Wonderful Indonesia : Pulau Dom, Kota Tua di Papua

IMG_4063

Dari ujung kepala hingga kaki serasa bergetar saat seorang majelis gerja GKI-di Tanah Papua, memukul lonceng. Batangan besi di pukulkan dengan keras pada tabung besar yang biasa untuk menyimpan oksigen rumah sakit. Saya hanya bersenandika “pasti pulau dengan garis pantai 4,5Km mendengar suara lonceng pertanda ibadah segera dimulai”. Beberapa becak berdatangan mengantarkan para jemaat yang akan beribadah sore, dan tak berapa lama terdengar suara dari masjid menunjukan sholat ashar tiba. Hari ini saya terjebak di sebuah pulau bersejarah dan paling maju di Papua Barat pada waktu itu, yakni pulau Doom.

14092909451774620813

Dari jendela pesawat yang menerbangkan saya dari ujung pandang menuju bandara Dominik Eduard Osok, Sorong terlihat pulau Doom dengan jelas. Pulau ini nampak kontras karena berbeda dengan pulau-pulau di sekitarnya seperti pulau Jefman Raja Ampat atau Soop. Pulau Doom nampak lebih padat penduduk, terlihat bangunan-bangunan yang begitu rapat. Perahu-perahu kecil nampak hilir mudik dari pulau kecil ini menuju pelabuhan rakyat di Sorong.

14092909841899391875

Hanya dengan membayar Rp 4.000,00 sebuah loang boat 15PK siap menyebrangkan menuju pulau Doom. Namun, bagi yang tidak tahan dengan guncangan ombak disarankan untuk tidak masuk dalam perahu dulu karena harus menunggu penumpang hingga hampir penuh. Hanya butuh waktu sekitar 15 menit untuk sampai di dermaga pulau Doom. Begitu sampai di dermaga, sepasang lumba-lumba di atas papan nama dan para pengayuh becak sudah menyodorkan mulut becaknya agar penumpang segera naik. Di pulau ini hanya ada becak, sepeda, sepeda motor dan perahu sebagai moda transportasinya.

14092910182013048762

Tak nyaman jika harus jalan-jalan dengan naik becak, maka diputuskan jalan kaki saja di bawah rintik hujan gerimis. Berjalan di sini harus hati-hati karena becak, sepeda motor dan sepeda bersliweran di jalan yang sempit dan padat. Langkah kaki saya berhenti di sebuah lapangan sepak bola. Anak-anak kecil menariakan “om foto om foto..” dan saya segera layani mereka. Saya teringat akan sebuah artikel, konon ini adalah lapangan tertua di Papua Barat yang dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda.

Pulau Doom adalah pusat pemerintahan di Papua Barat pada waktu itu. Tempatnya yang terisolir, strategis karena pelabuhan menjadikan pilihan Belanda membangun kota ini sebagai markas utamanya dibandingkan di Sorong. Konon awalnya pulai Doom adalah milik bangsawan dari Maluku dari keluarga Melibela. Pulau Doom layaknya kota tua belanda seperti di kawasan kota tua Jakarta dan kota lama Semarang. Di sini masih dijumpai bangunan-bangunan peninggalan Belanda yang masih utuh ataupun yang sudah direnovasi.

1409291099685642674

Konon di dekat lapangan sepak bola ini ada bangunan yang disebut sebagai gedung kesenangan. Gedung yang dipakai buat bersenang-senang tentara Belanda ini dilengkapi dengan kamar, lapangan olah raga dan kolam renang. Sayapun melanjutkan perjalanan dengan menapaki jalanan yang menjadi nadi pulau Dom. Jalan yang dilewati ini adalah bentuk tata kota Pulau Doom sejak jaman  pemerinthan Hoofd van Plaatselijk Bestuur (HPB). Tidak bisa dibayangkan bagaimana pada masa lalu kota ini yang mendapat julukan pulau bintang. Mengapa demikian, karena nyala listrik pada malam hari begitu terang di pulau ini, sedangkan di Sorong belum ada listrik.

