Gunung Menjadi Guru Yang Baik

Gunung akan menjadi guru kehidupan yang baik, gunung Andong menjadi tempat belajar waktu itu (dok.pri).

Gunung akan menjadi guru kehidupan yang baik, gunung Andong menjadi tempat belajar waktu itu (dok.pri).

lihatlah keluarlah, maka gunung akan mengajarimu” begitu kata Junko Tabei, pendaki wanita yang pertama kali menginjakan kaki di atap dunia. Pertanyaan yang terbesit adalah, mengapa harus belajar pada gunung. Pikiran saya terbawa pada film-film kolosal yang menceritakan masa lalu. Pendekar selalu identik dengan turun gunung. Perguruan bela diri juga terletak di gunung. Mengapa gunung dijadikan guru..?

Mengapa harus susah-susah ke gunung jika ingin belajar, sedangkan dibawah sana banyak guru yang siap memberi pelajaran. Belum lagi kekawatiran tentang bahaya-bahaya di gunung, dari jatuh, tersesat hingga meninggal gara-gara mendaki gunung. Dibalik kekawatiran itu, kalau tidak salah ada pernyataan “mendaki gunung tidak mempercepat atau menunda kematian”.

13831270002050698436
Nasi jagung ini menjadi pembangkit energi (dok.pri).

Sebungkus nasi jagung dengan laun pauk sambal kelapa dan urapan aneka sayur selalu menjadi menu andalan sebelum naik gunung yang satu ini. Koran nasional yang menjadi bungkus luar menjadi bahan bacaan sambil menemani sarapan. Berita basi, namun tetaplah informasi, seperti nasi jagung ini, walau seret di mulut pasti jadi energi.

Mendaki gunung kali ini, mungkin bagi kelasnya mereka yang biasa naik gunung akan terasa ringan, bahkan akan disepelekan saja. Tinggi gunungnya hanya 1800mdpl, dan jarak tempuh cuma 4Km saja. Bagi yang terbiasa mungkin hanya butuh waktu 2-3 jam sudah sampai puncaknya.

1383127041262114090
Sapa ramah penduduk setempat dan pintu rumah mereka terlalu lebar untuk kita bertamu (dok.pri).

Bukan itu, yang akan saya cari. Pelajaran apa yang ingin di cari di gunung tersebut. Sepanjang jalan, yang ada hanyalah lahan pertanian dengan penggarapnya. Tegur sapa mereka sangat berbeda dengan orang-orang kota. Tanpa di tanya, maka kita akan ditanya duluan, bahkan pintu rumah mereka terlalu lebar dibuka agar kita mau mampir. Inilah pelajaran pertama, betapa terbukanya mereka, seperti kedatangan tamu agung saja.

Usai sudah kehangatan tegur sapa dengan penduduk, saatnya masuk pada hutan di kaki gunung. Coleteh fauna-fauana penghuni hutan sepertinya menyambut kita, padahal itu adalah suara peringatan. Mereka saling memberi kode kepada sesamanya, jika ada mahluk asing masuk dalam kawasan mereka. Sebagai tamu,layaknya kita menghormati tuan rumah.

13831270951049293352
Dari tempat ini mungkin kita bisa melihat, inilah pelataran padepokan itu (dok.pri).

Bisa dibayangkan, jika ada tamu teriak-teriak dan bertindak di luar aturan saat bertamu di rumah kita. Tentu saja, suasana nyaman akan berubah menjadi suasana yang tidak menyenangkan. Pelajaran selanjutnya adalah, bertamulah dengan santun. Ada kalanya pendaki gunung rela membawa gitar, dengan alasan menghibur dirinya. Sebaliknya, suara gitar sangat asing bagi tuan rumah, sehingga pasti sangat mengganggu dan membuat mereka terusik.

Pemutar musik yang dinyalakan dengan suara keras, pasti tak asing lagi, itupun menjadi ancamaman bagi penghuninya. Tak salah jika dibeberapa taman nasional dilarang mengoprasikan alat-alat yang bisa menimbulkan suara dan mengganggu satwa disana.

1383127159108733479
Gunung mengajari kita bijak. Jika tak mampu melompat, maka melangkahlah. Jika tak mampu berlari maka berjalanlah. Jika tak berani meniti maka ngesotlah, sangat bijak bukan…? (dok.pri).

Jalan semakin naik dan menanjak. Nafas tak senormal saat berjalan di jalur yang datar. Selangkah demi selangkah akan menentukan langkah berikutnya. Tak salah, dulu dalam pelajaran naik gunung, saya diajari bagaimana berjalan yang baik. Berjalanlan dengan normal, tidak terlalu cepat atau lambat, namun konstan. Irama kita berjalan harus disesuaikan dengan tarikan hembusan nafas.

Mungkin saat mendaki gunung dengan ketinggian lebih dari 7000mdpl, oksigen begitu tipisnya. Selangkah kaki saja perlu 6 kali menghirup udara dari tabung oksigen. Berapa ribu langkah dan berapa kali menghirup nafas. Inilah pelajarab berikutnya, berlatih berjalan. Kaki kanan memijak, ambil nafas, kaki kiri melangkah keluarkan nafas dengan pelan. Demikian terus menerus, tak terasa puncak sudah didepan mata.

Saat hendak menginjakan kaki dipuncak, saya dikejutkan dengan 3 anak kecil. Meskipun nafas mereka naik turun tidak karuan, semangat mereka untuk menggapai puncak luar biasa. 3 bocan ini adalah wargan negara asing, dengan umur 6-8 tahun. Seorang ibu, nampak tergopoh-gopoh berjalan dibelakang dengan membawa tas berisi makanan dan minuman. Dibelakangnya tak ada orang lain lagi.

Beginikah cara orang asing mengajak anaknya bermain. Wajah-wajah anak itu sepertinya sangat familiar dengan alam. Dengan orang yang tak dikenal mereka langsung bertegur sapa dan ngobrol dengan ramahnya. Raut wajahnya sangat senang saat sampai didataran tertinggi yang mereka daki. Tubuhnya langsung dihempaskan ditanah, menandakan sebuah kepuasan akan pencapaian.

13831272541300328553
Seorang anak nampak puas dengan pencapainnya. Merebahkan diri diatas tanah, mungkin tak akan dilakukan mereka yang biasa bermain di mall, begitu juga dengan prilakunya. (dok.pri)

Tak terbayangkan, sejak kecil sudah diajarkan bagaimana berguru pada sebuah gunung. Bertegur sapa dengan sopan, santun pada alam, berjalan pelan namun konstan, dan mengagumi ciptaan Tuhan. Selembar bungkus makanan, tak mereka buang tetapi dimasukan dalam tas. Etika lingkungan yang benar-benar tertanam sejak dini. Saya bangga sekaligus malu. Sekecil itu mereka tahu dan berbuat hal yang baik, tetapi anak anak negeri di bawah sana tahu hal yang baik tetapi banyak yang tidak berbuat.

Memang benar, gunung menjadi guru yang hebat. Gunung mengajari etika, sopan santun, kesabaran, kekuatan dan yang pasti persahabatan. Semoga tidak terlambat generasi ini, yang tahu gunung dari film yang diangkat dari sebuah cerita novel saja, yang tak banyak memberi pelajaran bagaimana gunung menjadi guru yang baik.

10 thoughts on “Gunung Menjadi Guru Yang Baik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s