Legenda Cinta Chocolate Hills

IMG_1838

Arogo, demikian sesosok raksasa yang kuat dan selalu awat muda. Suatu saat dia jatuh cinta pada sesosok perempuan yang cantik jelita dan sederhana yang bernama Aloya. Cinta yang kandas memupuskan harapan Arogo untuk mendapatkan cinta dari Aloya. Arogo merasa sedih dan gundah gulana lalu meneteslah air matanya hingga kering. Tetesan air mata itu jatuh ke bumi dan membentuk gundukan bukit yang banyak. Pada musim kemarau bukit tersebut gersang dan dinamakan bukit cokelat. Inilah legenda Chocolate Hills di Bohol-Filipina yang menjadi salah satu keajaiban geologis di muka bumi.

Dari Tagbilaran ibukota Bohol menuju Chocolate Hils berjarak sekitar 55Km. Namun saya berangkat dari sungai Loboc yang menjadi tujuan saya sebelumnya. Jalan berliku dengan kanan kiri hutan yang lebat. Beberapa kali bus harus berhenti saat menjelang tikungan, karena dari kejauhan nampak sebuah jeepney sudah memberi tanda minta jalan. Di balakang Jeepney beberapa bus yang penuh sesak dengan penumpang berjalan beriringan. Kembali bus yang kami tumpangi berjalan mendaki jalanan yang menanjak.

1410409649824389299

Jalan yang sepi dan nyaris tidak ada rumah penduduk. Seolah sedang melintas di tengah hutan lebat. Saat ini sedang melintasi hutan lindung Bilar Man. Hutan ini ditanami Mahoni (Mahagony sp) sejak tahun 1940 hingga 1960. Mahono ditanam dalam jarak tanam tertentu dengan pola yang teratur seolah memandang pohon yang sedang upacara. Beberapa sudut nampak Mahoni muda yang tumbuh di sela-sela barisan Mahoni yang tinggi menjulang.

Suara Garengpong (Cicada sp) terdengar dari sela-sela dedaunan dan menjadi indikator alam, cuaca sedang baik. Hampir 40 menit bus ini menerobos hutan homogen ini dan terus memacu kecepatannya menuju Carmen, yakni kota terdekat dengan tujuan saya yakni Bukit Cokelat. Carmen kota yang kecil dan mirip dengan Kecamatan jika dilihat dari lansekap kotanya. Dari Carmen harus berjalan sejauh 5Km menuju Berangay Buenos Aires yakni dimana bukit cokelat berada.

1410409768740671528

Sepanjang jalan saya kagum pemandangan di kiri jalan berupa tumpeng-tumpeng alam rakasasa setinggi 30-50m. Sebuah lansekap yang mempesona membuat saya terpana sehingga jendela bus ini saya buka lebar-lebar sambil rana kamera membuka dan menutup untuk mengabadikan keajaiban alam ini. Akhirnya sampai juga di salah satu bukit tertinggi dari 1.776 bukit yang tersebar 50km persegi. Sebuah tangga dari beton dengan anak tangga lebih dari 200 harus kami leati untuk menuju puncak bukit. Kaki saya gatal dan sayapun berlari dan ingin menjadi yang terdepan untuk sampai di puncak bukit cokelat.

Sesampai di puncak saya berdiri di ujung pagar dan mengabadikan pemandangan 360 derajat yang di penuhi dengan bukit-bukit berbentuk kerucut. Beberapa tulisan mencatat jumlah bukit ini bermacam-macam. Ada yang menuliskan 1.776, atau 1.247, tetapi pemandu saya mengatkan 1.268 bukit. Mana yang benar, cukup percaya saja dari pada harus menghitung satu persatu. Saat saya datang bertepatan menjelang musim kemaru, sehingga ada bukit yang sudah berwarna cokelat ada juga yang masih hijau ranum. Untuk mendapatkan nuansa bukit cokelat, maka disarankan datang tepat pada musim kemarau.

1410409851427256741

Nampak Ilalang (Imperta Cylindrica) dan beberapa semak Compositae memenuhi hampir seluruh permukaan bukit. Saat musim hujan akan berwarna hijau dan cokelat saat musim kemarau. Inilah sisi menarik dari bukit cokelat yang ada di Bohol Filipina. Salah satu keajaiban geologi dalam bentang alam Bohol. Ada beberapa legenda yang mengisahkan terbentuknya bukit cokelat ini.

