Wonderful Indonesia : Waisai Gerbang Menuju Raja Ampat

 

IMG_7112

Raja ampat siapa tidak kenal dengan the last paradise. Benar surga terakhir yang tercecer di bumi ada di bumi cendrawasi tepat di depan paruh kepala burung. Banyak yang bermimpi menjejakan kaki di sana, sebab banyak yang menawarkan keindahan yang tidak bisa diperoleh ditempat lain. Raja ampat memang surga terakhir, dan kali ini sepenggal kisah menuju menuju istana 4 raja.

14035908111066122672

tempo.. tempo.. tempo..” teriak ABK saat meminta kami untuk pindah ke kapal sebelah. Ternyata kapal cepat yang kami naiki kandas dan tidak bisa bergerak. Terpaksa semua penumpang harus pindah ke kapal sebelah. Dalam suasan hujan, tidak terbayangkan harus pindah kapal dengan barang bawaan seabreg. Akhirnya setelah berbasah-basah ria kami berhasil pindah ke kapal sebelah. Tak berselang kapal sudah “laju larinya” atau kecepatan penuh.

Itulah awal dari perjalan menuju Waisai sebagai ibu kota kabupaten Raja Ampat. Dari pelabuhan sorong penyebrangan ini di mulai. Ada 2 jadwal penyebrangan menuju waisai sebagai pintu gerbang raja ampat. Ada kapal cepat yang berangkat pukul 09.00 dan 14.00 dengan waktu tempuh antara 1 jam 20 menit hingga 2 jam, semua tergantung kondisi perairan.

14035909151768180994

Bahari Expres salah satu kapal cepat yang kami tumpangi untuk menuju Waisai. Hujan lebat dan gelombang laut acapkali menggoyang badan kapal yang melaju dengan kecepatan rata-rata 52km/jam. Kapal yang kami tumpangi sangat nyama, yakni dengan kursi ala bus malam dan ruangan berpendingin udara. Tarif sangat murah, yakni sekali pernyebrangan sebesar Rp 130.000,00. Ada pula penumpang yang nakal dengan membayar di atas kapal dengan harga yang tentu saja dibawah harga karcis.

1403594468255844317

Banyak orang mengenal raja ampat, tetapi tidak mengenal waisai. Waisai adalah ibu kota dari kabupaten kepulauan Raja Ampat. Kabupaten yang baru berumur 11 tahun, karena baru saja dimekarkan pada 12 april 2003. Ada 4 pulau besar yang menjadi bagian dari kabupaten raja ampat, yakni; Waigeo, Batanta, Salawati dan Misool. Pusat pemerintahan berada di pulau Waigeo beribukota di Waisai.

1 jam 30 berlalu dan kapal cepat melambatkan kecepatannya. Di sisi kiri kapal terlihat pulau Saunek monde lalu perlahan kapal bergerak ke sisi kanan. Akhirnya kami merapat di pelabuhan Waisai dan selamat datang di Raja Ampat saat 2 patung lumba-lumba menyambut kedatangan para penumpang kapal.

1403591112272134675

Sebagai kabupaten yang masih sangat muda, belum terdapat angkutan umum dari pelabuhan menuju pusat kota. Angkutan paling gampang di jumpai adalah ojek atau sewa mobil. Jika kedua kaki kita sanggup berjalan, maka menyusuri jalanan yang sepi adalah pilihan yang tepat karena jarak pelabuhan ke kota hanya sekitar 2 km saja. Menuju pusat kota mata akan langsung dimanjakan oleh pepohonan bakau yang menjulang tinggi belasan hingga 20 meter lebih.

Akhrinya sampai juga di pusat kota waisai. Jangan membayangkan waisi dengan kota kabupaten kebanyakan di Indonesia yang infrastruktur, sarana prasaran yang memadai. Waisai masih sangat terbatas dan hingga saat ini sedang gencar-gencarnya melakukan pembangunan. Sebuah kubah masjid menjulang tinggi dengan 2 menara di sampingnya, inilah masjid agung Waisai yang barusaja menggelar hajatan MTQ.

1403591180273544180

Raja ampat membuat saya tercengan saat teringat lagu Aku Papua yang dinyanyikan Edo Kondologit. “hitam kulit, keriting rambut, aku papua..” begitu syairnya namun sedikit terbantahkan dengan warga raja ampat. Penduduk asli yang berasal dari suku maya berada di teluk mayalibit sedangkan sisanya yang tersebar adalah para pendatang. Ada orang bugis, buton, jawa, batak, flores, sunda dan masih banyak lagi suku-suku dari pelosok nusantara. Namun yang pasti, kerukunan dan toleransi di tanah para raja ini begitu dijunjung tinggi.

