Merapi Sebuah Mimpi Para Pendaki

Bentuk kubah dan kawah Gunung Merapi 2933mdpl usai erupsi tahun 2010. Menjadi obsesi siapa saja untuk datang ke sini. Tidak sedikit yang celaka dan hilang saat ingin merengkuh puncaknya atau saat perjalanan pulang. Sebuah tantangan sekaligus ancaman.(dok.pri)

Bentuk kubah dan kawah Gunung Merapi 2933mdpl usai erupsi tahun 2010. Menjadi obsesi siapa saja untuk datang ke sini. Tidak sedikit yang celaka dan hilang saat ingin merengkuh puncaknya atau saat perjalanan pulang. Sebuah tantangan sekaligus ancaman.(dok.pri)

Merapi, pasca erupsi menjadi tempat favorit banyak pendaki. Entah obesis film 5Cm atau niatan hati ingin mendaki. Ironis, hari ini ada 2 tragedi yang patut di sayangkan. 13 Oktober 2013, menjelang turun dari Pasar Bubrah ada pendaki yang terjatuh dan mengalami cidera patah tangan. Tak berapa lama, sore harinya ada kabar ada pendaki yang hilang. Sisi lain, banyak pendaki yang mengumbar keberhasilannya menggapai puncak 2933mdpl di jejaring media sosial. Inilah dunia pendakian yang penuh ironi.

Cepogo, sebuah pesar di lereng timur gunung Merapi. Sore ini saya mengadu keberuntungan untuk menuju Selo pos pendakian Gunung Merapi. Bus terakhir yang menuju Selo sekitar pukul 16.00, namun saya datang pukul 17.00. Kumandang adzan maghrib berkumandang, belum juga keberuntungan itu datang. Berkat bantuan ibu penjaga toko akhirnya saya dititipkan pada kendaraan pikap pengangkut semen yang kebetulan lewat selo.

1381978937961578751
Salam sapa saya di jawab dengan lirih oleh meraka. Kawan mereka sudah lebih dari 10 jam belum kembali dan 4 jam lalu mengirim pesan singkat untuk minta tolong karena tersesat di hutan (dok.pri).

Ongkos 5 ribu cukup mengantar saya menuju kecamatan Selo sebagai titik awal pendakian. Usai makan malam di warung makan di depan Polsek Selo segera saya menuju Dusun Lencoh, yakni yang dijadikan sebagai base camp. Pukul 7 malam, udara yang dingin ditemani cahaya dari purnama perbani menemani langkah kecil ini. “Assalamualaikum” saya mengucap salam saat masuk di rumah yang dijadikan basecamp. “walaikumsalam” jawaban lirih dan lemah sekelompok pendaki yang sedang duduk di pojok bale-bale, sedangkan pendaki lain acuh tak acuh.

“katanya ada tim SAR sedang naik ya mas, memangnya ada kejadian apa..?” tanya saya pada kelima pendaki yang sedari tadi duduk diam di sudut bale-bale itu. “tadi pagi ada kecelakaan di atas mas, trus sekarang teman kami belum kembali” jawab salah seorang dengan nada lirih. “Kami terpisah saat turun dari pasar bubrah, dia meminta kami turun lewat sisi kiri. Kami sampai tenda, namun dia tak kunjung datang juga. Akhirnya kami turun ke base camp, tetapi dia tak datang-datang. Tadi jam 4 sore dia SMS minta tolong karena tersesat di hutan. Sekarang kami menunggu dia dan menunggu tim SAR untuk mencari, tetapi harus 1 kali 24 jam dulu.” Itulah cerita kronologi yang membuat saya ikut berempati.

Pukul 23.00 pihak keluarga dari korbanpun datang. Mereka minta segera malam ini tim SAR segera mencari, namun tidak dikabulkan permintaannya. Akhirnya 2 temannya mengemas alat-alat pendakian dan nekat mencari pada malam hari. Saya tidak bisa mencegah keputusan mereka untuk mencari pada malam hari. Dalam kantung tidur, saya sama sekali tak merasakan kehangatan hanya kegusaran dalam pikiran memikirkan 2 orang yang naik dan 1 yang tesesat.

Pukul 1 dini hari saya memaksakan diri untuk bangun. Nasi bungkus dan ayam goreng segera saya makan, untuk menghimpun tenaga. Kembali saya masuk kantung tidur untuk sesaat memejamkan mata. Pukul 04.00 saya terbangun dan segera bergegas untuk mempersiapkan perjalanan menuju Puncak Merapi. GPS sudah menyala ditemani lampu kepala dan saatnya menapaki jalanan menuju Merapi.

