Eksotika Senja Rawa Pening

IMG_6620

Sebuah pilhan yang menantang dari tiga pilihan yang tersedia. Jika jatuh ke kiri maka akan masuk ke sungai, jika ke kanan akan terjembab di sawah atau tetap lurus dengan jalan tak lebih dari 50 cm. Inilah sebuah pilihan saat kedua kaki mengayuh pedal sepeda gunung untuk melintasi pesonda danau alam rawa pening. Ada sensasi saat kedua tangan bersamaan menarik tuas, kaki menahan pedal dan  roda depan sepeda sudah ditepian jalan dan tiba-riba “bruuk” saya terperosok.

Bersepeda keliling kompleks, melintasi jalan kampung, atau menyusuri jalan raya mungkin hal yang biasa. Coba sekali-kali menyusuri jalan di sepanjang pematang sawah. Alih-alih bisa menjaga keseimbangan, sekali terjatuh maka siaplah berkubang di lumpur dan mendapatkan umpatan dari petani karena padi-padinya ambruk. Di situlah letak tantangannya, bukannya mencari penyakit dan masalah namun ada konsekuesi resiko yang benar-benar harus dipahami dan dipertanggung jawabkan.

14023748301189887436

Tepian rawa pening sangatlah tepat untuk memacu adrenalin, menguji keseimbangan dan ketangkasan, menguras tenaga, bersiap-siap berkubang, dan memotret keindahan dan tentu saja dengan bersepeda. Menurut penduduk setempat belum pernah menemukan orang bersepeda di daerah tersebut, kalaupun ada hanya penduduk yang mencari rumput atau berangkat ke sawah. Sebuah kesempatan mahal untuk menjadi orang ngawur dalam menjajal jalanan setapak dengan kereta angin.

Jombor, demikian penduduk menyebut daerah yang kami gunakan untuk mengawali sepeda ngawur ini. Sebuah lokasi di sisi selatan Rawa Pening dan tepatnya di dusun rawa sari. Jika bersepeda dari pusat kota Salatiga maka harus mengayuh pedal sejauh 7km terlebih dahulu. Dari salatiga jalan cukup landai dan sedikit menurun menjadi awal yang menyenangkan karena tenaga belum habis terkuras. Dari ketinggian 618mdpl akan turun menuju 464mdpl.

14023748811074376803

Sesampai di Jombor maka jalan akan menyempit. Tepian sungai sraten menjadi petunjuk yang akan mengarahkan pada tepian rawa pening. Jalan yang sempit dan berkelok adalah medan yang menyenangkan. Kayuhan sepeda akan semakin menantang saat melewati jalan yang biasa dilewati kerbau. Jalan penuh lubang, kubangan dan kotoran. Jika tidak punya nyali atau tidak mau ambil resiko, lebih baik jalan sambil menuntun sepeda.

Senyum sapa para penduduk yang sedang berangkat ke sawah menyapa kami. Sepintas mereka melihat kami seperti orang kurang pekerjaan. Sesekali kami harus berhenti dan menepi saat berpapasan denga petani yang sedang mengangkut jerami atau bibit padi. Ada juga mereka yang menyunggi (menaruh di atas kepala) ikatan rumput untuk pakan ternak, bahkan acapkali mereka yang memberi jalan buat kami. Dalam keadaan ini kadang kami disadarkan akan arti penting prioritas, toleransi dan sikap mengalah. Belajar pada alam dan mereka yang setiap hari bercengkrama bersamanya.

Barisan bebek-bebek menyambut kami saat mereka sepertinya merasa terkejut dengan kedatangan keledai besi. Ramai-ramai mereka meloncat dan berenang di sungai. Sang pawang hanya terdiam sambil sesekali mengarahkan pentungan agar gembalaannya tidak keluar dari barisan. Pemandangan yang sangat langka di negeri ini dimana bisa melihat sebuah kehidupan yang bisa di atur dan teratur. Teman saya yang berasal dari Thailand sangat fasih menirukan suara bebek dengan nada yang tinggi “kab.. kab.. kab..” berbeda dengan suara anak negeri yang cempreng “kwek.. kwek.. kwek…”.

1402374939534554604

Akhirnya kayuhan harus berhenti setelah 3 batang bambu menjadi jalan di atas bentangan sungai. Terpaksa kali ini sepeda harus menaiki pundak kami. Jika tidak kuat mengangkat sepeda lalu meniti bambu maka bersiap-siap untuk berbasah-basah ria. Bambu sebai jembatan dengan sifatnya yang elastis maka gerakanya memantul-mantulkan tekakan yang kami berikan lewat langkah kaki. Jika tidak tepat menginjak, maka “byurrr..” saya jatuh.

