Layar Negeri Maritim di Museum Bahari

Lansekap dari menara syanbandar. Nampak pelataran dari menara, nampak di sisi kiri adalah Museum Bahara dan di ditengah nampak kapal kayu bersandar di pelabuhan Sunda Kelapa (dok.pri).

Lansekap dari menara syanbandar. Nampak pelataran dari menara, nampak di sisi kiri adalah Museum Bahara dan di ditengah nampak kapal kayu bersandar di pelabuhan Sunda Kelapa (dok.pri).

Kaki saya melangkah pelan menapaki anak tangga dari lembaran papan yang dicat merah. Bangunan 3 lantai dan satu lantai paling atas mungkin adalah bangunan tertinggi pada masa itu. Dari jendela di lantai 2 kepala saya melongok keluar, terlihat 2 buah meriam dengan moncong menghadap ke arah laut dan barat. Penasaran ada di atas sana, kaki ini melangkah semakin ke atas dan benar saja inilah titik tertinggi pada masa itu.

1385628869413248314
Menapaki anak tangga untuk menuju menara Syahbandar, nampak pengunjung sedang turun dari lantai 3 (dok.pri0.

Dari lantai atas di menara Syahbandar ini mata menerawang ke seluruh penjuru mata angin. Seolah saya berimajinasi menjadi seorang pengawas menara disebuah perahu layar. Dengan teropong 55-250mm saya memicingkan mata untuk mendapat obyek yang fokus. Di utara nampak jajaran kapal-kapal kayu yang berujung pada laut utara jawa. Di sisi timur, selatan dan barat terlihat gedung-gedung pencakar langit. Sebuah pemandangan yang kontras, tetapi inilah batas masa lalu dan masa kini. Bedanya dahulu apa yang diamati oleh pelayar tangguh hanya diingat saja, sekarang saya akan merekamnya menjadi sebuah imaji. Benar sekarang saya berada di salah satu bagian dari museum bahari, tepatnya di menara syahbandar.

1385628927767980554
Menara Syahbandar, sebagai pengawas lalulintas di pelabuhan (dok.pri).

Museum Bahari, demikian nama yang diberikan untuk tempat cagar budaya ini. Terletak di Penjaringan, jakarta utara. Museum ini tepat berada di pelabuhan Sunda Kelapa. Sepintas dari menara pengawas bangunan museum tak seperti museum, namun mirip sekolahan yakni dengan bangunan panjang dan bersekat-sekat. Kaki saya perlahan menurun tangga merah untuk menuju bangunan museum bahari yang terletak di utara menara.

1385628987467171862
Wujud luar banguna museum dengan jendala berukuran besar dan tebal (dok.pri).

Memasuki gerbang museum, mata saya terjebak pada sebuah perspektif berupa jajarn jendela berukuran raksasa dengan ketebalan yang tidak seperti biasanya. Memasuki ruangan, saya di arahkan menuju arah kanan untuk mengawali pengarungan museum bahari. Pintu dari kayu jati tebal harus saya geser, dan suara “kreettt” dari engsel tua terdengar menyeramkan. Pegangan pintu dan pengait kancingnya yang berukuran raksasa sepertinya ini bukan peruntukan tangan pribumi.

Baru saja masuk, mata saya seolah tak percaya melihat pilar-pilar tiang penopang. iseng saja saya mengukur, “2 jengkal lebih” batin saya dan coba saya ketok, ternyata kayu utuh. Tidak terbayangkan berapapa ukuran katu waktu itu yang ditebang untuk mendirikan bangunan ini, yang pasti sekarang jarang ditemukan kayu ukuran besar seperti itu.

1385629042464135219
Sunda Kelapa pada waktu itu (dok.pri).

Pelan-pelan kaki ini melangkah menikmati satu persatu koleksi museum bahari di lantai satu. Kapal-kapal kuno beserta miniaturnya di pajang ditempat ini. Petinggi-petinggi “jales veva jaya mahe” terptret di tembok sisi kanan pada ruangan ketiga. Lantai bawah mengawali sejarah dunia kemaritiman di Indonesia, dari yang tradisional hingga yang termodern.

Di sebuah sudut ruangan dekat foto Komodor Yosafat Sudarso, saya mendengar sayup-sayup orang sedang berbicang. Aksen tinggi, dengan nada serak sengau, begitu mata ini melirik siapa sosok tersebut saya seolah terbawa pada masa lalu. Dia adalah seorang pelancong asal Belanda bersama seorang pemandu. Entah mengapa saya langsung menghakimi “dasar kumpeni” begitu melihat sosok tubuh dan bahasanya.

1385629084611170256
Pelancong dari negeri kincir angin sepertinya ingin mengenang eyang buyutnya kala pergi ke Sunda Kelapa (dok.pri).

Saya naik pada ruangan lantai 2 dengan menapaki anak tangga dari kayu jati. Suasana seram saat memasuki ruangan ini. Di ruangan ini dipamerkan benda-benda kemaritiman. Lampu suar melambai agar saya mendekat, lalu menunjukan bahwa inilah satu piranti navigasi pada masa lalu. Selain lampu suar, terdapat kemudi kapal, model-model menara suar, bagan, pelampung laut hingga pernak-pernik di dalam kapal. Inilah ruang pamer teknologi kemaritiman.

Usai dari lantai 2, jalan kembali menuju ruangan semula masuk. Petugas musem kemudian mengarahkan untuk naik lantai dua dari tangga penjagaan. Sebuah kantrol dengan peti-peti bertuliskan VOC tertumpuk di situ. Ternyata ruangan ini dulunya adalah tempat bongkar muat barang. Dulu timur bangunan ini adalah sebuah kanal dan kapal barang bisa masuk dan merapat. Dari sinilah barang-barang dipindahkan dan ruangan di kanan kiri adalah gudang-gudangnya.

13856291741332538967
Boneka para penjelajah laut waktu itu. Semua dipamerkan di ruangan lantai 2 beserta cerita sejarahnya (dok.pri).

Saya masuk pada sebuah ruangan yang tertata apik dan artistik. Ruangan disini adalah etalase berupa diorama-diorama pera penjelajah lautan. Vasco de Gama, Ibnu Batuta hingga Fatahilah manekinnya dipamerkan di sini. Di ruangan ini ditampilkan pula catatan sejarah penjelajahan lautan hingga berlabuh di Indonesia beserta barang-barang yang di angkutanya.

Awalnya para pendatang berlabuh dengan misi perdagangan, tetapi begitu melihat kekayaan Nusantara berupa rempah-rempah dan bahan tambang tergiurlah untuk menguasai. Berjalannya waktu, tidak lagi misi perdagangan, tetapi mencari daerah koloni dan menguasainya. Semakin masuk-semakin banyak informasi yang bisa diperoleh seputar dunia bahari.

13856292481630587115
Rempah-rempah, inilah yang dicari para pedangan dari Eropa dan timur tengah. Mungkin awalnya adalah perdangangan, namun berujung pada kolonialisasi untuk menguasai (dok.pri).

“Nenek moyangku seorang pelaut, gemar mengarungi samudra” sebuah petikan lagu. Namun sayang, peninggalan ksatria laut tersebut sepi akan pengunjung yang nyata-nyata adalah generasi dari pelaut handal. Sebuah sejarah yang tenggelam, oleh era modernisasi dan teknologi. Tidak terbayangkan dahulu naik haji butuh berbulan-bulan mengarungi lautan, namun kini cukup 1 hari sadah sampai. Museum bahari menjadi saksi “jales veva jaya mahe”.

3 thoughts on “Layar Negeri Maritim di Museum Bahari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s