Debu yang tebal membuat mata ini terasa pedih. Debu merapi bukanlah sembarang debu, karena ini adalah debu vulkanik. Debu ini mengandung silica yang bentuknya mirip pecahan kaca yang lembut namun runcing dan tajam. Jika terkena kulit bisa perih apalagi jika masuk dalam mata. Kacamata adalah perlengapan wajib selain tubuh tertutup rapat oleh pakaian yang didisain kusus untuk mendaki gunung.

1381979122317839367
Matahari terbit menyambut saya di patok 1 ditemani pendaki dari Singapura yang engggan melanjutkan pendakian (dok.pri).

40 menit saya memacu langkah, akhirnya sampai di patok 1 pada ketinggian 2319mdpl. Di sini saya bertemu dengan Chan pendaki dari Singapura yang sepertinya enggan meneruskan pendakian karena kelelahan. Kami berdua sejenak menikmati indahnya sang surya yang merangkak dari puncak Hargo Dumilah gunung Lawu 3265mdpl. Momen yang luar biasa pagi ini, karena disambut oleh rona warna jingga kemerahan di ufuk timur dan pancaran sinar yang hangat. Tak berapa lama saya berpamitan dengan Chan untuk segera melanjutkan perjalanan.

Berjalan melewati punggungan bukit sangat menyenangkan, terlebih saat melewati batuan terjal. Kondisi sepatu benar-benar di uji di sini. Sepatu yang baik adalah yang bergerigi dan memiliki karet sol yang menggigit dan tidak licin. Sepatu yang baik sangat membantu kaki ini dalam melangkah melewatu batu-batuan yang curam. Akhirnya 1 jam 20 menit saya sampai di batas vegetasi. Para pendaki menyebutnya dengan kawasan Watu gajah di ketinggian 2658mdpl.

13819791881349612328
Pertama kalinya dia menginjak tempat seperti ini. Teman dari Papua sangat girang menyaksikan pemandangan langka ini (dok.pri).

Di sinilah saya bertemu dengan 2 pendaki yang semalam mencari rekannya yang hilang. dari pukul 23.00 mereka berjalan dan baru sampai di sini, sedangkan saya hanya butuh waktu kurang dari 1,5 jam. Lantas saya bertanya kepada mereka “mas mau mencari kemana ?”, mereka menjawab “tidak tahu mas, tapi kami akan cari sebisanya”. Solidaritas yang konyol menurut saya jika tanpa ada rencana dan tujuan yang jelas, setidaknya inilah ikatan pendaki. Saya mencoba memberi masukan pada mereka, untuk mencari dari titik mereka berpisah lalu coba simulasikan kira-kira kemana arah dia dan bisa menjadi informasi Tim SAR untuk menyusun rencana. Akhirnya saya meninggalkan mereka dan bergegas menuju Pasar Bubrah.

13819793171388978122
Hamparan batuan sepertinya mirip ladang gembalaan bagi mahluk luar angkasa. Pasir, batu dan tandus inilah potret merapi dari dekat (dok.pri).

Pasar Bubrah, sebuah lokasi yang sangat luas dengan hamparan batuan vulkanik yang tersebar. Batu ukuran pasir hingga sebesar rumah ada di sini. Inilah mengapa dinamakan Pasar Bubrah, karena bentuknya mirip dengan muka planet merah. Mata saya tertuju pada lereng batu dan pasir yang curam, disana nampak para pendaki meraih asa untuk mencapai puncak Merapi.

Pikiran saya terbayang mencari dimana kira-kira titik terakhir pendaki yang hilang tersebut. Tenaga yang tersisa ini masih mampu untuk berlari-lari menuju lereng berpasir yang menguras tenaga. Bisa dibayangkan, tanah yang dipijak itu amblas dan kaki serasa disedot tenaganya untuk melangkah. Untuk menjaga keamanan kaki, pakailah gaiter agar kaki aman dari goresan batu-batu tajam dan pasir yang bisa masuk dalam sepatu.

13819793911207617107
Jalur yang sepi, memaksa saya berlari mencari titik dimana pendaki tersebut mulai memisahkan dari dari rombongan. Tenaga tersisa ini cukup untuk segera sampai di atas batuan keras sebelum sampai puncak merapi. Tujuan awal adalah trail mount yang harus dibumbui mencari mereka yang hilang (dok.pri).

Tepat di lereng  yang memisahkan batuan dan pasir saya duduk dan mereka-reka kemana kira-kira pendaki tersebut nyasar. Sebuah asumsi mengarahkan saya pada sisi timur dan timur laut dari Gunung Merapi. Pendaki tersebut bisa ke arah Musuk atau Deles, karena itu adalah jalur yang biasa dilewati pendaki. Dalam keadaan lelah siapa saja bisa kosong logikanya dan ingin segera turun tanpa sadar jalur yang dilewatinya salah.

