Kay Pang Petak Sembilan

Seorang pemuda keturuan Tionghoa memasuki gerbang Vihara Dharma Bakti. Cuaca yang panas, dia menyegarkan dengan minuman yang dingin. Di depannya nampak para pengemis yang sedang berteduh di bawah pohon (dok.pri).

Seorang pemuda keturuan Tionghoa memasuki gerbang Vihara Dharma Bakti. Cuaca yang panas, dia menyegarkan dengan minuman yang dingin. Di depannya nampak para pengemis yang sedang berteduh di bawah pohon (dok.pri).

Mereka ini siapa cak..?” saya bertanya keepada teman saya dari Malang yang sudah menetap lama di ibu kota. Hanya satu kata yang muncul dari dia, dengan lugas, ceplas-ceplos apa adanya khas jawa timuran dia menjawab “kay pang“. Tiba-tiapa saya tertawa sambil mengingat sebuah film tiongkok yang menceritakan kehidupan para pendekar masa lalu. Dibalik tawa saya, sisi hati saya yang lain merasa ada sebuah ketimpangan sosial dan sangat mirip-mirip dengan film-film tiongkok kuno dan disini benar-benar terasa auranya, yakni petak sembilan.

Hilir mudik orang di kawasan pecinan di petak sembilan untuk mengadu keberuntungan. Nampak kakek nenek renta yang dilihat dari fisiknya adalah keturunan tiong hoa sedang berteduh dibawah payung sambil menunggui dagangannya. Mereka yang masih muda beradu otot mengangkut barang-barang dagangan keluar masuk toko dengan ornamen merah dan bau hio yang harum menyengat. Orang-orang non keturunan tionghoa juga turut serta mengadu keberuntungan untuk mencari rejeki dan berdiri menjadi kaum minoritas di kawasan itu.

14171417401832016447

Langkah kaki saya membawa pada sebuah realita kehidupan di petak sembilan. Ada mereka yang duduk manis karena melihat dagangannya laris. Ada mereka yang berteriak mencari pembeli hingga suara pekak. Ada juga yang nampak pasrah dengan nasib sebab tidak ada cara lain selain mengharap belas kasihan pada mereka yang beruntung. Kenyataan pahit manisnya kehidupan tergambar jelas ini, dan bisa dilihat dengan mata kepala dan dirasa dengan semua indera.

Mendengar Kay Pang, pasti sepintas teringat dengan cerita para pendekar dari tiongkok. Kay pang di identikan dengan partai pengemis, yakni segerombolan orang-orang yang mimiliki nasib sama yakni sebagai pengemis. Pengemis hanyalah kumpulan nasib, tetapi dalam urusan bela diri mereka juga jago-jago bahkan bisa mengalahkan beberapa jawara kungfu. Kay Pang di petak sembilan bukanlah seperti dalam film-film kuno berlatar belakang negeri tirai bambu, namun sebuah realita sosial di ibu kota negara ini.

1417141863360775414

Sebuah Vihara Dharma bakti menjadi bukti kemiripan bahwa film-film seperti pendekar rajawali lengkap dengan Kay Pang-nya. Dalam film laga tersebut partai pengemis, walau sebagai peminta-peminta tetapi berani melawan saat tubuh dan harga diri ini terancam. Mereka juga memiliki kemampuan yang mumpuni, baik dalam organisasi, dalam dunia politik, pengetahuan bahkan olah kanuragan. Tanpa merendahkan kaum pengemis, tetapi mereka memiliki harga diri dan gengsi, bahkan kemampuan. Namun realita sekarang berbeda, pengemis bukanlah partai tetapi sebuah pilihan hidup.

Tanpa bermaksud merendahkan pengemis, sebab tidak semua pengemis memiliki nasib yang mengenaskan. Beberapa pemberitaan di media masa mengabarkan ada pengemis dengan rumah gedongan dan kendaraan yang bagus dan pendapatannya bisa mengalahkan pegawai kantoran. Sangat sudah mendifinisikan pengemis antara sebuah kepasrahan hidup atau sebuah profesi kehidupan. Jika mendengar pemberitaan tentang kampung pengemis dengan rumah-rumah yang cukup mewah dan beragam fasilitas, sepertinya tidak ada rasa kasihan terhadap mereka. Namun jika melihat dilapangan acapkali iba melihat tangan menengadah meminta belas kasihan. Inilah ironi sekaligus realita kehidupan dan semua orang bebas menentukan beberapa pilihannya.

14171419701692033171

Di wihara ini saya melihat deretan para pengemis dari pintu gerbang hingga pelataran. Banyak sekali pengemis dan sepertinya susah memilah-milah pengemis ini. Namun jika sepintas melihat, ada mereka yang buta duduk diam di sudut gerbang. Ada ibu-ibu dengan kulit hitam legam dan tubuh suburnya bersandar pada dinding tembok pembatas jalan. Ada juga pemuda yang sepertinya tidak malu menengadahkan tangan kanan, sedang tangan kiri memegang ponsel pintar. Ada juga yang pasrah sambil berteduh di bawah pohon dengan pakain lusuhnya. Saya tidak membayangkan jika para pengemis ini ternyata kenal satu sama lainnya, lalu mereka membuat sebuah paguyuban, bisa jadi menjadi Kay Pang Petak Sembilan.

1417142038566748505

Saya mencoba berjalan di sela-sela para pengemis untuk melihat aktivitas di dalam vihara. Ternyata banyak juga yang sedang sembahyang. Mulut dan hidung saya harus berebut oksigen dengan api yang membakar hio dan lilin. Asap-asap hio nampak mengepul memenuhi ruangan dan aroma harum yang kental begitu menyengat hingga membuat yang tidak biasa akan pening di kepala. Mereka yang tua dan muda tumpah ruah disana untuk bersembahyang dengan memohon untuk setiap doa dan harapannya. Dari dalam vihara yang gelap dan remang-remang saya melihat wajah-wajah oriental yang optimis dalam melakoni sebagai  pejuang kehidupan . Nampak kontras dengan yang diluar sana, wajah-wajah khas melayu yang nampak pasrah dengan keadaan dan perjuangannya hanya untuk hidup dari belas kasihan.

Entah kepada siapa bertanya siapa yang bertanggung jawab tentang realitas sosial ini. Terlalu sayang juga meminta pada pemerintah setempat juga untuk mengatasi permasalahan ini. Dinas sosial beberapa kali berburu, namun hasil buruannya dilepaskan kembali dan kembali lagi seperti sebelumnya. Jika mengemis adalah profesi, maka tidak salah jika dibeberapa daerah sudah membuat peraturan daerah tentang larangan memberikan sedekah. Berbeda jika mengemis adalah desakan kehidupan, maka tugas pemerintah dan mereka yang beruntunglah untuk mengentaskan nasib mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s