Mantan Hutan Kalimantan Yang Malang

Dengan mata kepala, saya melihat rombongan orang utan bergelayutan. Bunyi “gedebug” berung menjatuhkan diri dari pohon hingga rusa-rusa yang berlarian kesana-kemari saya lihat langsung dilokasi. Tak lama kemudian ayah saya membawakan saya bebuahan hutan yang katanya buah rotan. Sambil makan dibawah pohon dengan lingkar batang 3 takupan lengan orang dewasa saya memakan sambil menikmati surga indah pedalaman Kalimantan. Kejadian ini sebelum tahun 1990.

Waktu berlalu, 2013 kaki ini menginjakan kaki di tanah yang dulu penuh dengan hutan lebat dan nyaris tidak bisa melihat langit sesaat masuk. Kini langit kalimatan terlihat luas dan cakrawala terbuka. Hutan belantara sudah berganti dengan kebun sawit. Mana buah rotan, rambutan hutan yang dulu ada, sekarang tiada.

Green Peace mengungkapkan “Sangat buruk ketika mengetahui semakin banyak perkebunan kelapa sawit yang menghancurkan habitat hewan yang hampir punah seperti Harimau Sumatera dan Orangutan”. Tepat perkataan mereka, tak adalagi mamalia yang bergelantungan dipepohonan dengan tampang lucu si anak yang digendong induknya. Auman beruang, suara burung, kepakan burung enggang dan penhuni borneo paradise lainnya sudah hilang entah kemana.

Image

Rerimbunya pohon akasia sebagai pengganti hutan alam. Apakah sanggup mengembalikan surga itu..?

Sekarang rerimbunnya pohon Akasia (Acacia mangium) menjadi hutan mirip barisan anak SD upacara, yakni seragam. Hutan Kalimantan memang terkenal sebagai paru-parunya dunia. Sumber oksigen bagi planet biru ini sudah compang-camping karena penebangan hutan dan kegiatan pertambangan terbuka. Kini dicoba untuk mengembalikan fungsi semula yakni sebagai hutan.

Sisa-sisa lahan tebangan yang sudah gundul kini menjadi lahan baru untuk bercocok tanam kayu. Akasia dan Kayu Putih/Ecaliptus adalah dua spesies yang menghiasi lahan-lahan bekas tebangan tersebut. Tanaman rimbun, lebat sepertinya sudah membuat sela-sela Kalimantan menjadi alami kembali.

Model tanaman yang monokultur yakni dengan satu jenis pohon sepertinya indah didepan mata. pohon yang seragam, tinggi yang sama, tertata rapi dan enak dipandang. Mata manusia sepertinya sudah tertipu dengan permintaan ekologis. Keragaman hati yang sudah diberangus oleh satu jenis tanaman dan mengakibatkan flora fauna lain tak bisa hidup disini karena tidak ada tempat dan makanan.

Penduduk setempat sempat menceritakan, dulunya lahan disini sebelum ditebang masih banyak hewan berkeliaran. Orang utan bergelayutan berpindah dari pohon satu ke pohon lainnya, tetapi sekarang mereka entah hilang kemana. Ironisnya saat mereka kembali, kini dianggap sebagai hama tanaman.

Pohon Acacia mangium sebagai bahan pembuat kertas yang menjadi hutan dadakan menjadi makanan Pongo-pongo yang kelaparan. Orang utan ini menyesap kulit-kulit akasia untuk memakan kambium dan daun mudanya. Kelakuan mamalia aboreal ini menjadi ancaman bagi pengusaha kayu dan dianggap sebagai hama, akibatnya sekarang menjadi hewan buruan.

Pembukaan jalan darat sebagai sarana transportasi tak juga ubahnya membuka jalan untuk kerusakan lingkungan. Mungkin dampak membuka lahan untuk akses jalan tak begitu bermasalah, namun mudahnya akses ini memudahkan juga untuk merambah sisi-sisi jalan yang berupa hutan. Inilah dampak yang timbul kemudian, karena akses yang dipermudah.

Pembangunan nadi-nadi menuju paru-paru Kalimantan.

Pembangunan nadi-nadi menuju paru-paru Kalimantan.

Jalan dengan tanah liat berwarna merah yang super lengket kala hujan kini bak nadi-nadi di pedalaman Kalimantan. Dari sinilah pelosok-pelosok kalimantan bisa ditembus dan sebagai sarana angkutan barang dan jasa. Dampak negatif ada konsekuensi saat tidak ada kendali yang ketat terhadap mereka yang kurang ramah terhadap lingkungan.

Sebelumnya jalur sungai adalah sebagai andalan utama untuk sarana transportasi. Sungai besar dan lebar yang membelah seluruh pelosok Kalimantan sebenarnya adalah jalan tol, namun tak efektif untuk menjangkau pedalaman dan sangat tergantung pada musim dan resiko yang besar.

Kini sungai-sungai besar tak seramai dulu saat jalan-jalan darat belum sebaik seperti sekarang. Jembatan penyebrangan sudah bertebaran dimana-mana yang semakin membuat mudah akses jalan darat. Walaupan sudah banyak ditinggalkan, fungsi sungai masih juga dipakai untuk sarana transportasi jarak dekat. Ketingting, speed baot, tongkang, klotok masih terlihat berkeliaran di sungai Lamandau, salah satu sungai besar di Kalimantan Tengah.

Kalimantan tetaplah paru-paru dunia apapun keadaanya. Alih fungsi lahan, kerusakan lingkungan yang kini menjadi momok dan perhatian dunia setidaknya mampu menyadarkan beberapa pihak. Disisi buruknya Kalimantan dengan adanya degradasi fungsi ekologi, setidaknya masih ada sisi alaminya. Penduduk lokal masih bisa mencari penghidupan dengan cara yang ramah lingkungan.

Alam ini sudah menyediakan apa yang manusia dan penghuninya butuhkan. Tindakan tidak ramah lingkungan inilah yang menguntungkan salah satu pihak telah mengubah keseimbangannya. Ada yang tertimpa bencana ada yang berpesta pora diatas belantara Kalimantan, Protect Paradise.

Clip

6 thoughts on “Mantan Hutan Kalimantan Yang Malang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s