Legenda yang pertama dan sangat terkenal adalah pupusnya cinta Arogo pada Aloya hingga tetesan air matanya membentuk bukit-bukit indah ini. Legenda yang kedua adalah perkelahian dua raksasa yang saling lempar batu hingga mereka kelelahan. Akhirnya tidak ada yang menang atau kalah dalam pertarungan tersebut dan mereka menjadi sahabat, tetapi mereka lupa membersihkan batu-batu yang mereka lempar dan akhirnya berserakan menjadi bukit. Masih berkaitan dengan raksasa yang menjadi legenda ketiga, yakni ada seekor kerbau raksasa. Kerbau ini memakan semua tanaman yang ditanam oleh petani. Akhrinya petani sepakat memberi makan kerbau ini dengan nasi basi. Kerbau raksasa yang rakus itupun memakan nasi basi tersebut dan akhirnya kotorannya menjadi bukit-bukit. Legenda yang terakhir adalah kisah cinta raksasa Miguel yang jatuh hati pada Adriana. Syarat untuk memiliki cinta Adriana adalah Miguel harus mengurangi berat badanya. Akhirnya apa yang ada didalam perut Miguel di keluarkan dan jadilah bukit-bukit Cokelat.

14104100131482424179

Secara geologi, terbentuknya bukit cokelat ini adalah mirip dengan fenomena dari benua yang terangkat. Jika mata kita jeli, bukit cokelat ini tersusun dari karang, hewan lunak (Molusca), foraminifera dan alga. Bukit-bukit ini adalah batuan gamping yang terangkat pada akhir masa Phiosen hingga awal Pleistosen (1,8 juta hingga 11,5 ribu tahuan yang lalu). Akibat tumbukan benua, sehingg dasar laut di FIlipin terangkat dan menyembul ke permukaan. Gempa tektonik memisah misah permukaan menjadi retakan-retakan dan oleh pengaruh gerusan oleh air hujan dan angin lambat laut permukaan yang pecah tersebut membentuk kerucut.

Ilalang sebagai vegetasi perintis mampu tumbuh dilahan berkapur yang miskin akan unsur hara. Di sela-sela ilalang tumbuh juga semak belukar yang pada akhirnya menutupi seluruh permukaan bukit. Bukit gamping adalah lahan yang miskin akan air. Air hujan yang turun tidak terserap dan disimpan dengan baik. Air hujan akan langsung terserap dan lari dalam batuan dasar dan di alirkan menjadi sungai bawah tanah. Tidak mengheranan jika dibeberapa tempat ditemukan goa-goa dengan aliran sungai bawah tanahnya. Jika melihat gunung kidul (Selatan Yogyakarta) yang penuh dengan karts maka seperti itulah tempat ini. Waktu yang panjang untuk membuat bentang alam ini, sehingga saat ini akan di usulkan sebagai salah satu situs warisan dunia.

Bukit-bukit di sini memiliki ketinggian yang varitaif. Ada yang hanya setinggi 30m tetapi ada yang paling tinggi yakni 120m. Dari puncak bukit mata saya bebas memandang hamparan batuan sisa perkelahian dua raksasa, kotoran kerbau, tinja Miguel dan air mata Arogo. Kecantikan Aloya dan Adriana membuat saya semakin kagum akan fenomena alam ini. Saya tidak membayangkan sebelum masa Phiosen mana kala tempat ini adalah dasar lautan yang tiba-tiba terangkat, lalu terjadi gempa bumi, setelah itu di gerus oleh air hujan dan angin yang pada akhirnya penuh dengan ilalang.

1410410098282801128

Matahari kian condong kebarat. Sang surya berjalan pelan-pelan disela-sela air mata aogo yang menangisi Aloya. Saya terpaku memandang gadis jelita Adriana yang menjadi pujaan hati Miguel. Nan jauh disana ada raksasa berkelahi sambil melihat monster kerbau dengan rakusnya memakan apa saja. Senja dari puncak Chocolate Hills, menutup perjalanan tentang kisah cinta dari raksasa pada gadis pujaan nan cantik jelita.

Advertisements

3 thoughts on “Legenda Cinta Chocolate Hills

  1. Menarik ini, bukit dari batuan karang endapan laut purba biasanya kan bentuknya tidak benar-benar seperti tumpeng yang enak dimakan seperti itu. Apalagi warnanya kuning, berarti tidak seluruhnya batuan karang melainkan sudah memiliki bagian tanah yang memudahkan vegetasi tumbuh. Tapi kok ya bentuknya benar-benar melengkung mulus seperti itu ya? Ajaib sekali…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s