Cebu Kota Tua di Filipina

IMG_1532

Lumut kerak yang memenuhi sesi dinding yang retak karena gempa, nampak kontras dengan bangunan gedung-gedung pencakar langit di sebelahnya. Ratusan orang nampak memadati pelataran untuk memanjatkan doa dan pengampunan. Sebelumnya, saat kaki ini melangkah turun dari bus, beberapa anak kecil berebutan menawarkan gantungan kunci. Nampak kontras dengan wajah kota tua ini dengan para pelancongnya. Cebu, kota metropolitan setelah metro manila yang penuh dengan nuansa sejarah dan kehidupan yang menarik untuk dikulik.

14102478431751840265

Pagi yang indah, saat burung-burung mulai berkicau dan langit masih gelap. Di sisi timur sudah nampak semburat warna kuning pertanda fajar segera merekah. Segera saya kayuh sepeda ini menuju sebuh dermaga di ujung pulau. Beberapa penghuni cottage nampak masih terlelap setelah semalam berpesat hingga larut. Pagi ini saya tidak mau melewatkan terbitnya sang surya dari ujung selatan Filipina.

Pulau Dos Palmas yang masih sepi, memberikan saya bergerak leluasa mencari titik yang paling bagus. Nampak di belakang saya menguntit Mr. Dong dari departemen pariwisata Filipina. Kami memiliki tujuan yang sama, yakni menjemput sang surya, sebab sehari sebelumnya kami juga sama-sama menghantar sang surya ke peraduannya. Dari ujung dermaga saya mendapatkan tempat yang baik, sedangkan dia memilih dari tepian pantai. Berkali-kali rana ini membuka dan menutup untuk menangkap indahnya matahari terbit. Pagi ini kami terpuaskan laksana pesta semalam.

14102479201105545746

Pagi ini kami harus bergegas menuju Bandara Puerto Princesa karena jam 10.00 harus segera terbang ke Cebu. Perahu mengantarkan kami menuju Honda Bay dan segera harus bergegas menuju Bandara. Pesawat sudah menunggu kami dan saatnya terbang dari selatan Filipina menuju tengah-tengah Filipina. Hamparan pulau-pulau terlihat mungil yang tersebar acak. Sayangnya pemandangan ini tak berlangsung lama karena cuaca berkabut. Akhirnya hanya diam dan menanti saat-saat pendaratan.

Penerbangan kurang dari 2 jam ini mengantarkan kami ke Cebu. Sebuah kota tertua di Fiilipina yang memiliki sejarah yang panjang. Di Cebu juga kota paling maju setelah Metro Manila. Mendarat di Bandara Mactan yang megah dan langsung segera pindah di bus untuk segera menuju Magelan Cross. Bus melaju di tengah kota yang hiruk-pikuk. Taxicle kadang tak mau kalah dengan jeepney yang sarat penumpang, dan para pengendara sepeda nampak di sela-sela kemacetan ini. Problematika kota besar.

14102487931335717585

Gedung-gedung tua nampak anggun di samping gedung-gedung yang baru saja dibangun. Jalur pedestrian yang lebar dan nyaman, dan nampak beberapa pedagang yang menggelar jajanan di sana. Akhirnya bus berhenti di sebuah pelataran bangunan besar dan saya ingat hanya St. Nino. Anak-anak kecil mengerubuti saya seraya menawarkan dagangannya, “Just one hundred mistrer, please buy….” Wajah-wajah memelas ini memenuhi sepanjang jalan yang kadang kontras dengan para pelancong yang nampak sumringah menikmati pesona pemandangan Kota Cebu.

14102481641317009411

Saya dibawa oleh Alex kawan dari Filipina untuk masuk di St. Nino Collage. Kami harus melewati penjagaan yang memeriksa barang bawaan kami. Ratusan pengunjung memadati tempat ini dan saya tidak begitu mengerti tempat apa ini. Saya baru paham saat melihat lelehan lilin-lilin berwarna merah dan mereka yang sedang berdoa. Tasbih rosario mereka sematkan dan mereka berdoa dengan khusuknya. Aroma lilin yang terbakar dan ratus begitu khas dan suasana katolik yang kental.

