Menyusuri Lorong Sungai Bawah Tanah Puerto Princesa

 IMG_1424

mau tinggal di Fillipina 2 bulan, makan, minum dan tidur ditanggung pemerintah..?” tanya teman saya saat di gerbang sungai bawah tanah, Palawan. Siapa tidak senang ditawari oleh teman saya, lantas saya bertanya “bagaimana caranya…?“. “buang saja sampah sembarangan dan sampai ketahuan petugas...” jawab teman saya sambil tertawa. Walau hanya bercanda, disinilah bagaimana lingkungan benar-benar mendapat perhatian utama untuk sebuah tenpat wisata. Saya hanya bersendikan “bagaimana kalau ini diterapkan di Indonesia…

2 jam dari Puerto Princesa saya dibawah ke arah utara Palawan. Jalan berkelok, berbukit naik turun ditambah lagi sopir yang mengemudikan kendaraan begitu lihainya. Perut serasa di aduk-aduk, karena saya duduk di kursi belakang. Sepanjang perjalanan pemandu terus saja menerocos menjelaskan ada apa saja di sana. Ibarat jelan menuju gedung bioskop ada yang menceritakan rentetan cerita film. Bagi mereka yang suka merapa dan menebak-nebak seperti saya pasti akan gusar, tetapi ada juga yang rasa ingin tahunya tinggi sehingga terus bertanya dan semakin gusar saja.

1410154033394146458

Pelabuhan Sabang dermaga untuk menuju sungai bawah tanah (dok.pri).

Mata saya selalu jelalatan melihat keluar jendela. Di balik kaca mata hitam ini saya benar-benar mengagumi pesona alam pulau Palawan. Bukit-bukit gamping menonjol dimana-mana. Hutan lebat hingga semak belukar menjadi sajian di sisi kanan kiri jalan. Hampir sepanjang perjalanan jarang ditemukan perkampungan, sehingga benar-benar seperti berjalan ditengah-tengah belantara. Udara sejuk dan suasa teduh benar-benar membuat betah di perjalanan ini, kecuali pemandu yang tak henti-hentinya berceloteh.

Tiang-tiang listrik dengan panel surya di atasnya mulai terlihat. Sawah-sawah dengan petak yang unik berjejalan di bukit-bukit kapur yang menjulang tinggi. Pemandu mengatakan sebentar lagi akan sampai di Sabang. Sabang adalah kota kecil di selatan Palawan yang menjadi pintu masuk pada salah satu keajaiban dunia, yakni sungai bawah tanah. Sopir mengarahkan kendaraan dipelataran tempat parkir disebuah rumah makan.

14101540891859340294

Si Jack pemandu kami yang kocak (dok.pri).

Usai makan siang, saatnya menuju sungai bawah tanah di dermaga Sabang. Di sini saya benar-benar kagum pada pengelola wisata. Peraturan dan hukuman ditulis besar-besar agar benar-benar ditaati oleh pengunjung dan operator. Pantai yang bersih dan rapi, entah mengapa saya tiba-tiba menjadi ini dengan suasana seperti ini. Panas yang terik, memaksa harus menunggu antrian perahu yang akan mengantarkan kami menuju mulut sungai.

Tiba-tiba Mr.Dong dari kementrian pariwisata yang menemani perjalanan ini menawari saya es krim. Contong es krim yang biasa saya beli waktu SD menjadi menu yang spesial di tempat ini. Panasnya udara menjadi dingin saat aneka buah dicampur es krim masuk dalam rongga mulut dan tak lama kemudian lambaian tangan mengajak untuk naik perahu. Perahu dengan kapasitas maksilam 8 orang ini selalu hilir mudik mengantar dan menjumput para pengunjung.

1410154143698644488

Suasana di dalam lorong sungai bawah tanah (dok.pri).

Jaket pelampung wajib dikenakan oleh pengunjung yang ingin mengunjungi sungai bawah tanah. Berjarak hampir 3Km dengan waktu tempuh sekitar 20 menit, perahu yang kami tumpangi terombang-ambing oleh ombal laut tiongkok selatan. Sebuah tebing karang terlihat dengan jelas yang menandakan sebentar lagi sampi di pantai yang menjadi pintu masuknya.

Setelah perahu merapat papan nama bertuliskan selamat datang di taman nasional subterranean river puerto princesa terpasang di pintu masuk. Beberapa aturan, dan semua informasi ada di sana. Jalan menuju pintu masuk berupa jalan panggung yang terbuat dari kayu. Hutan alami yang benar-benar masih terjaga keberadaannya. Suara burung hingga biawak yang berkeliaran dengan mudah ditemui di sepanjang jalan.

1410154202317230523

Ikan-ikan penghuni sungai bawah tanah (dok.pri).

Sungai bawah tanah puerto princesa ditetapkan oleh Unesco sebagai warisan dunia dan satu dari 7 keajaiban alam. Dunia sudah mengakuinya dan tak sabar rasanya segeraa masuk ke dalam goanya. Sebuha perahu dengan cadik di sisi kanan kiri sudah menunggu kami. Kapasitas perahun adalah 8 orang ditambah seorang pendayung sekaligus pemandu wisata. Para pengunjung diwajibkan mengenakan jaket pelampung dan helm pelindung.

