Relawan, Tubuhmu Untuk Kemanusiaan

Makanpun bersama.

Makanpun bersama.

Gunung Sinabung murka hingga mengambil 6 nyawa relawan yang sedang mengunjungi lokasi bencana. 4 tahun yang lalu, yakni tahun 2010 Gunung Merapi juga murka dengan memakan korban lebih dari 100 nyawa melayang. Relawan adalah salah satu yang harus menerima konsekuensi logis dari tragedi itu.

“mau tidak jadi relawan merapi..?” saya bertanya pada mereka. Awalnya mereka ragu, tetapi saya berusaha menjamin permasalahan keselamatan. Namun bukan itu yang mereka kawatirkan, tetapi mereka menanyakan “apa yang harus saya lakukan”.

Sangat sederhana, apa yang harus aku lakukan, itu kata mereka. Saya hanya berkata “lakukan apa yang ingin kamu lakukan, jika tidak tahu ikut-ikutan saja dan jika belum tahu maka tunggu perintah” itu yang saya ucapkan dan anggukan tanda mereka mengerti.

Pekerjaan sederhana, tetapi butuh kecermatan dan ketelitian.

Pekerjaan sederhana, tetapi butuh kecermatan dan ketelitian.

Pekerjaan buat mereka sangat sederhana. 2 karung berisi gula harus mereka pindah dalam kantung-kantung plastik 1/2Kg. Beberapa kotak telur ayam harus mereka bagi-bagi menjadi ratusan paket. Puluhan karung beras harus dibagi-bagi menjadi paket ukuran kecil. Masih banyak lagi yang lainnya, seperti bumbu dapur, minyak dan semua sembako haru mereka bagi rata.

Pekerjaan yang sederhana, tetapi mereka menjadi pioner dalam gudang logistik. Belum usai urusan logistik mereka harus di pasrahi dengan pembagian selimut dan obat-obatan, dan tidak mudah melalukan hal tersebut. Mereka adalah pekerja keras dibalik layar yang tak henti-hentinya bergerak.

Malam pun beranjak, saat semua terlelap tidur mereka masih berkutat dengan catatan untuk rencana besoknya. Pagi-pagi buta mereka sudah bangun dan menyiapkan segala sesuatunya sebelum pengungsi dan relawan bangun. Inilah buah kerja keras mereka yang tak terlihat.

Mereka yang memanajerial sumbangan ini.

Mereka yang memanajerial sumbangan ini.

Menjelang siang hari, mereka ikut dalam rombongan yang mengantarkan bantuan logistik ke beberapa posko pengungsian. Saya melihat wajah letih mereka. Saya tahu mereka lelah, ngantuk dan beban itu dilekan dalam tumpukan karung beras yang akan dikirim. Aspal yang tak rata kadang membuat truk yang kami tumpangi bergoyang kekakan ke kiri, tetapi hentakan itu semakin meninabobokan mereka. Inilah sebuah kenikmatan tidur saat benar-benar lelah dan mengantuk.

Saya paham dengan wajah lelahmu. "tidurlah dengan nyenyak dan rasa lelah akan menambah lelapnya".

Saya paham dengan wajah lelahmu. “tidurlah dengan nyenyak dan rasa lelah akan menambah lelapnya”.

Sampai juga di tempat tujuan. Dengan sigap mereka membuka catatan untuk menyalurkan bantuan. Mereka bukalan orang berotot yang mampu memindahkan paket-paket sembako, tetapi kekuatan mereka terletak pada sisi manajerial. Menakar siapa yang membutuhkan dan menaksir berapa banyak dan itu tidak ada dalam otak mereka yang berbadan kuat.

Usai menyalurkan bantuan saatnya pulang ke posko sambil mengangkut relawan yang harus pergi pulang. Hati saya cemas sekali saat melewati sungai yang penuh dengan material vulkanik. Saya melompat ke tepian dan memastikan semua aman. Tiba-tiba truk yang membawa kami terperosok dan sedikit lagi ada bibir dam sedalam lebih dari 20m. Mereka ada di dalam, dan saya menjamin keselamatan mereka.

Seperti habis hati saya melihat kejadian ini. "mereka ada di dalamnya".

Seperti habis hati saya melihat kejadian ini. “mereka ada di dalamnya”.

Saya hanya bisa teriak meminta bantuan dan akhirnya berbondong orang datang untuk menyelamatkan. Lega bercampur gelak tawa, melihat kebodohan saya membawa mereka. Hampir 2 minggu mereka terjun di lokasi bencana. Wajah letih dan lelah diwajah mereka benar-benar saya rasakan. Saya ingin mencoba menghibur mereka, tetapi tidak tahu harus bagaimana.

Sedikit memberikan hiburan.

Sedikit memberikan hiburan.

Seperangkat mainan coba saya keluarkan. Tali dinamis sepanjang 50m dan beberapa alat pengaman coba saya mainkan, siapa tahu bisa menghibur mereka. Saya berharap ini bisa menjadi obat jenuh buat mereka yang sudah lelah dengan sembako, selimut dan debu-debu vulkanik.

Ternyata mainan saya ya sebatas main-main saja. Sepertinya mereka ingin sesuatu yang serius dan benar-benar sebuah realiat dan bisa mengerti apa arti resiko. Akhirnya Merapi adalah tujuan untuk mencari hiburan tersebut.

Belum genap 40hari Merapi erupsi, kami akan menyambangi. Mungkin kami menjadi orang yang pertama yang mengunjungi setelah amuk murkanya tempo hari. Jalan yang sudah tertutup dengan pohon-pohon tumbang berlapis debu silika dan vulkanik tak menghalangi kami untuk menyambangi Merapi.

saya sudah mengantarkan kamu menuju sumber tragedi ini.

saya sudah mengantarkan kamu menuju sumber tragedi ini.

Benar saja, mungkin dia terhibur dengan tantangan ini. Dia tahu akan makna sebuah resiko saat mendengar suara bergemuruh dari kawah merapi, hempasan hujan badai dan beberapa kali harus jatuh bangun dari batuan yang licin. Inilah persembahan untuk seorang relawan, terimakasih ku ucapkan dan salam sayangku untuk aksi kemanusiaanmu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s