Kami berpapasan dengan seorang pemilik perahu. Dia nampak konsentrasi menambal sela-sela papan di lambung perahu. Aspal cair digunakan sebagai media perekat untuk menambal dari kebocoran. Perahu-perahu ini disewakan buat para nelayan yang ingin menuju danau. Tarif yang dipatok untuk  sewa satu perahu per hari adalah Rp5.000,00. Perahu-perahu yang terbuat dari kayu sengon, suren dan mahoni sudah berjajar di tepian sungai. Ada juga yang beberapa sedang dalam perbaikan karena mengalami kebocoran.

Akhirnya yang kami cari ketemu juga. Sebuah warung di tepi sungai yang di kelilingi sawah menjadi pemberhentian kami. Segelas air putih, lalu di susul segelas teh hangat, ditambah beberapa pisang goreng. Makanan paling nikmat saat tubuh ini lelah dan lapar. Terasa lebih nikmat saat membayar apa yang sudah kami makan. Sebuah pisang goreng dengan ukuran sebesar tanduk anak kerbau dihargai 500 perak, tidak membayangkan jika ini di kota bisa menghasilkan uang 4000 perak. Harga yang fantastis, dan saya sepertinya enggan memberi tahu di mana warung ini, karena takut diborong semuanya.

1402375011119915962

Perjalanan dilanjutkan kembali. Kali ini kembali menyusuri jalanan pemantang sawah untuk melihat sisi timur rawa pening. Jalan yang kami lewati tak mudah, sebab kerbau ikut nimbrung di jalan ini. Ada sebuah tanjakan kecil, maka kaki ini sudah ancang-ancang untuk melewati tanjakan itu. Kamera video sudah menyala dan saatnya mengebut. Saat kecepatan tertinggi dan sampai di puncak tanjakan tiba-tiba “bruk” saya jatuh. jalan terputus karena dipakai kerbau untuk berkubang. Seorang ibu yang ada di situ lalu bertanya “kok tidak di rem mas…?” saya jawab “sudah bu.. rem depan, karena tangan kiri saya memegang kamera” sambil meringis kesakitan dan menahan malu.

Usai kejadian itu sepertinya lebih baik kamera ditanam di sepeda dan helm saja. Kayuhan pun dilanjutkan dan kali ini menuju stasiun Tuntang. Bangunan milik PT.KAI ini sepertinya dengan punya hajatan karena ada seorang penjaga yang melarang kami mengambil foto “kalau video gimana pak..?”. Di tengah stasiun ada yang sedang mengambil gambar untuk film dokumenter. Kamipun meminta ijin untuk melintas sambil melihat para serdadu belanda sedang tiarap di sepanjang rel kereta.

1402375041535438027

Jalanan besi menjadi jalur yang harus kami lewati. Jalan yang tidak rata karena penuh dengan pecahan batu dan kerikil. Jembatan besi yang berdiri di atas sungai tuntang harus kami lewati. Bilah-bilah papan sudah terpasang sehingga membantu kami untuk menyebrang. Akhirnya sampai juga kami di warung apung di sumurup-rawa pening. Sepiring nasi panas dan pepes ikan mas menjadi hidangan istimewa yang kami dapatkan. Semilir angin danau sambil riak gelombang menggoyang warung apung membayar rasa lelah.

14023751501244513800

2 jam kami menikmati suguhan pesona rawa pening saat arloji menunjukan waktu sudah pukul 3. Saatnya kembali mengayuh untuk mengejar matahari terbenam. tujuan kami adalah clombo yang terletak persis di sisi timur rawa pening. Jalur yang kami lewati melewati perkebunan milik penduduk. Hutan bambu dengan jalan setapknya memberikan sensasi saat melibasnya dengan sepeda. Jalan berpaving dan cor beton menjadi menu saat kedua kaki ini lelah mengayuh jalanan tanah.

14023752201572871198

Akhirnya kami sampai di titi palig timur rawa pening. Jalanan setapak dengan sisi sungai dan sawah sepanjang hamoir 2 km harus kami lewati. Di barat matahari semakin condong dan memaksa kami harus segera bergegas. Akhirnya sampai juga kami tepat di garis terluar rawa pening. Cahaya kuning kemerahan mengitari sang surya bulat utuh. Sungguh luar biasa pesona senja ini. Hamparan gunung merbabu, gajah mungkur, telomoyo dan ungaran membentengi danau indah ini dengan refleksinya yang menawan.

14023750881796279155

Saya nanar dan tidak bisa berkata-kata saat melihat momen indah ini. Emosional dan sentimentil tak kala detik-detik sang surya tenggelam. Entah dibelahan bumi mana saya bisa melihat pesona alam yang luar biasa indah ini. Kami bertiga berdiri disini menjadi saksi, ini Indonesia. Enggan sepertunya kaki ini melangkah walau sang surya sudah tenggelam. Golden sunset tak ingin kami lewatkan walau harus pulang kemalaman. Kawan cobalah sesekali menjadi orang kurang kerjaan untuk mengejar tantangan dan keindahan.

2 thoughts on “Eksotika Senja Rawa Pening

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s