Sunda Kelapa Kala Senja

Pelabuhan Sunda Kelapa, tujuan kami senja itu (dok.pri)

Pelabuhan Sunda Kelapa, tujuan kami senja itu (dok.pri)

Kaki saya berjalan lurus menuju arah utara membelakangi kota lama. Bersama seorang teman, tak menghiraukan debu-debu yang berterbangan disambar kendarana yang belalulalang. Mata saya fokus pada peta dan kompas digital dalam telepon genggam. “1,5Km tidak jauh, mari kita jalan” kata teman dan kami semakin cepat sambil sesekali menengok ke sisi barat yang sudah mulai merona merah warna langitnya.

Sunda Kelapa, itulah tujuan kami menjelang senja itu. Panduan dari teleopon genggam sesuai dengan tanda-tanda alam dan kita ada di jalan yang benar. 20 menit berlalu dan mata kami memandangi moncong-moncong perahu raksasa yang bersandar dengan posisi berjajar serong. Inilah pelabuhan yang penuh dengan sejarah yang panjang. Inilah gerbang perekonomian di sisi barat pulau Jawa.

1385541766738349622
Sebuah keraguan, apakah berhenti atau lanjut berjalan (dok.pri).

Dahulu jakarta yang kita kenal, memiliki metamorfosa lama. Beragam nama, seperti; Batavia, Sunda Kelapa, Jayakarta pernah tersemat pada Ibu kota Indonesia ini. Sudah banyak yang menulis tentang sejarah Jakarta beserta Sunda Kelapanya, tetapi sekarang mari melukis keindahan seputar pelabuhan tua ini.

1385541363679348593
Salah satu sudt sunda kelapa (dok.pri)

Puluhan kapal-kapal kayu ukuran besar berjejar rapi di sisi kiri dermaga. Menara kapal menjulang tinggi tertancap di tengah dan ujung kapal, dengan tali-tali yang saling menyimpul satu dengan yang lainnya. Inilah uniknya Pelabuhan Sunda kelapa, tujuan wisata di utara Jakarta tanpa dipungut biaya.

1385541421874926639
Ratusan ton barang akan bongkar muat di Sunda Kelapa (dok.pri).

Langkah kaki semakin cepat, tiba-tiba “bulll..” debu keabuan pekat menghempas disamping saya. Ternyata saya berdiri disamping truk yang mengangkut tumpukan semen. Para kuli angkut atau yang biasa disebut manol memindahkan satu persatu semen ke dalam perahu. Beberapa semen ditumpuk menjadi satu dalam sebuah jaring dari anyaman tali hawserleid lalu diikat dan katrol dengan mesin derek menuju dalam perahu. Bongkar muat barang semuanya dilakukan dengan cara manual, mungkin hanya katrol yang sudah bermesin, sisanya tenaga otot.

Usai bermain-main dengan debu dari semen, kembali kaki melangkah ke utara. Sepanjang garis lurus, semua aktivitas sama yakni bongkar muat. Sempat beberapa bapak-bapak  menawari untuk naik perahu berkeliling sudut-sudut sunda kelapa dengan sampan bermesinnya. Saya menolaknya, karena ingin menikmati ujung Sundah Kelapa dengan kedua kaki.

1385541525729661181
Seorang pekerja pelabuhan sedang beristirahat di tangga yang menghubungkan dermaga dengan kapalnya (dok.pri).

Pekerja-pekerja disini sepertinya tak kenal lelah. Energi mereka besar, karena harus memindahkan barang ratusan ton dari truk menuju lambung kapal. Disela-sela aktifitasnya, mereka beristirahat berlindung dibalik badan kapal untuk mengindari sengatan cahaya matahari. Dari perbincangan meraka di pinggir dermaga, saya hafal betul itu logat mana. “Bapak dari Tegal..?” tanya saya dan benar saja dia mengangguk. Aksen banyumasan terasa kental sekali dalam tutur kata mereka.

1385541600742456473
Gambar ini seoalah membawa saya pada masa lalu (dok.pri)

Sang Surya semakin condong ke barat dan sebentar lagi akan tenggelam menuju peraduannya. Saatnya menuju titik tertinggi, apalagi kalau bukan memanjat salah satu kapal kayu. Ada sebuah kapal yang sepertinya bisa kami naiki tanpa meminta ijin karena tak seorang awakpun di dalamnya. Tujuan kami hanya ingin memotret dan menikmati lukisan senja, sisanya tidak ada yang kami lakukan.

Akhirnya sebuah usaha kerja keras tak sebanding dengan eksekusi. Saya lupa membawa lensa tele, sehingga mau tidak mau hanya mengandalkan lensa lebar. dari atas kapal kayu, perlahan sang surya menuju peraduannya. Sinarnya menghantam gedung-gedung pencakar langit yang nampak kontras dengan daratan yang mengelilinginya. Akhirnya lengkap sudah senja itu ditutup dengan tenggelamnya matahari menuju kaki langit. kaki ini melangkah pergi kembali melangkah menuju Kota Tua.

138554166849760149
Perjalan ini berakhir saat senja berganti malam, mengabadikan lukisan alam (dok.pri).

9 thoughts on “Sunda Kelapa Kala Senja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s