Anti Mainstream Itu Sebuah Pilihan

_MG_2146

Anti Mainstream artinya melakukan sesuatu yang tidak biasa dilakukan oleh orang orang pada umumnya, Namun masih bisa diterima dan perbedaannya yang membuat unik. Saya berpikir itu nyleneh, eksentrik, tidak pada pakemnya namun masih dalam batas rambu-rambu kesepakatan bersama konsensus.

Ingin menjadi orang terkenal atau dikenal, maka jadilah anti mainstream. Namun, ada harga yang harus dibayar untuk pilihan ini. Mungkin akan dibilang “wong edan, orang gemblung, aneh dan lain sebagainya”. Jika anti mainstream itu menarik, makan akan dibilang unik, keren dan pujaan lainnya.

Sesekali saya mengajarkan keponakan biar sedikit anti mainstream. Saya mengajarkan bagaimana cara membuat minuman teh hangat. Pada prinsipnya sama dan tidak jauh berbeda dengan cara-cara orang pada umunya. Yang membedakan dan terlihat unik adalah saat mengaduk gulanya.

Biasanya orang mengaduk gula dengan cara memutar sendok untuk mengaduk air secara memutar. Kali ini pegang sendok tepat vertikal lalu gerakanan gelasnya secara memutar. Saat itu sedang dirumah makan, dan ponakan melakukan hal tersebut dengan baik. lihatlah tidak sedikit yang kagum dengan tingkah polah dia namun banya juga yang bilang “cah edan”. Saya sempat melirik ke berbagai sudut, ternyata ada yang menirukan juga.

Anti mainstream saya kira bukan prilaku yang abnormal atau anti kemapanan, namun sebuah sudut pandang lain yang diwujudkan dalam kreatifitas. Mereka yang nyleneh ini adalah pemikir-pemikir ulung dengan daya nalar dan seni yang luar biasa. Mereka adalah orang yang mampu menakar resiko dan menjalani segala bentuk konsekuensinya.

Naik gunung, dengan menggendong ransel besar, pakaian lapangan dan aneka aksesoris. Itulah sudut pandang kebanyakan orang mengenai petualang ketinggian. Mereka menganggap gagah terhadap orang-orang yang mengenakan pakaian perlengkapan gunung. Kesan gagah, power full dan keren itu yang nampak. Tak ada yang mencibir bahkan memberikan acungan jempol dan membuat iri karena perlengkapannya yang bagus.

_MG_2118

Bagaimana mereke yang hanya menyandang hidrobag/tas berisi kantong air, tongkat treking, kaca mata hitam, kaos tipis lengan panjang, celana pendek, kaos kaki panjang dan sepetu lari 1 jalan dengan para pendaki gunung yang terseok-seok menggapai puncak. “wong edan” itu yang terlontar saat ada pelari gunung yang menuju puncak tak lagi mendaki, tetapi berlari. Mungkin bagi pendaki gunung butuh waktu 6-8jam perjalanan, tetapi bagi pelari gunung cukup 2 jam lebih sedikit sudah sampai di puncak.

Nah pelari gunung, adalah wujud anti mainstream dari para pendaki. Mereka tak lagi mengenakan perlengkapan pendaki gunung pada umumnya. Apakah mereka nekat, karena tidak sesuai standar saat sama-sama ingin mencapai puncak gunung.

Pelari gunung bukanlah orang yang nekat, tetapi orang-orang penuh perhitungan bahkan lebih rumit dan susah. Butuh persiapan lama untuk mencapai kondisi fisik yang ideal, bahkan lebih dari standar. Contoh sederhana, jarak tempuh sampai puncak gunung adalah 6Km, maka para pelari gunung harus bisa 3-4kali lipat menguasai medan datar, yakni harus mampu berlari 18-24Km.

Tiap hari berlatif fisik, baik kekuatan nafas, jantung dan otot. Jika sudah mencapai fisik yang ideal baru melakukan simulasi dengan berlari dengan medan variasi. Melakukan test kebugaran berkenaan dengan rasa lelah, dingin, lapar, hujan dan angin. Jika kekuatan fisik tercapai maka saatnya orientasi medan yakni hitung-hitungan di atas kertas.

Untuk mengurangi beban maka diperlukan bekal yang seminim mungkin tetapi memilik efek semaksimal mungkin. Pelari gunung tak lagi membawa seperangkat alat masak komplit tetapi makanan siap makan, tak lagi siap saji. Para pelari ini makan sambil jalan bahkan berlari.

Masih terinspirasi dengan film 5 cm dan ranu kumbolo di gunung Semeru, kata teman saya itu “mainstream”. Berbicara danau di gunung, seperti ranu kumbolo atau segara anak di gunung Rinjani, pasti semua ingin kesana dan kemping. Katanya itu sudah anti mainstream, tetapi sekarang sudah banyak yang melalukannya.

IMG_8621

Habema 3200 mdpl sebuah danau di pegunungan tengah Papua. Dari tepi danau ini bisa melihat puncak trikora yang berselimutkan salju abadi. Di ketinggian seperti itu pasti dingin sekali. Jaket berlapis dan tebal dikenakan untuk melihat pemandangan yang anti mainstream tersebut. Tiba-tiba byur… saya berenang di lelehan gletser di danau tersebut.

Bisa di simpulkan, anti mainstream bukanlah orang-orang yang sok-sokan ingin tampil beda, namun ingin menjadi beda dengan orang lain dengan cara dan pilihannya, dengan segala resiko dan konsekuensinya.

IMG_8990

Advertisements

19 thoughts on “Anti Mainstream Itu Sebuah Pilihan

  1. Wah, pelari gunung dengan jurus spesial yaitu “kambing terbang” ya mas Dhanang. Hehehehe….
    Hidup anti mainstream!!
    Tapi takutnya suatu hari nanti anti mainstream juga akan menjadi mainstream. Contohnya, pendaki gunung jaman saya masih SMA dulu sudah merupakan bentuk anti mainstream, tapi sekarang pendakian sudah menjadi hal yang mengarah ke mainstream karena mungkin banyak orang mengira pendaki itu terlihat keren (pengaruh film sekian sentimeter mungkin). Contoh lain, punk dan emo yang dulu dari dandanannya sampai gaya hidupnya yang orang bilang koyo wong edan, sekarang juga sudah menjadi hal yang mainstream. Banyak orang berdandan ala punk dan emo tanpa tahu menahu tentang saripati kehidupan punk dan emo.
    Lama-lama anti mainstream akan berubah menjadi mainstream juga…hehehehe..just my thought..

    • Mba Vero,,, yups,,,, kalo banyak followernya yan udah jadi mainstream,,,,
      makanya anti mainstream adalah kreatifitas terus menerus… dan dinamis…
      Kemping di ranu kumbolo dan segara anak dulu ngga biasa, sekarang biasa dan biasa aja… tapi renang di gletser papua.. mungkin baru aku saja hahahaha

  2. Selama kemana-mana masih pakek kolor berarti kamu masih mainstream! – Suminah, 26 tahun, bakul gorengan.

    Mau mainstream kek, anti mainstream kek, sek penting ojo jotos-jotosan! :mrgreen:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s