Terjebak di Fort Santiago Sambil Menikmati Balot Sampai Mabuk

IMG_1909

Malam yang tenang di Bluewater Panglao (dok.pri).

Malam yang dingin, hempasan angin laut dan suara deburan ombak di bawah gemintang yang gemerlap. Sebuah tempat yang tenang di sisi timur pulau Bohol, dimanjakan oleh fasilitas yang ada. Api unggun yang menghangatkan tubuh serasa mengusir hawa dingin, namun tubuh ini semakin panas manakala juru tuang, si Tina asa Vietnam selalu menambahkan minuman apa yang dicampurnya, mana kala melihat gelas saya sudah kosong. Yang pasti alkohol dalam jumlah yang cukup lumayan sudah mengalir dalam tubuh dan tiba-tiba limbung dan pagi menjelang.

IMG_1944

Pagi yang cerah di belakang resort (dok.pri).

Pagi yang cerah dan hawa panas segera menyeruak. Badan yang segar setelah semalam ikut kondangan alat budaya barat dimana terjebak dalam pepatah dimana langit dijunjung disitu bumi dipijak. Segera mengemas barang-barang yang tersebar di lantai resort yang seumur-umur menjadi rumah paling mewah yang saya inapi. Pukul 10.00 bus sudah menjemput kami untuk mengantar menuju bandara Tagbilaran. Hari ini harus segera kembali ke Manila untuk menuju destinasi selanjutnya.

Efek kepala yang masih pusing gegara minuman semalam membawa saya dalam kantung sambil menikmati tembang kenangan dalam bahasa Tagalog. Dari alunan musik saya bisa merasakan suasana yang romantis walau tak paham apa arti lagu tersebut. Bus berhenti di gerbang bandara, dan segera kami berpindah untuk segera masuk dalam bandara karena 1 jam lagi pesawat akan terbang. Satu perstu barang masuk dalam mesin pemindai begitu juga penumpang.

IMG_2033

Bangunan tua di tengah manila (Dok.pri).

Dalam ruang tunggu, ada informasi bahwa pesawat mengalami penundaan sekitar 1 jam. Rasa bosan dan jenuh langsung hinggap manakala tidak ada pekerjaan selain menunggu. Boneka tarsius yang mungil ini ternyata menjadi teman yang menyenangkan dalam suasana yang membosankan. Tarsius adalah binatang khas Bohol dan ada juga di Sulawesi, tetapi di sini benar-benar menjadi maskot untuk kota ini.

Akhirnya panggilan untuk masuk pesawat sudah terdengar dan kaki ini mulai melangkah menunu anak tangga pesawat. Burung besi saatnya untuk terbang menuju manila sambil mendengarkan instruksi pramugari tentang keselamatan dengan menggunakan bahasa tagalok yang bisa saya pahami hanya kata-kata terakhir “maraming salamat po”. Penerbangan dari tagbilara menuju manila ditempuh selama 1 jam 15 menit dalam kondisi cuaca yang baik, namun kondisi kepala yang masih pening.

IMG_1985

Fort Santiago yang dikelilingi kolam (dok.pri).

Akhirnya burung besi milik maskapai Filipina mendarat di bandara Nino Aquino dengan mulus. Setelah mengambil barang di bagasi, kini saatnya makan siang. Saya dan teman-teman diajak makan di restoran yang menyajikan menu ikan laut. Dampa yang artinya pondok kecil, demikian nama tempat ini yang khas menjajakan makanan laut. Ikan-ikan segar, kepiting yang masih hidup, lobster yang warnanya masih cerah dan beberapa ikan beku di pajang didepan kamu. Kami tinggal memilih mana yang disuka, lalu pesan hendak dimasak model apa. Saya yang tak mengerti cukup bilang “saya sama dengan dia”, kalaupun tidak enak minimal ada temannya.

Makan siang yang luar biasa sampai bingung cara menghabiskannya. Lalu di tengah-tengah kami terseok-seok menghabiskan makan siang, kami dari beberapa negara saling bertanya apa bahasa kalian untuk “enak sekali”. Mulut ini spontan berkata mirip juru cicip Bondan Winarno “mak nyuss”, sedangkan teman dari Malaysia saking enaknya berkata “sedah gila babi”. Teman dari Filipina dengan bahasa tagaloknya mengatakan enak dengan “masarap”, dari Singapura “sham shiok”, sedangkan dari Vietnam “Jek-ngang” dan dari Taiwan “hau-chu”. Sayang sekali teman dari India tidak hadir bersama kami, karena mereka vegatarian dan harus mencari makanan di tempat lain, mungkin “nehi acha acha”.

