Pendidikan Dasar PLG JB Angkatan XXIII

Usia yang ke-23

23 tahun bukan umur yang kemarin sore untuk sebuah organisasi. Jika menelisik ke belakang, tahun 86 merupalan peletakan niat untuk mendirikan organisasi ini. Para pioner sudah “babat alas” untuk membuat organisasi ini resmi berdiri. Pamitran Lelana Giri Jaga Bhumi, perkumpulan pendaki gunung yang bermana Jaga Bhumi demikian nama tersebut.

Tidak terasa, 23 tahun berlalu sejak resmi melakukan pendidikan dasar pada tahun 1991. Saya waktu itu masih kelas 3 SD, kakak-kakak senior saya sudah menggendong ransel dan mendaki gunung. 7 tahun kemudian saya baru merasakan hal yang sama. Melewati seleksi 125 peserta, akhirnya lolos 25 peserta dan saya urutan 14 dari 16 peserta laki-laki.

Sekarang saya berdiri dan mempunyai beban moral untuk membagikan apa yang sudah kakak-kakak senior saya bagikan. Nilai-nilai kehidupan yang mereka berikan hingga saya menjadi apa yang saya inginkan. Pelajaran yang tidak saya dapatkan di bangku sekolah dan universitas, dan saya bersyukur bisa “nyantrik” di PLG JB.

Sabtu 30 November, sebagai wujud tanggung jawab saya menjadi orang pertama yang hadir di lokasi diksar untuk menyambut kedatangan peserta. Membentangkan tali sepanjang 30 meter lewati jurang sebagai jembatan peserta untuk masuk dalam lokasi diksar.

Peserta di lepas degan selembar peta

Peserta di lepas degan selembar peta

Awal dari diksar di awali dari Lapangan Sekolahan dengan melepas peserta oleh pihak Sekolahan yang diwakili oleh pembina. Peserta akan dibawa menuju Sepak bola Ngablak pukul 14.00. Peserta diturunkan kemudian di bagi validasi dan peta topogarfi pada masing-masing kelompok. Validasi tersebut beruba lembaran tisue yang harus mereka jaga sebagai wujud tanggung jawab. Tidak boleh rusak atau hilang. Dalam peta tersebut sudah tertulis titik-titik koordinat 8 angka. Koordinat tersebut adalah cek point menuju lokasi diksar. Total ada 6 cek point, dan peserta wajip sampai di cek poin tersebut untuk mengambil perbekalan. Jika sampai melewatkan cek point tersebut, konsekuensinya adalah tidak mendapat perlengkapan wajib. Jarak tempuh 5km dengan agihan waktu 1,5 jam, melatih peserta untuk materi navigasi darat, manajemen perjalanan, dan karakter kompetisi.

Inilah rute Disar XXIII

Inilah rute Disar XXIII

Tidak mudah membaca peta, orientasi, karena butuh ketelitian, kecermatan dan kecerdasan. Ada salah satu kelompok yang tersesat dan melenceng jauh dari cek point yang ditentukan. Alasan mereka tersesat adalah kesalahan dalam membaca peta. Kelompok terkakhir yang sampai pada cek point 5 tiba pukul 18.30.

Selamat datang di lokasi diksar.

Selamat datang di lokasi diksar.

Cek poin 5 adalah gerbang menuju lokasi diksar. Peserta akan ditantang keyakinan untuk tetap lanjut mengikuti pendidikan dasar. Mereka yang yakin harus menyebrang jurang dengan menggendong ransel dan semua peralatan diksarnya. 2 utas tali harus meleka titi dengan peralatan pengaman yang sudah di sediakan. Tidak mudah lewat tahap ini, karena peserta akan di uji kekukatan fisik dan mental berkaitan dengan ketinggian dan kepercayaan akan alat-alat panjat tebing. Dalam meniti tali peserta akan diberikan ujian dengan tali yang di goyang, bentakan, bahkan guyuran air. Tindakan ini untuk menekan mental dan memunculkan keberanian dan kekutan dalam keadaan sulit dan tertekan.