14102484731478656354

Bangunan St. Nino yang masih terlihat megah walau beberapa sisi terlihat retak dan runtuh. Gempa bumi beberapa tahun yang lalu yang mengguncang Filipina memberikan andil terhadap kerusakan bangunan-bangunan tua di sini. Bangunan khas Eropa benar-benar memberikan nuansa, saya tidak sedang di Asia tetapi ini Eropa Barat. Cebu memang kota yang cantik sehingga pantas kalau mendapat julukan “Queen City of South”. Kota ini memang menjadi tempat hunian orang Spanyol pada tahun 1565 dan menjadi kota tertua di Filipina. Pantas saja bangunan di sini memiliki arsitektur Eropa Barat, sambil berkata “cebuano”.

Perlahan saya menuju sebuah bangunan kecil yang di situ banyak sekali orang berkerumun. Inilah yang namanya Magelan Cross. Ada sebuah cerita tentang salib ini yang tertulis dalam ruangan. Salib ini pada tahun 1521 pertama kali ditancapkan oleh penjelajah dari Portugis dan Spanyol. Hingga saat ini, prasasti tersebut tetap dijaga keberadaannya. Ada yang menarik di sini, yakni terdapat penjual lilin berwarna-warni. Konon warna lilin ini memiliki simbol-simbol tertentu sebagai penghantar doa. Warna merah hati untuk cinta contohnya, sangat laris untuk mereka yang sedang dimabuk asmara.

1410248525580584210

Tak berapa lama saya di sana dan sebenarnya ingin berlama-lama. Saya kembali melanjutkan perjalanan, dan kembali saya tidak tahu mau diajak ke mana tujuan kali ini. Di sebuah monumen dengan patung kapal megah, pelaut dan tanda salib kami diturunkan di sana. Di ujung jalan di samping bangunan tua nampak suara gemuruh alat musik yang ditabuh. Ada suara gong, tambur dan apalagi yang saya tak paham namanya. Dari kejauhan nampak seorang laki-laki berpakaian perang ala tentara Romawi menari sambil mengelilingi gadis dengan pakaian berwarna putih bergaris biru.

1410248573612678453

Mereka menari dengan wajah penuh keceriaan. Tak disangka kami diajak menari bersama tanpa paham apa maksud dari tarian ini. Akhirnya berakhir juga tarian ini walau napas ngos-ngosan tidak karuan. Tari ini biasa ditarikan pada acara Festival Sinulog. Festival ini sebagai perayaan diterimanya Katolik Roma. Pada tahun 1500-an menjadi awal Katolik Roma berkembang di daerah ini saat Raja Humabon dan istrinya Hara Amihan dibaptis. Setiap tahun diadakan tarian sinulog ini sebagai peringatan hari penting tersebut.

1410248631594885364

Sebuah rumah menggoda saya untuk menyambanginya. Kebetulan kami menari di depan rumah unik ini. Papa nama bertuliskan Yap-San Diego, satu-satunya rumah antik yang masih bertahan dan menjadi salah satu tujuan kunjungan wisata. Konon rumah ini dibangun dari susunan batu karang yang direkatkan dengan putih telur. Yang pasti, bangunan ini sangat kokoh dan begitu penuh sentuhan seni.

Masuk di lantai bawah terlihat bermacam perabotan antik ada di sini. Ruang tamu yang penuh dengan barang-barang masa lalu, seperti gerabah, kaca-kaca kristal, dan lukisan. Memasuki lantai dua berupa kamar tidur. Jika ditantang tidur di dalamnya, sepertinya saya menyerah daripada tidak bisa memejamkan mata. Kamar tidur klasik dengan bermacam ornamen, dengan lampu remang-remang benar-benar memberikan nuansa yang membuat merinding. Lukisan kuno dan hiasan-hiasan dinding berumur ratusan tahun begitu membuat saya tak betah berlama-lama di dalam kamar tersebut.

14102486821822831041

Siang berlalu, senja datang dan malam siap menjelang maka saatnya mengakhiri perjalanan ini untuk sesaat. Cebu yang menawan dengan pesona bangunan tua, dan nuansa religi yang kental. Langit yang mulai kelam saatnya menikmati Cebu dari ketinggian. Berjalan di pinggiran menara lalu menikmati hentakan jet coaster saat hendak membuang penumpangnya dari atas sky walk. Cebu, Kota Ratu dari Selatan.

 

2 thoughts on “Cebu Kota Tua di Filipina

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s