Saatnya kembali melanjutkan perjalanan menuju destinasi wisata sejarah yang terkenal di Filipina, yakni benteng Santiago di Intramuros. Dalam perjalanan ke sana , bus yang kami tumpangi melewati sisi barat manila berupa pantai. Saat itu terlihat matari yang mulai condong ke horison. Bus melewati bangunan-bangunan tua khas Eropa dengan pilar yang tinggi, kubah yang menjulang ke langit dan penuh nuansa seni. Akhirnya sampai juga di depan benteng Santiago. Dulu benteng ini digunakan sebagai tempat pertahanan diri untuk melindungi pusat kota Manila dari penjajahan Spanyol.

IMG_1986

Pintu Gerbang Fort Santiago yang ditenganya terdapat jejak-jejak kaki didetik-detik terakhir Jose Rizal (dok.pri).

Kaki saya masuk pada sebuah pintu gerbang yang besar, namun mata saya terfokus pada jejak-jejak kaki yang terbuat dari logam. Langkah-langkah kecil coba saya ikuti jejak tersebut dengan menginjakan telapak sepatu saya. Saya agak kesusahan menirukan irama jejak tersebut. Langkahnya terlalu kecil. Di depan sana yang kanan dan kirinya terdapat taman, jejak kaki ini masih panjang dan berbelok ke arah kanan. Saya mengikuti dengan pelan dan akhirnya berhenti tepat di depan jeruji besi.

Inilah kisah dari Jose Rizal, seorang pahlawan dan pemimpin revolusi. Penjara ini menjadi saksi perjuangan dia, yang akhirnya di ekseskusi pada 30 Desember 1896. Jejak kaki dia adalah langkah terakhirnya dan menjadi awal dari langkah untuk perjuangan selanjutnya. Kaki saya kontak bergetar mendengar cerita tersebut dan tak membayangkan langkah-langkah kecil tersebut adalah hitungan waktu mundur untuk Jose Rizal.

IMG_1993

Langkah pertama sebelum Jose Rizal di ekseskusi (dok.pri).

Usai melihat kepahlawanan Jose Rizal kami berkeliling benteng tua ini yang berada di pinggir sungai Phesing yang merupakan sungai terbesar di sana. Saya berdiri di atas benteng untuk melihat kemegahan tempat ini. nampak di pinggir jalan ada sebuah bangunan yang merupakan penjara bawah tanah. Konon ini adalah tempat yang paling kejam, dimana tawanana akan di kurung dan di rendam di tempat ini. Tak membayangkan pada masa itu, yang pasti saksi bisu ini bisa bercerita dengan jelas.

IMG_2023

Sungai Phesing tepat di sisi benteng dan terlihat kota manila menjelang senja (dok.pri).

Dari tepi sungai Phesing, kaki saya terus berjalan menuju sebuah bangunan yang pada waktu itu akan digunakan untuk konser musik dan pergaan busana. Tiba-tiba ada yang teriak “baloot.. balooot”, tanpa mengerti apa artinya tangan saya langsung ditarik Misha yang menjadi pembawa acara. Di depan kamera saya harus memakan balut, salah satu makanan khas Filipina yang sebenarnya juga terkenal di Vietnam dan Thailand.

1538667_10154169261612355_508116907_n

Balot, makanan khas dari Filipina (dok. yahoofunambassador.group).

Balut adalah telur bebek yang sudah dibuahi dan sudah menjadi embrio berumur 15an hari. Telur tersebut direbus dan dijadikan hidangan yang istimewa. Karena sudah kepalang tanggung dan didepan kamera pula, akhirnya harus saya jalani. Telur harus dipecahkan dan dikuliti. Nampak embrio “meri” yang sudah berbulu halus, kepala yang masih bengkok dan kuning telur yang masih utuh. Sebuah tantangan dan harus di makan. Beberapa tetes vinegar dan kecap ditambahkan untuk memberi rasa pada balut. Saya hanya berkta “just one and no more”. Awalnya menjijikan dan begitu merasakan, tidak menyesal sudah memakannya.