1409291155442819860

Saya berhenti pada sebuah bangunan aneh yang kini digunakan menjadi gedung sekolah. Sebuah kompleks terungku ada di tengah-tengah kota ini. Kebetulan saat ini ada seorang penjaga sekolah yang mengantarkan saya masuk dalam bangunan tua ini. “dulu orang doom atau sorang kalau mendengar penjara doom, akan langsung takut” katanya sambil menunjuk jeruji besi dengan diameter hampir 2cm. Perlahan saya memasuki gerbang penjara buatan belanda yang nampak mengerikan dari luar.

14092911931269974980

Ketaksaan saya bubar seketika begitu melihat mereka bermain sepak bola dihalaman penjara. Riuh suara anak-anak ini langsung menghapuskan imaji penjara yang angker. Ruangan-ruangan dengan jeruji besi yang masih kokoh ini adalah saksi bisu masa lalu. Kini terungku ini penuh dengan bangku-bangku yang diam terpaku diruangan yang disulap menjadi kelas. Beberapa ruang disekat menjadi rumah penjaga sekolah sekaligus kantin. Beberapa ruangan masih dibiarkan dan nampak masih seperti aslinya.

Bulu kuduk saya berdiri begitu melihat sekeliling komplek penjara yang kini menjadi sekolah masih dikelilingo oleh tembok yang bagian atasnya di tata pecahan-pecahan botol kaca. Gerbang sekolah yang terbuat dari teralis besi dengan ukuran yang besar, saya kira menjadi pintu yang sangat kokoh. Tembok yang tebal dan pintu yang berlapis, sebuah penjara yang sempurna. Kembali saya bersenandika “bagaima murid-murid di sini bisa bolos atau kabur”.

1409291249345923350

Saya kemudian diajak penjaga sekolah menyusuri jalanan setapak melewati gang-gang sempit rumah. Diam menunjukan sebuah lorong kecil, yang menjadi goa buatan. Ternyata itu adalah goa Jepang yang digunakan sebagai basis pertahahan pada perang dunia kedua. Katanya, lorong-lorong ini menghubungkan tempat-tempat tertentu, tetaki kini sudah banyak yang tidak berbekas karena padatnya pembangunan.

Jejak langkah menghantarkan saya pada sebuah gereja berasitektur unik. Konon katanya, gereja ini belum mengalami perubahan sama sekali dan tetap dipertahankan bentuk aslinya. Pintu yang lebar, pilar-pilarng yang tinggi begitu jendela yang terbuka lebar, benar-bena khas bangunan Belanda. Satu persatu jemaat berdatangan, kerena bertepatan hari minggu. Beberapa kali majelis gereja  membunyikan lonceng yang terdengar sangat keras, menandakan ibadah segera di mulai.

14092913011906689173

Belum sampai disitu kekaguman saya akan pulau ini. Rumah-rumah eropa yang dengan desain tropika benar-benar membuat saya terpana. Bangunan yang tinggi dengan jalan udara baik ventilasi, jendela, dan pintu yang lebar sangat tepat untuk iklim tropis yang panas terlebih di daerah pesisir. Saya tertegun seolah kembali pada pada masa lalu saat mengkomparasikan dengan bangunan Belanda di beberapa tempat di Indonesia.

14092913671541264044

Saya berpikir ini adalah salah satu kota yang memiliki sejarah yang panjang. Para penutur dari beberapa tulisan yang saya baca, bahwa Doom adalah kota utama di Papua Barat pada saat itu. Tinggal di sini harus memiliki surat keterangan, berapa lama tinggal di sini. Hampir mirip pergi keluar negeri saja untuk masuk pulau doom pada waktu itu. Kini semua sudah berubah, namun sejarah itu tetap ada dan saksi bisu berupa bangunan masih tetap terjaga. Anda penasaran, cukup 15 menit dari Sorong.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s