“12,7 Hours ” di Nglanggeran

IMG_2388

Saya teringat pada sebuah film 127 hours saat melewati celah batu sempit ini. Saya sadar saat itu saya membawa pisau lipat buatan Cina dan jaket warna oranye. Sebuah film dari kisah nyata Aron Ralston yang harus mengamputasi tangannya saat terjepit dan terjebak selama 127 jam di Blue John Canyon. Dia terjebak selama 127 jam dengan tangan tertindis batu, sedangkan saya terjebak pada langit kelabu di canyon Nglanggeran.

Siapa tak kenal dengan gunung purba Nglanggeran. Obyek wisata yang mulai marak sejak adanya erupsi Gunung Merapi pada tahun 2006 menjadikan Nglangeran menjadi obyek wisata wajib saat mengunjungi Gunung Kidul, Yogyakarta. Saat saya mengunjungi lokasi ini, tak ubahnya dengan arus lalulintas ibu kota yang mengenakan sistem buka tutup. Mereka yang ingin mendaki harus bergantian dengan mereka yang turun. Jika ada yang memaksakan diri, apalagi yang memiliki badan lebar pasti akan tersangkut di tengah-tengah lorong.

13968347261682441349

Menikmati Yogya dikala malam lewat ketinggian Nglangeran (dok.pri).

Malam, rinai hujan mulai turun dan sepertinya ingin mencobai kami yang ingin mendaki. Tak ada pilihan lain selain jalan, begitu melihat berpasang-pasang anak baru gede begitu lincah mendaki walau dengan nafas terengah-engah. Untuk mencapai puncak gunung tidak lebih dari 1 jam perjalan, namun sangat sayang jika 60 menit harus selesai malam ini juga.

Di sebuah bibir jurang kami memutuskan untuk mendirikan tenda sekaligus menikmati langit Yogya. 2 buah tenda berdiri walau tidak sempurna, kerena ada kerangka yang patah, namun memberikan kami perlindungan dari angin. Malam ituk kami menikmati hingar bingar Yogya dari ketinggian sambil berpegangan pada kaki tiga yang menyangga kamera.

13968347821962567086

Puncak gunung yang nyaris tak ada celah untuk berpijak (dok.pri).

Malam larut dan saatnya merebahkan bada sesaat. Pukul 4 pagi alarm sudah berbunyi dan segera bergegas menuju puncak gunung purba. Kami berangkat pagi-pagi untuk menjemput mentari dan mendapat tempat yang istimewa. Namun, kami kecewa sebab puncak gunung sudah penuh sesak dengan para pengunjung begitupun langit yang nampak kelabu.

13968348791033196556

60 menit hanya dalam beberapa detik saja (dok.pri).

Sebuah kamera saya letakan dengan mode “time lapse” untuk merekam pergerakan awan dan matahari yang terbit dengan durasi 60 menit. Puncak Nglangeran penuh riuh dengan pengunjung, dari yang muda hingga yang tua bahkan anak-anak juga tidak mau ketinggalan. Akhirnya 1 jam berlalu dan matahari yang ditunggu tak datang juga, karena bersembunyi dibalik awan tebal.

Mata saya terpaku pada beberapa pengunjung yang nampak susah payah untuk sampai dititik tertinggi. Inilah khas wisata yang merakyat, semua orang bisa mengunjungi dengan segala macam cara. Ada seorang ibu-ibu dengan pakaian berbentuk jubah dan sepatu hak tinggi berusaha keras untuk sampai pada tujuan, walau dengan wajah yang lelah. Ada juga seorang bapak yang nampak terseok-seok dengan sandal selopnya. Remaja putri tak kalah seru, dengan dandanan menor masih saja nekat dan tidak sadar bedaknya luntur oleh keringatnya. Remaja putra tetap saja jalan dengan gagahnya dengan rokok ditangan.

Potret pengunjung nglanggeran dengan segala tingkah polahnya. Ketidak tahuan akan medan dan persiapan acapkali membuat para pengunjung salah kostum. Saya kira mereka sangat tidak nyaman dengan kostum dan gaya mereka, namun apa boleh buat sebab “show must go on“.

1396834949132390012

Pemandangan dari Nglanggeran (dok.pri)

Nglangeran yang berisi bongkahan-bongkahan batu besar memang sangat mempesona dan memanjakan mata. Batu-batu utuh mirip beton campuran pasir dan kericak tersebar dimana-mana. Ingin rasananya berlarian disana mirip gaya Aron Ralston saat menuruni celah-celah canyon. Hutan heterogen di Nglangeran begitu menyejukan mata saat bebatuan yang terlihat tandus begitu kontras dengan hijau dedaunan yang rimbun.

 

13968350151886641562

Batu-batu raksasa yang menghiasi Nglanggeran (dok.pri)

Saatnya harus turun sebab pengunjung semakin banyak dan mengular. Tak salah jika anda sesaat saja mengunjungi gunung purba ini. Pastikan pakaian anda tidak salah agar perjalanan ini nyaman dan aman. Akhrinya 12,7 jam  berlalu…

Advertisements

10 thoughts on ““12,7 Hours ” di Nglanggeran

  1. Hahaha, saya juga sering bertemu dengan wisatawan “salah kostum”, terutama di medan alam bebas seperti ini.
    1. mereka tidak punya pakaian pergi lain selain yang mereka kenakan.
    2. sehabis berwisata, mereka hendak mampir ke tempat lain. Jadi, klo mesti ganti kostum lagi ribet.
    3. menurut mereka yang penting pakaian itu menutup aurat.

    Begitulah mas Dhave, Ditunggu lagi kedatangannya di musim kemarau pas langit tidak mendung. Semoga dapat time lapse yang diinginkan. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s