Sorong dan Kentalnya Minyak Belanda

 

IMG_6915

Burung besi yang saya tumpangi perlahan mengembangkan sayapanya. Cakarnya yang kokoh berlari di landas pacu dengan kecepatan ratusan kilometer per jam. Deru mesin jet sekuat tenaga mendorong untuk lepas landas. Sayup-sayup terdengar isntrumen lagu-lagu nasional sambil mengarungi angkasa di gelapnya malam sambil menyaksikan lampu-lampu yang menghiasi daratan Yogyakarta. Saatnya melayang menuju timur Indonesia, Sorong di Papua barat.

Btuh waktu sekitar 5 jam penerbangan dari Yogyakarta, transit di Ujung Pandang lalu sampai di Sorong. Penerbangan yang melelahkan karena akan melawan perputaran waktu dengan 2 jam lebih cepat dari waktun normal. Dalam kabin pesawat nampak beberapa orang berbisik dan saya tidak mengerti apa yang mereka diskusikan. Saya hanya menikmati pemandangan di luar jendela pesawat sambil sesekali melihat peta untuk mengira-ira saya terbang di atas pulau apa.

1403505566753156573

Teman saya yang sedari tadi berisik mencari perhatian seolah tidak saya gubris. Saya baru tersadar seorang pramugari berfoto bersama dengan salah seorang penumpang perempuan. Batin saya “ah penumpang narsis pengen foto bersama pramugari yang cantik”. Akhirnya burung besi mendarat juga di Bandar Udara Dominique Edward Osok, Sorong dan para penumpang semakin heboh.

“kamu terlalu banyak nonton national geographic..!” kata-kata yang meledek saya saat hendak turun dari tangga pesawat. Ternyata yang foto bersama pramugari tersebut adalah idola orang satu indonesia, Nowela Mikhelia. Putri dari papua yang memenangkan kontes menyasi sejagat Indonesia. Apa daya saya sudah menuju terminal kedatangan.

14035056562018077742

Suara kecil melengking meneriakan beberapa angka dalam label barang-barang di bagasi. Saya cukup lama menatap roda berjalan yang akan mengantarkan barang-barang bagasi ke penumpang, tapi tak kunjung berjalan, dan ternyata alatnya rusak. Benar saja suara tadi memanggil-manggil angka yang saya pegang. Petugas bandara cara mensiasati dengan menyebutkan nomor label dan penumpang yang mencocokan saja lalu di ambil.

Akhirnya barang bawaan hampir 1 troli penuh sudah ditangan dan saatnya meluncur menuju pusak kota Sorong. Mencarter mobil pilihan yang tepat agar bisa berkeliling kota sorong dengan mudah. Tiba-tiba saat hendak masuk pusat kota, kendaraan kami harus berhenti sebab di depan sana suara klakson, sirine dan teriakan masa terdengar. Sopir yang orang bugis berhenti dari pada kaca pica (pecah).

Bendera merah putih biru begitu mondminasi aksi masa tersebut. Saya serasa berada di amsterdam saat menyaksikan pawai tersebut. Saya teringat semalam waktu transit di ujung pandang ada pertandingan piala dunia antara Belanda Vs Spanyol dengan kemenangan 4-0 untuk tim oranye. Jika menilik sejarah masa lalu sangat wajara masyarakat Sorong begitu kental dengan Belanda.

1403505714589520435

Akhirnya ada diskusi singkat mengapa masyarakat di di kawasan Indonesia timur begitu lekat dengan Belanda dan sangat berbeda dengan masyarakat di Jawa yang begitu antipati. Konon dulu, Belanda di kawasan timur (sorong) membangun kota kecil ini menjadi kota minyak yang kaya raya. Ibu kota sorang waktu itu berada di pulau Doom. Sorong juga di sebut dengan kota minyak karena ada beberapa titik pengeboran minyak, namun ironis di sini minyak begitu mahal dan langka.