IMG_2004

Diluar tampilannya yang menjijikan, enak juga balot (dok.pri).

Dendam akan balut akan di balas saat kami harus segera naik bus. Kali ini bus akan membawa kami menuju Sky Deck Restauran, masih di Intramuras. Rumah makan ini terletak di atas gedung pencakar langit. Di atas kami adalah langit terbuka tanpa ada atap dan kami akan segera bersantap. Menu yang disajikan bernacam-macam, yang pasti saya tidak tahu namanya. Saya hanya bisa ngekor teman-teman yang sudah pengalaman, walau kadang salah ambil menu. Langit yang gelap sangat indah, karena lampu-lampu di Manila terlihat dengan jelas dan terang. Di bawah gedung ini terdapat lapangan golf dan di depannya berdiri gedung-gedung pencakar langit yang megah. Makan malam yang tak akan terlupakan, dan tidak mungkin saya bersantap di sini jika tidak di bayari kementrian pariwisata Filipina dan Yahoo.

IMG_2042

Makan malam terakhir bersama teman-teman se asia (dok.pri).

Usai makan malam, segera kami diantar menuju hotel metro manila. Pesan yang saya ingat hanya “kita kumpul pukul 10 dengan pakaian resmi”. Dalam benak saya, pasti akan di ajak ketemu dengan orang penting. Sayapun dengan lenggang kangkung mondar-mandir di depan kaca sambil melihat batik yang saya kenakan. Tepat pukul 10,kami bertemu di lobi hotel. Tak disangka, ada sebuah mobil minibus dengan disain mewah menghampiri kami. Suara dentuman house music terdengar mantap dan kami masuk satu persatu.

Selangkah kaki memasuki kendaraan, saya langsung disodori minuman selamat datang oleh 2 perempuan dengan pakaian yang sangat minim bahannya. Tanpa basa-basi segelas minuman saya tenggak sekaligus. Tenggorokan rasanya mau terbakar dan mata langsung merah padam. Ternyata malam ini kami akan di jamu di beberapa tempat hiburan malam. Kembali kami di sodori minuman, kali ini dari botolnya langsung. Melihat gaya saya, ada yang berkata “are you thirsty.?”. Satu botol sekali tenggak habis, mereka pikir saya kuat minum alkohol, padahal saya tidak tahu kalau minumnya sedikit-sedikit.

IMG_2049

Selamat malam manila, mari berpesta (dok.pri).

Akhirnya, saya orang pertama yang tumbang saat hendak masuk dalam Buhda Bar. Tempat yang menjadi kontroversi, dan celakanya saya berajalan tak lagi tegak. Mata melihat seolah semua benda miring, kepala pusing dan kaki seperti di ikat pendulum maling. Sekitar 1 jam kami berada di budha bar dalam keadaan setengah sadar. Berjalan keluar sambil di papah Eva teman dari Indonesia, jika tidak pastilah akan menjadi binatang reptil malam itu. Kembali mobil mirip diskotik ini berjalan menuju Sky, namun saya sudah tak sanggup berdiri dan merem saja di kendaraan.

Pose terakhir sebelum tumbang pertama kali (dok.pri).

Pose terakhir sebelum tumbang pertama kali (dok.pri).

Entah mobil ini berjalan kemana saya hanya teler saja di dalam. Akhirnya diksotik terakhir berjarak sekitar 100m dari hotel dan saya memutuskan untuk balik kandang saja. Saya meyakinkan mereka saya baik-baik saja, sehingga tak perlu di antar. Perjalanan yang jauh dan berat, karena mata hanya melek beberapa milimeter saja. Kali ini saya berjalan mirip komodo habis menginjak beling dan kesleo. Jalan terseok-seok hanya untuk masuk hotel. Dari kaca lobi hotel saya melihat baju batik ini, hanya bisa tersenyum saja. Untung tidak ada mendagri yang malam itu sidak, “korpri memang cocok acara resmi dengan mentri, tapi ini sudah di salah arti, maafkan saya pak mentri” selamat malam.

One thought on “Terjebak di Fort Santiago Sambil Menikmati Balot Sampai Mabuk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s