Terbit di Sunset Point dan Terbenam di Wat Chalong

Prom Thep Cape, sunset point tapi tiba di sini pukul 10 pagi.(dok.pri).

Prom Thep Cape, sunset point tapi tiba di sini pukul 10 pagi.(dok.pri).

Apa yang terlintas di benak anda mendengar kata “sunset point“?. Bagi saya, kata tersebut memberikan imajinasi, saya berdiri di tepi pantai atau sebuah puncak bukit menjelang senja. Perlahan-lahan penyangga kaki tiga kamera saya pasang beserta kameranya, menunggu saat-saat indah yakni terbenamnya sang surya. Sambil menunggu sunset akan lengkap jika ditemani segelas minuman hangat dan orang terdekat. Suasana yang romantis, temaram, dan penuh kehangatan, namun kenyataannya suasanya panas, terik, terang benderang dan yang ada adalah kesendirian ditemani sebotol air mineral.

Hari terakhir di Phuket-Thailand, saya mencoba membutakan diri. Saya tidak lagi melihat peta-peta wisata untuk mencari tahu informasi atau tentang apa saja mengenai lokasi yang akan saya kunjungi. Saya mencoba meraba-raba sambil berjalan dan berharap banyak mendapatkan kejutan selama perjalanan.

Melintasi sisi selatan pulau Phuket yang berkelak-kelok menanjak dan menurun. Di sisi kanan jalan adalah laut Andaman yang dibatasi oleh pantai dengan pasir putihnya. Saat itu jam tangan menunjuk angka 10 dan bisa dibilang waktu penghabisan untuk memotret lansekap. Waktu idela adalah sebelum pukul 10 atau sesudah pukul 3 sore. Waktu ini berkaitan dengan arah sinar matahari dan kekuatan cahaya.

13905518841718796373
The Big Buddha yang menggoda saya (dok.pri).

Memori kamera yang tinggal 4GB memaksa jemari ini harus selektif benar menekan tombol rana. Hanya obyek-obyek terpilih saja yang harus dipotret. Kali ini saya tidak akan obral jepretan, mengingat sisa-sisa gambar kurang dari 100 frame lagi.

13905519391162232764
Kampung nelayan di Thailand (dmk.pri).

Rawai beach, sebuah pantai di sisi selatan Phuket yang sudah menjadi lahan kunjungan bagi para pelancong. Sesaat bus berhenti di kampung nelayan (sea gipsy village) dan penumpang tidak diijinkan turun. Pemandu kawatir nanti banyak anak-anak yang meminta-minta uang. Pemandu menunjukan perkampungan yang agak kumuh, dengan rumah yang padat, beratapkan seng dan penduduk yang berkulit gelap. Salah satu jualan pariwisata di sini adalah menyaksikan potret perkampungan nelayan. Saya hanya diam dan tak berkomentar, dalam hati saya “di Indonesia ada banyak dan lebih parah lagi”.

Bus kembali berjalan menyisir pantai rawai. Samar-samar di sisi bukit sebalah barat saya melihat patung Buddha yang duduk bersila diatas bukit. Sudut pandang yang menarik untuk memotret patung The Big Buddha, tapi apa daya bus melaju terus.

1390551994498957580
Teluk Ham Nai dilhat dari Prom Thep (doc.pri).

Akhirnya bus berhenti di sebuah pelataran. “selamat datang di Prom Thep Cape”, inilah sunset point yang dimaksud. Kemarin saya membolak-balik jadwal kunjungan dan berharap inilah gong dari perjalanan yakni mengabadikan matahari terbenam dari ujung selatan pulau Phuket. Mimpi saya sirna seketia saat pemandu hanya memberi waktu sekitar 1 jam untuk mengunjungi tempat ini.

13905520411514445580
Tempat sembahyang di Prom Thep (dok,pri).

Prom Thep Cape, adalah ujung selatan dari Phuket. Dari sini mata bisa leluasa memandang hamparan Laut Andaman di sisi selatan. Di sebelah barat daya terdapat sebuah Ham Nai yang mirio bulan sabit atau laguna raksana. Banyak kapal layar dan perahu nelayan bersandar di teluk ini dan menjadi pengisi lansekap. Di ujung barat, kembali The Big Buddha menyembul dari puncak bukit sambil dikipasi oleh kincir angin. Saya tidak membayangkan jika ini adalah saat senja dan saya berdiri disini memotrat tenggelamnya matahari, apa daya saat ini adalah pukul 10.

13905520901736225240
Hanya bisa dari balik pohon untuk mengindari matahari yang terik bersinar (dok.pri).

saya hanya bisa berjalan-jalan di seputaran taman yang asri. Burung-burung liar hinggap kesana-kemari sambil memamerkan kicauannya yang merdu, sepertinya sedang menghibur kekecewaan saya. Di bawah pohon saya melihat sebuah tempat pemujaan. Ada sebuah pelataran berbentuk lingkaran yang dikelilingi oleh patung-patung gajah. Beranekan macam ukuran gajah, dari yang besar hingga yang mungil. Pose-pose patung gajah di sini juga unik, dari yang bertampang garang dan ada juga yang wajahnya lucu menggemaskan. Andai ini bukan tempat ibadah dan ada tulisan “silahkan bawa pulang” sudah pasti saya angkut beberapa ekor.

13905521511335641431
Andai bisa dibawa pulang barang seekor saja (dok.pri).

Akhirnya bel tanda kembali ke bus berbunyi. Saatnya meraba-raba lagi dan perkiraan saya adalah pergi ke patung Buddha setinggi 45m. Lagi-lagi saya kecewa karena bus berjalan menjauhi patung Budhha, tetapi mengarah pada kuil-kuil yang berwarna-warni dan kontras. Inilah kuil terbesar di Phuket, yakni Wat Chalong.