Akhirnya disebuah laguna dengan air berwarna hijau toska, perahu perlahan masuk ke mulut goa. Sungai bawah tanah ini berupa goa besar dengan lorong yang panjang. Para penjelajah sudah memasuki goa ini sepanjang 8,2km dan hanya 4,3km yang sudah dipetakan, sedangkan hanya 2,2km jarak yang biasa ditempuh untuk para pengunjung. Dalam sehari rerata pengunjung sekitar 900 orang.

Dari zona terang, remang-remang hingga gelap total pemandu kami yang bernama Jack menjelaskan dengan bahasa inggris dengan artikulasi yang sangat jelas. Lidah dia dan saya sepertinya sama, sehingg saya sangat memahami apa yang dia jelaskan. “Sir my name is jack, im not bat am, but boat man..” bagi yang tidak menyimak akan bingung tetapi begitu paham akan langsung tertawa. Dia membawa kami masuk dalam lorong-lorong goa dengan joke-joke yang menghibur yang ditimpali dengan bercanda. Dia sempat bertanya “mengapa orang melihat ke atas mulut menganga, tetapi di sini tidak boleh karena banyak kelelawar yang buang air”. Kami yang melihat keatas langsung menutup rapat-rapat mulut kami.

Di dalam goa terdapat ornamen-ornamen pahatan alam berupa stalagtit dan stalagmit. Beraneka macam bentuk ada disini dan terserah orang hendak menerjemahkan apa. Ada batu bulat besar sehingga dinamanak jamur, ada yang mirip Bunda Maria, ada batu patah mirip lambung kapal sehingga diberi nama titanic. Ada puluhan batuan yang menyerupai bentuk sesuatu benda dan inilah daya tarik dari sungai bawah tanah ini. Air yang yang tenang dan nyaris tidak ada arus, membuat kami nyaman sekali melihat sisi kanan kiri dan atas goa. Lampu-lampu senter yang disediakan membatu kami untuk melihat setiap ornamen yang ada.

Tak terasa Jack sudah membawa kami keluar goa dan memberikan ucapan selamat dan terimakasih kepada kami “see you boat man”. Saya lantas berjalan menuju laguna kecil yang menjadi pintu masuk. Hutan mungil dengan telaga yang tenang, tetapi sangat kontras di luar sana deru ombak dari laut tiongkok selatan begitu terasa. Perahu yang tadi mengantark kami sudah bersiap dan saatnya kembali ke Sabang.

14101542961381536083

Penari yang menyambut kedatangan setiap tamu (dok.pri).

Dari Sabang kami kembali menuju Puerto Princesa untuk menuju Honda Bay. Malam ini kami akan menginap di Dos Palmas. Dari Honda Bay perahu yang akan membawa kami ke Dos Palmas sudah datang siap untuk mengangkut kami. Setelah mengisi data manifes penumpang kami dipesilahkan naik dan harus mengenakan jaket pelampung. Honda Bay terletak di timur laut Puerto Princesa, untuk ke Dos Palmas harus menyebrang sejauh 11km dengan waktu tempuh sekitar 1 jam lebih.

Dos Palmas adalah sebuah pulau di timur Palawan. Di tempat ini dibangun beberapa resort yang mewah. Entah berapa peso atau dolar untuk sekali bermalam ditempat ini, yang pasti saya hanya tinggal menikmati dan mensyukuri saja. Akhirnya perahu yang kami tumpangi merapat di Dermaga Dos Palmas dan langsung disambut dengan taburan bunga di laut. Rasanya seperti baginda raja di film mahabarata. Begitu kaki menginjak dermaga, leher ini sudah dilingkari kalung dan disambut dengan hangat. Tak lama berselang kaki menginjak tanah, sambutan meriah dengan tarian khas Dos Palmas. Penari adalah seorang lelaki dengan otot yang menonjol seperi binaragawan. Dia adalah salah satu karyawan di sini, sekaligus pemandu selam. Dia kini di dandani dengan pakaian berwarna merah jambu lengkap bunga di atas daun telinga. Sungguh pemandangan yang kontras.

14101543601066273061

Senja di Dos Palmas (dok.pri).

Malam hari, saatnya kami dimanjakan ole Dos Palmas. Makam malam ini terasa begitu istimewa setelah senja tadi kami dihadiahi sunset yang luar biasa. Sambil makan malam kami dihibur dengan tarian Poi. Tarian ini menggunakan pendulum yang ujungnya adalah kain yang basahi minyak lalu disulut api mirip debusnya Filipina. Sungguh atraksi yang menarik, terlebih untuk turis bule yang nampak terkesima, berbeda yang nonton orang Indonesia yang nampak biasa saja, karena banyak begituan di tanah air.

1410154405449356544

Tarian api di dos palmas (dok.pri).

Baru enak-enak makan, tangan salah seorang penari menarik saya. Kali ini bukan tarian api, namun tarian yang memakai batang bambu yang dihentak. Tarian atau permainan ini mirip dengan yang kita lihat di tanah Timor atau Maluku. Jika salah menginjak atau melompat, kaki bisa terjepit dan rasa malu yang tak tertahankan. Malam yang indah di Dos Palmas, bintang yang gemerlap, suara deburan ombak, belaian angin laut, segelas wine, suasana yang romatis dan selamat malam…

1410154450299184216

 

3 thoughts on “Menyusuri Lorong Sungai Bawah Tanah Puerto Princesa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s