Sejak Dini Untuk Hadapi Bencana

Merapi pagi ini dikabarkan meletus. (dok.pri)

Merapi pagi ini dikabarkan meletus. (dok.pri)

Pagi ini melihat situs jejaring sosial begitu gencar mewartakan tentang kondisi Gunung Merapi yang kembali menggeliat. Beragam pemberitaan, dari ada yang melihat semburan awan panas, cahaya api dari puncak, hingga hujan pasir. Masing-masing memberitakan sesuai dengan versi dan laporan pandangannya. Tidak sedikit yang membagikan pemberitaan yang masih simpang siur tersebut lewat media jejaring sosial dan secepat itulah tersebar.

Beberapa kawan juga mengontak ingin segera merapat ke Merapi untuk melihat situasi yang terjadi. Sebuah pertanyaan sederhana muncul, setanggap itukah kita terhadap sebuah bencana alam?. Merapi memang banyak memberikan pelajaran bagaimana tanggap terhadap fenomenal alam yang menjurus pada sebuah bencana. Pemuda-pemuda direkrut sebagai Taruna Tanggap Bencana (Tagana). Warga masyrakat diberikan sosialisasi tentang peringatan dini dan evakuasi. Inilah salah satu bagaimana upaya untuk meminimalkan korban dari alam yang bergejolak.

13847403831344151245
Memacu untuk mengeluarkan adrenalin, kekuatan untuk melawan ketakutan (dok.pri).

Berita yang masih hangat coba saya kolaborasikan dengan aktivitas yang kemarin kami lakukan bersama-sama dengan anak-anak salah satu SMA di Salatiga. Kegiatan alam bebas yang tak merujuk pada hura-hura dan keceriaan tetapi membentuk pribadi yang bisa tanggap dan bisa menangani kecelakaan. Minimal mereka bisa menolong diri sendiri baru menolong orang lain.

Tidak mudah mengajak anak-anak ABG ini untuk turun masuk hutan dan mengikuti kegiatan yang berat, berbahaya dan sepertinya bukan porsi mereka. Kegiatan ini sepertinya cocok untuk Tim SAR, Tagana atau organisasi yang bergerak di alam bebas. Tidak ada salahnya mengenalkan kegiatan ini kepada anak-anak yang sama sekali belum bersentuhan dengan hal-hal yang berbau alam bebas.

Setelah beberapa kali bertemu di kelas untuk mematangkan konsep dan teori saatnya turun ke lapangan untuk praktik langsung beserta simulasinya. Dari tepi jurang mereka harus turun dengan seutas tali yang dikaitakn pada cincin kait di tali tubuh (seat harness). Awalnya mereka ragu untuk turun, itulah yang terberat dalam memberikan sebuah keyakinan.

1384740306345852316
Tidak mudah meyakinkan mereka untuk meniti tali 10mm (dok.pri).

Usai turun dari atas jurang saatnya pinda menyebrang sungai dengan seutas tali. Kembali keyakinan akan keamanan tali dipertanyakan. Banyak yang tidak percaya dengan tali berdiameter 10mm mampu mengamankan tubuh mereka menuju seberang sungai. Dibutuhkan keyakinan, kepercayaan diri dan kekuatan untuk bisa sampai di seberang. Pacuan adrenalin untuk mengusir rasa takut akan ketinggian dan seutas tali yang mengayun-ayunkan mereka.

Usai mereka sampai di seberang, di tepian sungai sudah tergeletak simulasi korban. Teori di kelas harus segera mereka praktikan dalam membuat usungan/dragbar untuk mengangkut korban. Latihan simpul-simpul sederhana mereka buat untuk mengikatkan batangan-batangan bambu agar kuat dan aman. Korban diletakan dalam kondisi yang nyaman dan aman lalu dievakuasi ke ketempat yang lebih aman untuk mendapatkan pertolongan lebih lanjut.

1384740456743899374
Walau hanya simulasi, setidaknya bisa memberikan bekal pengetahuan kepada anak-anak sejak dini (dok.pri).

Ini hanyalah sebuah simulasi untuk anak-anak. Negeri kita yang ada dalam lingkaran cincin api dunia sangat rawan akan bencanca. Jepang yang hampri setiap hari selalu di goyang bencana selalu membekali warganya dari anak-anak hingga orang dewasa dengan simulasi dan pelatihan bencana alam, terutama gempa. Kejadian tsunami di Jepang beberapa tahun yang lalu menggambarkan betapa reaktifnya warga dalam mengahadi bencana, sehingga korban bisa diminimalkan dan secerpatnya melakukan pemulihan.

Setidaknya Indonesia tak berbeda jauh dengan Jepang dalam urusan bencana. Namun acapkali di sayangkan, jika ada bencana baru melakukan pelatihan dan sosialisasi. Mungkin dalam bangku sekolahan bisa menjadi salah satu pelajaran tambahan bagaiaman sigap dalam tanggap bencana. Setidaknya dalam beberapa ekstrakurikuler sudah diberikan, namun apakah efektif dan mengena sasarannya?.

Pernah suatu saat saya menjadi salah satu juri dalam lomba sekolah sehat tingkat karesidenan di Jawa Tengah. Salah satu poin penting adalah berkaitan dengan K3, keselamatan dan kesehatan kerja. Walau siswa bukanlah karyawan pabrik, tetapi K3 harus ada dimanan saja. Pernah suatu saat saya bertanya pada siswa yang belajar dilaboratorium kimia. Andai terjadi kebakaran apa yang kalian lakukan?. Tebakan saya benar, mereka akan mengambil kain lalu di kasih air dan ditutup pada api. Padahal jelas-jelas di ujung pintu ada alat pemadam kebakaran. Lantas saya bertanya, “mengapa tidak memakai ini” sambil menunjuk alat ramkar, mereka jawab “tidak tahu menggunakannya”.

13847405311872692253
Akankah menunggu bencana itu datang..? (dok.pri)

Musim hujan telah tiba, potensi bahaya banjir dan penyakit sudah siap memgancam. Sudah siapkah kita menghadapi bencana tahunan itu?. Ataukan berserah diri pada pemerintah atau pihak lain untuk meminta bantuan mie instant, pakaian, obat-obatan dan lain sebagainya. Banjir adalah langganan, seharusnya bisa belajar dan tanggap bagaimana menghadapinya tanpa menunggu bantuan dan belas kasihan. Berbeda dengan bencana yang tidak bisa diprediksi, sehingga benar-benar mengharapkan bantuan. Bencana datang setiap saat, seberapa tanggap kita…?

4 thoughts on “Sejak Dini Untuk Hadapi Bencana

  1. aduh,terketuk…selama ini belum pernah berbuat apa apa untuk menolong orang yg terkena bencana alam, padahal potensi menaklukkan alam, keberanian dan jiwa sosial ada, hanya belum ketemu jalur dan komunitasnya.

  2. Inspiratif… aku blm pernah bantu2 yg kena bencana gini, ya minimal bantu doa dan bantuan lain yg semoga bermanfaat aja, kalau terjun ke lokasi… sumpah mas blm pernah, salut sama mrk yg berjiwa sosial

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s