Gunung dan Pecintanya

Mendaki gunung adalah berwisata di alam. Acapkali apa yang kita bawa ke puncak kita tinggalkan begitu saja, termasuk sampah. parah lagi adalah aksi-aksi vandalisme. (dok.pri).

Mendaki gunung adalah berwisata di alam. Acapkali apa yang kita bawa ke puncak kita tinggalkan begitu saja, termasuk sampah. parah lagi adalah aksi-aksi vandalisme. (dok.pri).

Bersih gunung atau reboisasi mungkin sudah tak asing lagi bagi peggiat alam bebas terutama pendaki gunung. Mirisnya gunung-gunung di Indonesia terutama yang sering menjadi tujuan pendakian adalah banyaknya sampah yang ditinggalkan oleh mereka yang kurang bertanggung jawab. Menjadi sebuah keprihatinan bersama, bahkan ada informasi jika di Gunung Semeru diperkirakan ada 2 ton sampah yang menumpuk.

Masalah sampah adalah hal yang kompleks, terutama jika sudah tercecer di sepanjang jalur pendakian. Suatu saat ada oprasi atau kegiatan bersih gunung, yakni mengangkut sampah-sampah dari puncak gunung dan sepanjang jalur pendakian. Mungkin sudah biasa dalam urusan sampah di gunung ini.

Tak kalah dengan sampah, tindakan pendaki ngawur yang satu ini cukup membuat kesal bahkan marah. Aksi vadalisnme cukup familiar, dari corat-coret bangku dan meja sekolahan, taman-taman kota hingga batang pohon dan batu di gunung. Rita Ruby Hartland pernah melantukan lagu “alam dan pecintanya” dengan syair yang menampar para pelaku vandalisme.

Keprihatinan oleh aksi vandalisme terutama di gunung maka butuh penangangan yang ekstra. Mungkin jika coretan itu di dalam sekolan, tembok atau taman kota akan dengan mudah untuk menghapusnya. Bagaimana jika coretan tersebut ada di batu-batu gunung, maka butuh kerja keras untuk mengatasinya.

1389153084525487247
Langkah kecil untuk mengembalikan wajah asli batu-batu alam (dok.pri).

Bersama-sama kawan yang peduli dan menentang aksi vandalisme maka aksi nyata dengan mendaki gunung sambil membawa peralatan untuk menghapus coretan terutama di bebatuan. Gunung merbabu di Jawa Tengah, yakni di jalur Thekelan kegiatan itu berlangsung.

Berangkat malam hari agar sampai tujuan dini hari. Istirahat sejenak hingga menjelang fajar tiba. Saat matahari terbit semua tim bergerak ke sasaran masing-masing untuk mencari batu-batu yang penuh dengan coretan dari cat. Tidak mudah menghampus coretan tersebut karena harus memakai cairan khusus yang kami bawa dari bawah.

Thiner atau minyak cat hingga soda api kami pakai untuk melunturkan cat-cat yang menempel pada batu. Sikat dan lap adalah perlakuan terakhir untuk membersihkan batu-batu tersebut dari cat. Akhirnya setelah setengah hari berkutat dengan batu-batu yang di cat, kegiatan tersebut selesai. Kini batu-batu alam itu berubah wajahnya seperti sedia kala dan menunggu pioner untuk menutupi hasil sikat-sikat kami yang sedikit melukai permukaan batu.

13891531501687739736
Mendaki gunung tak sebatas menginjakan kaki di puncaknya, tetapi kebaikan apa yang kita bisa berikan kapada gunung.(dok.pri).

Sebuah pengalaman yang manarik yakni dengan menyikat batu-batu di gunung hasil kreatifitas yang salah tempat. Selain membersihkan bebatuan, kami juga malakukan kampanye untuk menentang aksi vandalisme di gunung. Setidaknya aksi kecil ini bisa menjadi langkah agar aksi vandalisme itu tidak ada di gunung.

Alam yang indah ini sangat sayang untuk di kotori. Terlebih batu-batu alam sangat disayangkan dicorat-coret hanya untuk mengabadikan nama meraka bahwa telah sampai disini. Gunung adalah destinasi wisata, dan tidak sedikit turis dan pendaki asing menyambangi gunung-gunung di Indonesia. Sangat di sayangkan jika tuan rumah malah merusak alamnya sendiri sedangkan orang asing begitu mengagumi dan jauh-jauh datang mendatangi. Indonesia travel, mari ciptakan alam yang lestari dengan tetap santun dalam melankah dan bertindak di  destinasi wisata agar tetap terjaga.

24 thoughts on “Gunung dan Pecintanya

  1. Huhuhuuu,.. sedih juga sih, nggak di kota nggak di gunung kerjaannya buang sampah sembarangan,.. eh btw itu nyikat2 batu gitu nggak capek ?? aku yang nyikat celana jins 2 biji aja pegel😀

  2. Wah, salut. Ikut senang, terima kasih mas-mas yang sudah peduli dengan alam. Ijin share ya mas Dhanang.
    Btw itu bersihin pake cairan tertentu ga mas? Aku soalnya biasanya cuman pake sikat besi tapi hasilnya ga begitu bersih. Atau tanganku yang kurang perkasa ya?😀
    Pokoknya semangat terus demi alam Indonesia🙂

    • mba Vero… saya tergelitik dengan tulisanmu di candi boko…
      Ya pake thiner atau NaOH (soda api) cukup ampuh buat melunturkan cat hehehe..
      mari ayo kapan-kapan gabung.. kita nyikat gunung.

      • Hmm iya mas, candi-candi sudah banyak tambahan reliefnya sekarang mas alias coret2 tangan-tangan usil.
        Ok mas nanti coba saya terapkan ilmu penggosokannya..hehehehe..
        Kalau gabung sama mas Dhanang harus belajar ilmu kambing terbang kayak yang mas Dhanang kemarin bilang, kalau ga aku bisa ketinggalan langkah hahahaha😀

      • hahahaaa…
        ntar kalo ada kegiatan ini saya cuap2 sapa tau berminat gabung…

        ya latihan pelan-pelan.. ngga ada yang instan untuk jadi kambing terbang hahaha..

  3. Pertama tau lagu Rita Ruby itu dari bapak. Awalnya tak kiro apus-apus, soalnya bapakku sering nyanyi2 lagu gak jelas bikinannya endiri. Ternyata setelah googling beneran ada hehehe. Salut sama aksinya ih. Keren🙂

  4. Merbabu itu sejak dari jaman dulu memang banyak yang corat coret. Mungkin karena treknya yang gak terlalu berat makanya banyak pendaki abal-abal yang kesana dan akhirnya melakukan aksi vandalisme. Sekali aku pernah hampir berantem di sana gara-gara mengingatkan orang untuk gak bikin coretan dan yang diingatkan gak terima

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s