Sorong, kota yang strategis karena sebagai pelabuhan sekaligus pintu masuk ke Papua. Letaknya yang tepat di kepala burung menjadikan kota ini serasa istimewa. Kata Sorong sendiri berasal dari kata Soren yang dalam bahasa biak numfor adalah laut yang dalam. Namun beragam lidah sangat susah menyebutkan kata Soren, sehingga para pedagang dari Tionghoa, Misionaris, orang-orang di kepualauan Maluku, Sangihe Talaud menyebutnya menjadi Sorong.

14035057682067629121

Belanda membangun kota sorong menjadi kota pelabuhan, perdagangan dan pertahanan. Pulau Doom dijadikan basis kekuatan, sebab di pulai yang menjadi ibu kota menjadi tempat perakitan senjata dan gudang bom. Sebelum tahun 2004 bandar udara masih berada di pulau Jefman yang di tempuh dengan perahu 80pk selama 45-60 menit dari pelabuhan Sorong. Bandara ini menjadi urat nadi transportasi selain kapal laut.

Konon diceritakan banyak orang-orang dari wilayah Indonesia timur yang direkrut menjadi tentaranya belanda KNIL (het Koninklijke Nederlands(ch)-Indische Leger). Tidak sedikit opa-opa yang dulu direkrut masih mendapat uang pensiun dari pemerintah Belanda. Hingga kini mengapa sejarah manis belanda di Indonesia timur begitu masih dirasakan hingga tim sepak bolannya mendapat dukungan yang begitu kuat.

14035058371028014542

Kendaraan saya berhenti di kawasan Tembok Berlin. Saya berpikir, apakah tembok tersebut memiskan dua kota atau bagaiaman. Ternyata tempat yang dimaksud adalah nama pantai dengan tembok pembatasnya. Saya melanjutkan langkah kaki ini menuju daerah Boswesen. Nama yang kental dengan belanda karena boswesen artinya perhutani milik belanda. Kawasana ini dulu adalah kantor sekaligus kediaman para pegawai kehutanan pada masa pemerintahan Hindia Belanda.

Di Boswesen terdapat sebuah pasar yang sangat menarik untuk di kunjungi. Saya memulai dari pasar yang menjual aneka macam sayuran yang di datangkan dari manado dan yang pasti harganya 3-5 kali lipat dari harga di pulau jawa. Langkah kaki saya memaksa untuk masuk dalam loss pasar di samping dermaga. Inilah pasar ikan Boswesen yang menyediakan ikan-ikan yang segar dan baru mati satu kali, maksudnya ikan belum mengalami beberapa kali proses pembekuan..

1403505894342464976

Ikan cakalang ukuran besar dapat dengan mudah ditemui di sini dengan harga yang murah. Beragam ikan konsumsi seperti; tenggiri, cakalang, baubara, kakap, hingga fauna laut yang di lindungi juga mudah ditemui seperti penyu. Saya hanya terkagum akan biota laut yang melimpah ditempat ini sambil melihat long boat yang sedari tadi terombang-ambing oleh ombak.

Perjalanan saya berlanjut karena di bawah ke daerah transmigrasi di kabupaten Sorong yang berjarak sekitar 30Km ke sisi timur dan utara. Saya melihat sebuah hutan lindung yang kini masih benar-benar di jaga sebagai pembatas antara kota dan kabupaten sorang. Akhirnya lahan-lahan pertanian sudah terbuka. Nampak sepanjang jalan banyak penduduk yang membuka lapak-lapak untum menjual hasil buminya.

Jagung manis dengan ukuran yang besar sudah kami kemas satu kantong plastik. Jeruk manis hanya tinggal petik dan langsung dimakan. Buah pare seukuran betis orang dewasa nampak ranum. Begitu suburnya tanah sorong, dan ujung sana sebuah pipa menjulang tinggi dengan ujung keluar api menjilat-jilat. Tanah pilihan sebab subur di atas dan di bawahnya ada kandungan gas dan minyak. Tidak salah belanda menduduki tempat ini dan dibangun menjadi kota. Kita lihat saja apakah merah putih akan berkibar disela-sela warna oranye di kancah piala dunia..?

 

 

6 thoughts on “Sorong dan Kentalnya Minyak Belanda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s