Salah satu cara biar segera sampai tujuan.

Salah satu cara biar segera sampai tujuan.

Bagi peserta yang tidak yakin melewati jurang dengan membawa ransel, tetap harus menyebrang. Konsekuensi logis, adalah tas akan dilempar ke jurang sebagai hukuman akan sebuah keputusan. Usai mereka menyebrang, makan harus segera bergegas menuju jurang dimana tas-tas tersebut dilemparkan.

Berlari mendaki bukit dengan tas di punggung.

Berlari mendaki bukit dengan tas di punggung.

Bagi peserta yang usai melewati tahap ini harus segera mendaki bukit yang terletak diseberang jurang. Ada kejadian, dimana ada peserta yang tertinggal dan anggota kelompoknya mencoba membantu. Kesalahan mendasar, yakni meninggalkan ransel yang aturannya harus melekat di badan. Kembali ransel-ransel tersebut dilemparkan ke jurang sebagai hukuman atas kecerobohan meninggalkan barang-barang berharga. Walau ada insiden dimana seorang peserta terperosok di sungai namun bisa di atasi oleh panitia.

Di atas bukit peserta di evaluasi untuk kegiatan malam ini. Mengapa terlambat, mengapa tas-tas di buang di jurang, mengapa di guyur air, mengapa di bentak-bentak, semua di jelaskan alasannya. Peserta ditanamkan nilai-nilai keyakinan, keberanian, kekuatan mental, dan kebersamaan.

Menanamkan nilai-nilai pada peserta sekaligus evaluasi kegiatan.

Menanamkan nilai-nilai pada peserta sekaligus evaluasi kegiatan.

Menjelang jam makan malam, kembali di uji akan sebuah keyakinan dan kejujuran. Ritual Jaga Bhumi yang identik dengan makan jangkrik kembali menjadi tantangan buat peserta. Makan jangkrik dengan suka rela, keterpaksaan akan terlihat dari raut wajah mereka. Pelajaran sederhana tentang survival atau bertahan hidup di hutan. Memakan apapun demi sebuah kehidupan dan tegas dalam pengambilan keputusan. Bagi peserta yang ragu-ragu, maka akan diberi bonus jangkrik kembali hingga rasa ragu-ragu itu hilang.

Kembali kejujuran itu di ujikan pada peserta. usai makan jangkrik, akan sedikit menimbulkan trauma sehingga saat di tanya “masih lapar” akan ada jawaban “tidak”. Bagi yang menjawab “masih lapar” maka panitia akan memberikan nasi bungkus dan yang menjawab “tidak” akan mendapat konsekuensi dari sebuah jawaban. Pelajaran kali ini adalah melatih sebuah kejujuran dan berani dalam mengambil keputusan apapun resikonya. Bagi mereka yang jujur akan kenyang malam itu dan yang tidak jujur akan mendapatkan sisa-sisa makanan, sebagai hukuman atas pengambil keputusannya.

Koordinasi panitia dan senior.

Koordinasi panitia, pembina dan senior.

Malam tiba, peserta akan diistirahatkan dalam bivak. Mereka harus mencari tempat yang aman dan nyaman untuk mendirikan tenda. Disini ketrampilan alam bebas mereka akan di uji kemandiriannya. Menjelang tengah malam, peserta akan dibangunkan untuk long march kedua. Bunyi ledakan dari petasan akan membangkitkan siap siagaan mereka, dan inilah yang ini menjadi tujuan mengapa mereka dibangunkan.

Peserta akan jalan menuju tengah-tengah hutan. Tujuan kegiatan ini untuk melatih navigasi malam mereka dan kewaspadaan saat malam tiba. Usai di lokasi peserta akan di beri sebuah konflik, perdebatan, konfrontasi yang inti kegiatan ini adalah melatih mentalitas mereka. Mengambil keputusan dalam waktu singkat dan menanamkan sebuah loyalitas pada organisasi. Usai kegiatan ini peserta akan dikembalikan pada bivak masing-masing.

