Museum Bank “Kumpeni” dan Emas Murni

Jika teringat sosok ini, saya langsung berkata "kumpeni" (dok.pri).

Jika teringat sosok ini, saya langsung berkata “kumpeni” (dok.pri).

Di depan pintu ini saya seolah terbawa pada tahun 90an awal. Saat itu di TVRI ada sinetron Sengsara Membawa Nikmat, namun bukan tokoh Midun yang mengingatkan saya tetapi tentara Belanda. “Kumpeni” begitu orang menyebut, dengan senapan berlaras panjang, sepatu boot, topi bulat dari kulit, kumis melintang dan seragam hijau tua. Saya kira kita gampang mengimajinasikan sosok serdadu Belanda ini dengan perkataan yang khas “kamu orang…”.

2 orang serdadu nampak siaga menjaga pintu masuk, padahal di depan pintu masuk jelas-jelas ada satuan pengamanan. Inilah sambutan saat masuk di Museum Bank Mandiri. Salah satu bank hasil merger dari bank-bank saat terjadi krisis moneter di negeri ini. Saya memasuki bangunan yang kalau boleh gedung ini mirip dengan Hotel Yamato. Menara tinggi yang dulunya berkibar bendera merah putih biru, kini merah putih.

13857156162103345505
Museum Bank Mandiri dari luar (dok.pri).

Museum bank mandiri, terletak di kawasan kota tua Jakarta, tepatnya di dekat stasiun kota. Saat masuk dalam ruangan utama, saya dibawa pada nuansa masa lalu dan benar-benar seperti tempo dulu. Di sisi kana nampak kantor pelayanan untuk nasabah, berikut dengan diorama dan manekin-manekin yang dibuat serupa masa lalu.

Pada sisi tengah terdapat koleksi mesin-mesin yang di gunakan dalam perbankan pada masa lalu. Mesin cetak, foto kopi, ATM, aneka bentuk stempel dan masih banyak lagi. Di sisi kiri nampak sebuah dinding dengan koleksi mesin ketik, kalkulator dari yang kuno hingga yang modern tapi sudah tidak dipergunakan lagi. Bagian Belakang dari ruang pamer nampak ruang-ruang penyimpanan buku besar dan brankas. Pintu dari besi yang tebal menunjukan betapa berharganya barang yang disimpannya.

1385715679766728866
Ruang pamer koleksi museum bank Mandiri (dok.pri0.
13857157591250065169
Salah satu sudut museum menggambarkan ruangan pimpinan bank (dok.pri)

Saya berkeliling ke semua sisi hingga sudut-sudut. Lampu-lampu yang temaram memberikan efek pencahayaan yang menarik dan seperti kembali pada masa kolinialisme. Di gedung bagian teras digunakan sebagai kafe yang menjual makanana dan minuman sekaligus tempat berkumpulnya beberapa komunitas. Sepertinya saya terlalu singkat berkeliling di museum ini.

Di sisi kanan museum bank Mandiri terdapat museum dengan koleksi yang lebih tua, karena cikal bakal bank, yakni museum Bank Indonesia. Berbeda dengan museum yang di jaga oleh 2 kumpeni, museum ini di jaga oleh polisi dan satuan pengaman. Masuk museum ini lebih ketat, karena pemeriksaannya seperti hendak naik pesawat saja. Tas harus dipindai dan orang lolos dari metak detekto. Hendak masuk tas harus dititipkan pada petugas penjaga.

1385715818745085478
Inilah kaum pendatang, yang mengenalkan perdagangan dan perbankan (dok.pri).

Masuk ruangan pertama langsung disambut akan sejarah-sejarah akan perbankan. Ada sebuah ruangan mirip gedung bioskop karena memang digunakan untuk menonton layar lebar yang terpasang di dinding. Di ruangan selanjutnya adalah ruangan masa pendudukan bangsa asing di Indonesia yang berhubungan dengan masalah perbankan.

Dari mulai barter hingga mengenal uang kartal dan giral. Sejarah panjang negeri ini tergambar jelas dalam barang-barang koleksi, gambar-gambar dan video. Manekin-manekin yang mempraktikan aktifitas berbankan pada masa lalu seolah-olah nyata dan seperti itu adanya. Kehidupan masa lalu yang ditampilkan dengan menarik sehingga memudahkan mengangkut imajinasi pengunjungnya.

1385715860989892264
kembali saya dibawa ke masa lalu lewat boneka-boneka rekaan ini dan seperti hidup lagi rasanya (dok.pri).

Memasuki ruang selanjutnya adalah koleksi-koleksi uang baik dari dalam dan luar negeri. Sebuah peti kaca mirip penyimpanan file adalah ruang koleksi uang-uang dari seluruh penjuru dunia. Pengunjung tinggal menari salah satu rak yang bertulis salah satu negara dan maka keluarlah uang-uang yang dijepit di tengah-tengan himpitan kaca. Koleksi uang dari dalam negeri di mulai dari jaman kerajaan, pra penjajahan, penjajahan hingga kemerdekaan dan sekarang. uang dari logam mulia hingga dari kertas, semua dipamerkan.

1385716080463759848
Ruangan inilah yang menggoda saya, karena berisi batangan emas (dok.pri).

Ruang pamer yang paling menarik menurut saya adalah gudang emas batangan. Ada sebuah kotak kaca mirip aquarium yang isinya bukan ikan, tetapi tumpukan emas batangan. entah itu emas betulan atau besi sepuhan, yang pasti benar-benar memberikan gambaran, ini jaminan dari bank. Dari belakang tumpukan emas batangan, ada sebuah kotak kaca dengan 2 lobang dan di dalamnya ada sebuah batangan emas. Pengunjung di ijinkan untuk memegang dan mengangkat lewat lubang kaca.

Sekilas batangan emas itu hany berbobot 1/2 sampai 1Kg saja, begitu tangan kiri saya masuk dan mengangkatnya hanya berhasil menggeser dari tempatnya saja. Lantas saya perhatikan tulisan di batangan emas tersebut tertera angka 13,5Kg dan baru percaya untuk menggunakan kedua tangan untuk mengangkatnya. Inilah momen paling berharga untuk mengangkat barang berharga, dimana lagi kalau bukan museum bank Indonesia.

13857161212076594412
Gedung museum Bank Indonesia dari dalam (dok.pri).

Usai dikejutkan dengan batangan emas, masih ada beberapa ruangan lagi yang harus di kunjungi. Namun entah mengapa ruangan-ruangan tadi di tutup sementara untuk pengunjung, mungkin sedang di renovasi. Akhirnya kunjungan ditutup dengan kondisi perbankan di Indoneisa dari masa ke masa, hingga titik nadir saat krisis moneter hingga bangkit lagi. Sejarah panjang keuangan di Indonesia, dari kerajaan, penjajahan hingga kemerdekaan, memang sengsara memabwa nikmat kata Midun.

6 thoughts on “Museum Bank “Kumpeni” dan Emas Murni

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s