Wat Chalong adalah sebuah kuil yang dibangun pada tahun 1837 dan menjadi yang termegah di pulau ini. Kuil yang didedikasikan untuk penghormatan kepada dua biksu, yakni; Luang Po Chaem dan Luang Po Chuang. Dari pelataran parkir saya berjalan langsung menuju kuil yang terbesar dan tertinggi.

13905521941022199106
Kuil terbesar dan tertinggi di Wat Chalong (dok.pri).

Di pintu masuknya ada petugas yang meminta untuk melepas alas kaki dan memberikan sarung. Karena ini tempat ibadah maka pengunjung harus benar-benar memperhatikan etika. Di lantai pertama terdapat patung-patung Buddha yang keseluruhannya dibalut warna kuning emas. Kebetulan saat itu ada pengunjung yang sedang beribadah maka saya melanjutkan menuju lantai atas.

13905522391497795140
Di dalam ruangan kuil di Wat Chalong (dok.pri).

Sepanjang tangga menuju lantai atas terdapat lukisan dinding yang menceritakan perjalanan spiritual. Saya hanya bisa mereka-reka dan membayangkan saja, dan tidak akan saya tulis karena kawatir terjadi kesalahan. Saya menikmati lukisan demi lukisan. Akhirnya saya sampi di lantai 4 yakni lantai tertinggi di kuil ini. Dari lantai ini mata bisa memandang ke seluruh penjuru mata angin untuk melihat lansekap. Kembali the Big Buddha memperlihatkan dirinya dan hanya dari kejauahan saya bisa memandangnya.

13905522841281618800
Nan jauh di sana the Big Buddha terlihat (dok.pri).

Di lantai 4 juga terdapat tulang Buddha yang ditaruh dalam kotak kaca dan mendapat penjagaan ekstra. Inilah benda yang disakralkan, sehingga saya tak berani berlama-lama di tempat ini. Perlahan saya turun menuju pintu keluar untuk kembali bekeliling di Wat Chalong.

Di bawah pohon Bodhi saya mendinginkan tubuh, karena cuaca panas dan matahari bersinar dengan teriknya. langkah kaki saya membawa ke dalam kuil yang kebetulan banyak orang sedang antri untuk bersembahyang. Rasa penasaran saya timbul lantas ikut mengantri bersama pelancong-pelancong yang lain.

13905523211245975675
Seorang anak menempelkan kertas emas di tubuh biksu (dok.pri).

Saya akhirnya masuk ditengah-tengah kuil yang di dalamnya banyak yang bersujud sambil membawa hio dan ada juga yang menggoyang-goyang batangan bambu dalam tabung. Selintas saya melihat anak kecil yang menempelkan kertas berwarna kuning emas mengkilat dan menempelkan pada tubuh patung biksu.

Tiba-tiba saya dikejukatkan dengan suara ledakan yang bertubi-tubi, ternyata suara petasan. Saya berjalan mencari sumber suara petasan tadi. Akhirnya saya menemukan bangunan mirip holo (labu tempat air) yang diberi lubang untuk menyalakan petasan. Cukup lama saya berdiri di tempat tersebut, namun sepertinya saya kurang beruntung, karena tak ada lagi petasan yang dinyalakan.

1390552363613359719
Beberapa sudut di kuil Wat Chalong (dok.pri).

Saya jalan kembali menyusuri kuil-kuil di Wat Chalong yang berjumlah 5-6 bangunan. Mata saya melihat kesemua penjuru, sepertinya orang-orang satu rombongan tidak ada lagi, artinya saya orang terakhir yang belum masuk bus. Benar saja, saya sudah ditunggu orang satu bus. Tak berapa lama bus kembali berjalan.

Tujuan selanjutnya adalah peternakan lebah. Di lokasi ini kami disuguhi presentasi tentang lebah madu dengan hasil berupa; madu, bee pollen, dan royal jelly. Semua yang hadir mendapatkan contoh untuk dicicipi, walau seukuran sendok kecil. Semua pegawai disini bisa berbahasa Indonesia. Sepertinya ini bukan tujuan saya, sehingga buru-buru mengikuti teman yang melarikan diri dari ruangan presentasi.

Tujuan terakhir dari jalan-jalan ini adalah mengunjungi industri permata Gems Gallery. Kembali saya bingun hendak melihat apa. Kami di antar naik kereta mini masuk dalam ruangan yang isinya diorama. Diorama berisikan sejarah batu permata dari terbentuknya di perut bumi hingga menjadi perhiasan. Saya hanya terkagum akan teknologi tata suara dan gambar dalam diorama yang benar-benar seperti hidup.

1390552403456238758
Di gems Gallery kami disuguhi beraneka macam batu permata (dok.pri).

Keluar dari lorong kereta kami di ajak menuju tempat pembuatan kerajinan batu permata. Usai dari tempat tersebut lalu dibawa keruang pamer sekaligus toko. Kami dipersilahkan untuk membeli, dari yang harganya ratusan bhat hingga ratusan juta baht. Mata hanya melirik saja sebagai tanda tak mampu. Hanya beberapa kartu pos yang saya ambil karena tersedia gratis, selain itu tamu juga di suguhi teh dan kopi gratis dan itu juga yang tidak saya sia-siakan. Akhirnya perjalana di tutup menuju bandara lalu terlelap dan tahu-tahu sudah mendarat di jakarta.

Advertisements

4 thoughts on “Terbit di Sunset Point dan Terbenam di Wat Chalong

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s