Senam pagi sebelum memulai aktifitas.

Senam pagi sebelum memulai aktifitas.

Fajar pun tiba dan saatnya membangunkan peserta yang ada dalam zona nyaman. Saatnya senam pagi untuk memulai kegiatan agar semua otot-otot lemas dan lentur. Sarapan pagi buat mereka sangat spesial, karena mereka harus mencari sendiri di alam. Namun pengetahuan mereka tentang botany sangat minim. Menilik kembali, sebagian peserta tak lagi tinggal dipelosok kampung dan hobi keluar masuk hutan. Kembali ilmu botany praktis harus di ajarkan.

Bayar hutang  tadi malam.

Bayar hutang tadi malam.

pelajaran membuat api dan mengendalikannya.

pelajaran membuat api dan mengendalikannya.

Menikmati hasil masakannya.

Menikmati hasil masakannya.

Akhirnya panitia mengeluarkan singkong-singkong yang harus mereka bakar dalam waktu 30 menit. Pelajaran kali ini melatih mereka dalam membuat api, mengendalikan dan menjadi materi dalam survival. Singkong dan talas yang dibakar akan menjadi sarapan pagi buat peserta. Waktu yang ditentukan habis dan peserta yang kelaparan segera menyantap singkong-singkong yang dibakar. Tinggalah singkong-singkong yang masih mentah.

Salah satu cara menghabiskan makanan.

Salah satu cara menghabiskan makanan.

Pelajaran yang bisa diperoleh dari sesi ini adalah. Peserta cenderung berebut untuk mendapatkan makanan yang terbaik, siapa yang kuat dialah yang kenyang. Bagi mereka yang sial yang dapatlah apa adanya. Nilai-nilai kebersamaan, berbagi, dan melayani mereka sepertinya belum tertanam dengan baik. Menghargai makanan dan berbagi, belum bisa mereka terapkan. Akhirnmya mereka harus memakan singkon yang belum matang dan kembali mereka saling tunjuk dan senggol. Membuat formasi lingkaran, akhirnya singkong tersebut menjadi tanggung jawab bersama untuk dihabiskan dengan cara makan bergantian secara memutar. Nilai akan tanggung jawab terhadap makanan ada di sini.

Mendengarkan instruksi sebelum bermain dengan ular-ular liar.

Mendengarkan instruksi sebelum bermain dengan ular-ular liar.

Usai mereka sarapan saatnya menambah pengetahuan mereka berkaitan dengan binatang liar, salah satunya ular. Semalam tenda mereka ditaburi garam disekelilingnya dengan harapan agar ular tidak masuk, begitu juga dengan buah-buahan liar yang diyakini sebagai makanan ular.

Snake handling, pelajaran wajib mereka.

Snake handling, pelajaran wajib mereka.

Peserta wajib bisa mengatasi rasa takut, panik sebelum mengatasi ular liar.

Peserta wajib bisa mengatasi rasa takut, panik sebelum mengatasi ular liar.

Dalam sesi ini peserta dikenalkan akan dunia ular, baik dari jenis, habitat, makanan, prilaku, penanganan hingga perawatan korban gigitan ular. Peserta akan diminta satu persatu menangkap ular yang dirasa masih liar. Ada peserta yang tergigit ular karena kesalahan saat hendak memegang bagian kepala ular. Dari kejadian ini peserta mendapat pelajaran berharga bagaimana memperlakukan ular dan diharapkan bisa menularkan ilmu yang mereka dapat pada sesama teman sekolah, orang tua dan masyarakat tentang edukasi ular.

Pengetahuan bagaimana mengevakuasi korban di medan yang sulit.

Pengetahuan bagaimana mengevakuasi korban di medan yang sulit.