1381979535691211446
Lereng 80derajat ini berakhir juga, artinya saya sudah di puncak. Segera mengeset ulang alat navigasi untuk membantu mengarahkan kaki (dok.pri).

Kaki ini kembali mencoba menapaki batu-batuan dengan kemiringan 80derajat. Tongkat sangat diperlukan untuk membantu berjalan merayap/scrambling sekaligus menjaga keseimbangan. 4km tepat saya menginjakkan kaki di puncak merapi 2933mdpl dengan waktu tempuh 2jam 7menit. Sesaat segera saya mengeset ulang GPS, untuk memandu perjalanan pulang sekaligus menyisir lereng timur laut merapi.

Turun dari puncak merapi menuju Pasar Bubrah sangat beresiko dari pada saat naik. Resiko pertama, bisa saja jatuh terjungkal karena lereng yang curam. Resiko yang kedua, batu yang dipijak bisa saja lepas dan mengancam keselamatan pendaki yang dibawahnya. Sangat disarankan saat turun harus benar berhati-hati agar meminimalkan potensi kecelakaan. Berjalan pelan, berpijak pada batuan yang keras dan tetap pada jalur pendakian.

13819796021762475514
Panorama puncak yang terekam dalam lensa. Sungguh menjadi tempat yang indah, dibalik tragedi 2010 (dok.pri)

Sesampai di Pasar Bubrah segera saya berjalan menuju Watu Gajah. Asumsi saya, mungkin pendaki mengambil jalur sebelah kanan karena jalurnya yang lebih cepat, teduh dan sepi. Perkiraan saya salah, dijalur tersebut tidak ada tanda-tanda orang lewat. Rumput dan semak yang menutupi jalur pendakian masih tegak berdiri, begitupula dengan sarang laba-laba masih terpajangs sempurna. Tahun 2009 saya pernah lewat jalur tersebut. Bukan niat menyesatkan diri tetapi mencoba jalur tersebut. Dengan di pandu peta dan alat navigasi, saya bisa melewatinya dan tembus dipertigaan jalur alternatif sebelum patok 1.

13819796581896699857
Mencoba membantu mencari saat perjalanan turun, namun tak membuahkan hasil hingga bertemu dengan Tim Sar di jalur yang sama. Perpisahan kami berharap mendapatkan hasil yang terbaik (dok.pri).

6 Jam usaha saya mencari jejak-jejak pendaki yang tersesat tidak menemukan hasil. Saat menjelang patok 1 saya bertemu dengan Tim SAR yang menyisir dari lokasi yang sama, namun dari bawah dan tak menemukan tanda-tanda dari Survivor. Istirahat sejenak sambil tukar informasi. Kami memutuskan saya kembali ke base camp dan Tim SAR melanjutkan pencarian di tempat lain.

Sesampai di base camp suasana sangat menegangkan. Bukan kali ini saya saya merasakan suasana mencekam seperti ini. Saat pendakian di Rinjani turun bertemu dengan puluhan Tim SAR yang mencari 2 korban hilang. Sesampai di Senaru bertemu dengan pihak keluarga yang harap-harap cemas karena anaknya sudah 5 hari belum kembali dari Rinjani. Kali ini saya berusaha membesarkan hati teman dan keluarganya, bahwa ini adalah sebuah ujian dan semua berusaha berbuat yang terbaik. Menjelang malam, ada berita survivor ditemukan sedang berjalan menuju Deles yakni sisi timur Merapi.

1381979734775380336
“Jaketmu penuh lambang, lambang kegagahan. Memproklamirkan dirimu pecinta alam, sementara maknanya belum kau miliki“. Alam dan Pecintanya yang dinyanyikan Rita R. Hartland mengingatkan pada penggiat alam bebas. (dok.pri).

Malam hari dari situs online diberitakan pendaki yang hilang di temukan di sisi tenggara Gunung Merapi yakni di pasar Wewe. Akhirnya pendaki yang hilang dievakuasi menuju jalur Deles Klaten. Sebuah permenungan, satu saja kesalahan bisa berakibat fatal. Korban pasti merasakan dampak yang luarbiasa yang berimbas pada rekan-rekan seperjalanan, keluarga, tim SAR dan pendaki yang masih punya rasa simpati dan empati. Nanti saya tulis mengapa, masih ada pendaki kini seperti lagu Rita Rubi Hartland, Alam dan Pecintanya.

6 thoughts on “Merapi Sebuah Mimpi Para Pendaki

  1. Diakui ataupun tidak, banyak “pendaki” kita yang kurang persiapan kalau melakukan pendakian. Aku setuju sama pendapat Dhave, dalam pendakian, kesalahan sedikit saja bisa berakibat fatal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s