Candi Ceto Harmoni Hindu, Jawa, dan Bali

IMG_2520

Terdengar suara khas berklogat Bali, “Ayo anak-anak sembahyang di althar Dewi Saraswati, biar kalian pinthar dan cerdas di sekolah,” begitu kata Pak Ketut kepada anak dan beberapa keponakannya. Mereka pun langsung nurut dan segera sujud di depan Altar Dewi ilmu pengetahuan ini untuk bersembahyang. Itulah salah satu bagian dari sembahnya umat Hindu yang jauh-jauh dari Bali untuk bersembahyang di Candi Ceto di lereng Gunung Lawu, Jawa Tengah. Sebelum sampai sini mereka sudah dari pura-pura yang tersebar di beberapa kabupaten di Jawa Timur seperti, Banyuwangi, Lumajang, dan Kediri.

Halimun pagi ini masih menyelimuti perkebunan teh Kemuning. Sang Surya masih bersembunyi di balik megahnya Gunung Lawu yang menjadi patok pembatas Jawa Tengah dan Jawa Timur. Terlihat beberapa pekerja perkebunan teh mulai berangkat untuk bekerja. Hilir-mudik kendaraan roda dua yang dimodifikasi menjadi motor trail dengan suara meraung-raung membelah karpet hijau dari Thea sinensis. Perlahan semburat cahaya dari ufuk timur di punggung Hargo Dumilah mulai menyibak keremangan berubah menjadi terang-benderang. Menyambut pagi di kebun teh Kemuning bersama mentari yang semakin hangat cahayanya.

1416882237219961727

Perlahan-lahan kendaraan yang kami tumpangi disalib beberapa mini bus bernomor polisi DK. Dari dalam bus terlihat penumpang dengan berpakaian serbaputih. Para lelaki terlihat mengenakan udeng/ikat kepala dan kaum perempuan memakai sanggul. Kami berkejar-kejaran untuk mengikuti rombongan ini hendak ke mana. Papan petunjuk Candi Ceto dilewati bus-bus dari Bali menandakan mereka akan beribadah di candi.

Di sebuah pelataran parkir sudah berjajar bus-bus berpelat nomor DK dan penumpangnya sudah turun. Beberapa penumpangnya terlihat masih mengerubungi penjaja suvenir khas Candi Ceto di gerbang pintu masuk. Suvenir berupa perhiasan dari kuningan dan batu-batu lintang semua bernuansakan Hindu. Nampak miniatur patung Dewa Wisnu, Shiwa, Brahma, Saraswati, dan Ganesha yang mudah dilihat dari bentuknya.

14168823161562768831

Perlahan saya mengikuti rombongan ini sambil berjalan di sampingnya dengan tetap menjaga jarak agar tidak mengganggu. Kepada salah seorang yang di depan saya bertanya apakah boleh melihat prosesi sembahyang dan memotretnya? Permintaan saya dikabulkan agar tetap menjaga jarak agar tidak mengganggu jalannya ibadah. Di pelataran candi pertama mereka berhenti lalu duduk bersimpuh menghadap ke timur pada sebuah altar. Terlihat mereka mengeluarkan sesaji dan beberapa dupa lalu dinyalakan. Asap putih beraroma wangi menyengat langsung mengepul dan semerbak memenuhi seluruh pelataran candi.

1416882413864273595

Ini obyek bagus kalau mau difoto,” kata seorang umat yang mengerti apa yang ingin saya ambil gambarnya. Perlahan saya mendekat dan beberapa gambar bisa saya dapatkan dengan jarak yang sangat dekat. Saya duduk bersimpuh, memotret sambil mendengarkan lantunan doa-doa mereka yang penuh dengan aura spiritual. Nampak seorang pemimpin ibadah, kalau tidak salah sebut adalah seorang pedande sedang memercikkan air suci kepada umat. Sesaat suasana hening dan berakhir ibadahnya lalu melanjutkan ibadah di tempat altar lain.

Perlahan mereka berjalan menuju altar Dewi Saraswati yang terletak di ujung atas kompleks Candi Ceto. Aroma bunga puspa (Schima wallichii) menambah wanginya dupa yang dibakar di beberapa sudut altar candi. Usai sembahyang di altar Dewi Saraswati lalu mereka menuju sebuah mata air dan sebuah rumah panggung untuk meletakkan sesaji. Tak berapa lama mereka turun untuk menuju pura utama di Candi Ceto. Kali ini seorang penjaga menghampiri saya dan berkata, “Mohon maaf, selain yang beribadah cukup sampai di sini ya?” sambil menunjuk gerbang kecil sebagai pintu masuk dan keluar dari altar. Saya duduk bersama seorang penjaga sambil mendengarkan lantunan doa-doa dan suara lonceng yang berdentang.

14168825061533084206

Tak lama kemudian datanglah rombongan lain yang ingin sembahyang, namun mereka berhenti di pendopo untuk menunggu giliran. Saya lantas berbincang dengan salah satu rombongan. Ternyata mereka adalah dari keluarga besar Pasek yang tersebar dan tinggal di Bali. Keluarga besar ini melakukan wisata rohani, yakni mengunjungi pura-pura yang ada di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Mereka jauh-jauh dari Bali sebuah pulau seribu pura tetapi datang di sebuah tempat yang hanya ada beberapa pura. Obrolan singkat didapat sebuah kesimpulan bahwa mereka ingin berziarah di leluhur mereka yang konon berasal dari Jawa dan akibat perang saudara pada zaman Majapahit mereka harus berpindah ke Bali.

1416882563335560342

Candi Ceto merupakan salah satu candi bercorak Hindu yang dibangun sekitar abad 15 pada masa Kerajaan Majapahit. Awalnya candi ini hanyalah sebuah reruntuhan kompleks candi dan dilakukan rekonstruksi dan pemugaran. Beberapa arca yang dijumpai benar-benar menunjukkan nuansa Hindu dalam candi ini. Aroma Hindu lebih terasa manakala pada saat pemugara dibangun gapura yang tinggi menjulang mirip dengan gapura yang ada di Bali. Pembangunan gapura ini konon mendapat tentangan dari arkeolog karena kurang memperhatikan bentuk asli candi.

Candi yang terletak di Desa Ceto, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar-Jawa Tengan menjadi tempat tujuan ibadah dan wisata religi. Dari Kota Solo menuju arah Karang Anyar lalu dilanjutkan menuju Karangpandan. Sebuah gerbang bertuliskan Candi Ceto dan Sukuh akan mengantarkan menuju lokasi. Hawa sangat sejuk menuju lokasi Candi Ceto karena akan melewati hijaunya perkebunan teh Kemuning di ketinggian 1.400 mdpl.

1416882644816652949

Nuansa Hindu begitu terasa kental mengingat pembangunan candi ini adalah saat Hindu memberikan pengaruh besar pada Kerajaan Singosari dan Majapahit. Sungguh unik di Jawa Tengah dengan Hindu yang menjadi minoritas tetapi benar-benar memberi warna pada peninggalan sejarahnya. Kalender ibadah untuk umat Hindu terdapat di gerbang masuk candi, jika ingin berkunjung dan ingin melihat prosesinya datanglah sesuai dengan jadwal dan rasakan nuansa Bali di tanah Jawa.

4 thoughts on “Candi Ceto Harmoni Hindu, Jawa, dan Bali

  1. I’m very familiar with this compound, so yes, I can say that the “restoration” is a total fuck-up, archeologically-speaking. It was started by Sudjono Humardani, Soeharto’s assistant, and it changed the compound’s original structure. Some people said it was done by private order from Soeharto himself to Sudjono.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s