Sesi selanjutnya adalah berlatih PPGD, yakni pertolongan pertama pada gawa darurat kususnya kecelakaan di alam bebas. Mereka ditekankan bagaimana membuat usungan untuk mengangkut korban dari medan yang sulit di jangakau. Begitu usungan jadi, maka simulasi korbannya adalah ransel-ransel mereka untuk meminimalkan resiko. Ransel dibuat sedemikian rupa merip korban yang harus di tandu. Korban akan disebrangkan melewati sungai dengan cara meluncurkan dengan seutas tali. Pelajaran tali temali bagaimana membuat usungan yang aman dan nyaman untuk korban, hingga berhasil di sebrangkan dari sungai.

melatih kerja sama, kebersaman, tanggung jawab, dan kekuatan.

melatih kerja sama, kebersaman, tanggung jawab, dan kekuatan.

Misi selanjutnya adalah mengevakuasi korban dengan jarak tempuh sekitar 1,2Km. Bukan jauhnya jarak yang dituntut disini, namun medan yang sulit. Melewati jalan setapak, sungai kering dan berbatu, bukit yang curam hingga lereng yang terjal. Nilai yang ditekankan adalah kebersamaan akan sebuah tanggung jawab yang besar. jalan dan kerjasama untuk mengangkut sebuah korban, sehingga rasa tanggung jawab akan sisi kemanusiaan akan menjadi nilai tambah dari sesi ini.

Ritual penyambutan anggota baru.

Ritual penyambutan anggota baru.

Long march etape 3 menuju chek point 6, dalam kondisi hujan harus tetap jalan.

Long march etape 3 menuju chek point 6, dalam kondisi hujan harus tetap jalan.

Usai mereka menyelesaikan misi mengantarkan korban, kembali ritual PLG JB yakni mengambil slayer sebagai tanda bukti lulus jadi anggota. Dari sebuah air terjun merka akan mengambil pita abu-abu sebagai simbol PLG JB. Air gunung juga akan membantis tubuh mereka untuk masuk dalam keluarga besar PLG JB. Usai mengambil tanda anggota ini mereka harus segera kembali pada long march ke-3 yakni menuju chek point 6. Cek poin terakhir berjarak 4,8Km sebagai titik penjemputan mereka untuk kembali ke Sekolah.

Pelepasan tanda panitia dan peserta, sebagai simbol usai sudah pendidikan dasar.

Pelepasan tanda panitia dan peserta, sebagai simbol usai sudah pendidikan dasar.

Pukul 15.30 peserta sudah sampai di sekolah. Upacara penerimaan pun dilaksaksanakan. Penitia secar simbolis menarik validasi sebagai lepasnya tanggung peserta. Pembina melepas pita-pita sebagai berakhirnya diksar. Anggota paling Senior PLG JB akan menyematkan slayer keanggotaan pada peserta dan diikuti senior-senior lain dan di akhiri ucapan selamat kepada seluruh peserta yang lulus diksar.

9k

Pelantikan anggota baru dengan penuh ucapan syukr.

Acara di akhiri dengan ramah tamah di aula sekolahan. Slide-slide foto diputar untuk flash back dan membuka memori kegiatan. Dalam acara ini semua wajib memberikan testimoni, bagaimana kesan-kesan selama mengikuti pendidikan dasar. Dan akhrinya sampai jumpa di diksar XXIV.

SELAMAT buat DIksar XXIII dan sampai jumpa di Diksar XXIV, Tuhan berserta orang-orang pemberani.

SELAMAT buat DIksar XXIII dan sampai jumpa di Diksar XXIV, Tuhan berserta orang-orang pemberani.

Advertisements

25 thoughts on “Pendidikan Dasar PLG JB Angkatan XXIII

  1. Wow bgt ceritanya…..Proses diksar kemarin ddokumentasikan dgn rapi n oke……jempol buat Mas Danang…….Makasi Mas Danang, spt berasa ada disana, sambil mengenang proses diksar n mendiksar yg dulu pernah sy alami……sweet memory

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s