14035912221230835709

Petang menjelang dan saatnya menikmati kuliner khas bangsa maritim. Ditengah-tengah kota terdapat beragam warum makan yang menjajakan makanan dari bergai daerah. Pilihan kami pada rumah makan yang menjual ikan segar untuk dipanggang atau di goreng. Ikan-ikan yang baru saja ditangkap dengan kondisi masih segar segera kami pilih untuk selanjutnya di olah oleh juru masak. Ikan Gutila, baubara, cakalang, kakap merah dan kerapu kami pilih sebagai menu selamat datang di raja ampat. Soal harga, tidak berbeda jauh dengan daerah lain, tetapi yang membedakan adalah kualitas ikannya yang masih segar dan baru mati 1 kali. Berbebeda dengan daerah lain yang jauh dari laut, maka ikan bisa mati 7-9 kali. Maksudnya ikan sudah mengalami pengawetan dengan cara pendinginan beberapa kali dan kualitasnya sudah menurun.

Nasi hangat, ikan panggang dengan sambal tomatnya. Rasa yang tidak bisa diungkapkan dan cukup berkata “ini raja ampat”. Malam berlalu dan kami menginap di hotel marasrissen yang dimiliki keluarga Candrawinata. Suasana malam di waisai cukup menegangkan bagi mereka yang biasa tinggal dikeramaian. Malam begitu sepi dan tidak ada aktifitas. Kendaraan yang lewat nyaris tidak ada. Suara binatang nokturnal terdengar dengan jelas. Seberang hotel masih berupa hutan lebat dan menambah suasana malam yang kadang cukup mencekam, terlebih saat listrik satu kota padam.

1403591277772889949

Pukul 05.00 Waisai masih gelap gulita, bahkan adzan subuh belum berkumandang. Pantas saja secara astronomis kota ini berada di bagian barat waktu indonesia timur. Adza subuh baru terdengar pukul setengah enam dan suasana masih gelap. Waktu yang tidak boleh di sia-siakan, yakni mengunjungi obyek wisata yang terdekat. Apalagi kalau bukan WTC.

WTC bukanlah gedung kembar di amerika yang runtuh oleh ulah teroris, namun akronim dari Waisai Torang Cinta adan juga yang menyebut Wisai tercinta. Inilah pantai yang berada pusat kota waisai. Saat ini beberapa sudut pantai masih ditutup untuk umum kerena sedang ada pembangunan untuk persiapan sail raja ampat di pertengahan bulan agustus.

1403591341457594962

Jajaran pohon kelapan yang menjulang tinggi menjadi ciri khas pantai ini. Ombak yang tidak begitu besar langsung di hadang oleh tembok pembatas ombak. Jembatan dari kayu besi dibangun di pinggir pantai agar pengunjung bisa berjalan diatas perairan. Jika sedang beruntung maka pulau papua akan terlihat dengan jelas di sisi timur laut dari arah pantai.

Di pantai waisa tersedia sarana yang cukup memadai. Beberapa toko menyediakan aneka makanan dan cindera mata khas raja ampat. Soal harga memang lebih mahal dari harga normal, sebab sebagian besar barang didatangkan dari pulau jawa dan sulawesi. Dari pantai WTC ini yang nantinya akan digunakan sebagai pembukaan sail raja ampat yang akan diikuti 22 negara.

Hari pertama di Raja Ampat sudah membuat jatuh hati akan tempat ini. Kami berjalan menyusuri kota yang kanan kirinya terdapat tiang-tiang dari susunan kayu besi. Bentuk susunan tiang yang mirip sangkar memanjang ini ternyata bukan semata-mata hiasan jalan namun sebagai tempat menjalarnya sulur sirih yang nanti akan ditanam disekelilingnya. Mengapa sirih, karena berkaitan dengan budaya masyarakat asli yakni budaya mengonsumsi sirih pinang dalam kesehariannya. Hari masih panjang dan siapakan untuk menanti kejuatan dan keajaiban di raja ampat.

 

8 thoughts on “Wonderful Indonesia : Waisai Gerbang Menuju Raja Ampat

  1. Aku juga termasuk yang bermimpi bisa menginjakan kaki di sana, Dhave. Sayang sampai sekarang belum dapat kesempatan.
    Ha ha ha . . . istilahmu itu lho, ikan yang mati lebih dari 1 kali 😆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s