

14206814471653391905

Sapi perah dari australia ini ditawar dengan harga diatas 10juta (dok.pri).

Usai melihat harga-harga sapi yang selangit ada aroma makanan yang sangat familiar, yakni sate kambing. Kali ini tidak hanya semata-mata sate kambing, tetapi berbagai jenis kambing diperjual belikan disini. Wedus gembel atau biri-biri nampak susah payah turun dari tangga saat seorang nenek menariknya menuju dalam pasar. Ada juga kambing yang nampak beringas melihat disampingnya ada kambing dengan bada sepantaran, lantas adu tanduklah yang terjadi dan para pemiliknya dibuat repot untuk melerai, Kambing yang sedang masa birahi nampak berkali-kali mencoba menaiki kambing betina disampingnya sambil menghirup harumnya sate kambing.

14206812961875902553

Berbagai ras kambing juga ikut meramaikan pasar pon pagi ini (dok.pri).

Salah seorang yang sedari tadi mengamati jajaran kambing yang diikat tali kekang nampak kebingungan begitu saya tanya tentang kambing. Ternyata dia sama sekali tak mengeri tentang kambing, tetapi saat itu hendak membeli seekor kambing etawa. Dia mengajak ayahnya yang seorang blantik.Wajahnya yang sudah keriput tak menyiratkan aura seramnya sebagai seorang blantik manakala ingin menawar harga kambing. Seekor etawa yang dihargai 3,5 juta oleh pemiliknya berhasil dia tawar 3 juta untuk anaknya agar bisa dibawa pulang.

1420681354500277332

Sejenak menikmati sate kambing sambil melihat tingkah polah kambing (dok.pri).

Usai menikmati aroma daging kambing, riuh suara unggas bersahut-sahutan. Aroma kambing sepertinya masih kalah dengan aroma unggas, karena nampak beberapa orang menutup hidungnya. Seorang juragan bebek nampak sibuk seperti pengendali kulitas pada sebuah pabrik. Dia melihat dan memilah-milah bebek-bebek mana yang bagus lalu memisahkannya dalam kandang tersendiril. dalam satu genggaman dia mampu memegang 3-5 leher bebek. Sepertinya kejam dalam membawa bebek, namun itulah cara memindahkan bebek yakni dengan memegangi lehernya.

1420681402217233390

Cara praktis dalam membawa bebek (dok.pri).

Lain cerita dengan seorang ibu-ibu yang setiap harinya berkutat dengan ayam-ayam kampung. Permintaan ayam kampung yang setiap harinya meningkat untuk memasuk rumah-rumah makan semakin meningkat terlebih menjelang liburan atau akhir pekan. Saya hanya berncanda “tidak takut dengan flu burung..?”, dia hanya menjawab “flu burung yang takut sama saya, karena bisa saya obral murah meriah”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s