Pesan Moral Lewat Karnaval

Topeng Ireng Anak Rimba membuka pawai OMB UKSW (dok.pri)

Topeng Ireng Anak Rimba membuka pawai OMB UKSW (dok.pri)

Jalan utama di Salatiga yang biasanya padat itu tiba-tiba berubah lengang. Hanya beberapa kendaraan saja yang nekat menerobos barikade keamanan dengan berbagai alasan untuk dapat melintas. Mobil patroli berjalan pelan dari mengawal pawai tahunan ini. Inilah sajian dari mahasiswa baru Universitas Kristen Satya Wacana sebelum masuk menjadi warga kampus.

Barusan pertama di isi dengan tarian tarian Topeng Ireng. Penampil yang menarikan tarian ini adalah kelompok tari dari Desa Ngrawan, Getasan. Seperti karnaval-karnaval biasanya selalu mengundang kelompok kesenian dari beberapa daerah untuk memeriahkan suasana. Gerak tari yang rampak dengan aksesoris dari bulu-bulu menghiasi badan penari. Gemerincing dari hentakan kaki yang mengenakan sepatu boot nampak harmonis dengan suara tetabuhan yang disuarakan dari bak kendaraan pikap.

Sebagai pembuka jalan, tarian topeng ireng anak rimba membuat masyarakat Salatiga semakin merapatkan diri di pinggir jalan. Inilah hiburan bagi warga di kota kecil, sehingga semua tumpah ruah ingin melihat perhelatan asat awal tahun ajaran baru di kampus USKW. Topeng ireng berlalu, lalu di susul dari parade mahasiswa baru.

13799107781606237314
Pesan-pesan moral yang di sampaikan dalam karnaval ini (dok.pri).

Aneka kostum dikenakan para peserta berikut dengan atribut. Patung besar mirip ogoh-ogoh dibali menjadi simbolisasi pesan. Keranda mayat dengan isi gelondongan kayu ingin menyampaikan pesan betapa berharganya pohon-pohon bagi kehidupan. Pesan ini terasa mengena dengan kondisi pohon yang ada trotoar di Salatiga yang penuh dengan hiasan reklame. Ada lagi pesan dengan kurungan berisi tikus-tikus sebagai simbolisasi korupsi. Simbol ini mengingatkan dengan gonjang-ganjing kondisi politik di salatiga yang sempat diwarnai skandal korupsi. Pesan moral yang di arak didepan kantor-kantor yang pejabatnya pernah berurusan dengan tindak korupsi.

Ada babi ukuran besar yang digotong 8 memberikan pesan kepada anak-anak untuk menabung. Babi berwarna merah muda ini menjadi simbol celengan raksasa dan mengajak untuk menabung. Tagline yang di tulis “pie wes nabung?” mirip dengan tag line orde baru “pie iseh penak jamanku?“. Sederhana namun pesan ini sangat komunikatif terutama bagi anak-anak yang kebetulan berdiri di depan salah satu Bank milik pemerintah.

13799108902073535630
Drum Blek yang katanya penonton membosankan karena kurang atraktif dan seperti tahun-tahun sebelumnya (dok.pri).

Bendera warna-warni sepertinya mewakili warna-warna masing-masing fakultas di kibarkan dengan irama yang sama. Tarian benderapun berlalu lalu dilanjutkan dengan drum blek yang diwariskan turun-temurun. “bosan mas, tiap tahun selalu itu-itu saja”, salah satu warga menyeletuk saat melihat aksi musik-musik dari kentongan dan drum plastik bekas itu. Sebuah koreksi dari warga bagaimana mereka sudah begitu familiar dengan sajian yang satu ini. Atraksi tak jauh-jauh beda, tapi kali ini ditambah dengan menari bersama alam Caesar dalam dunia hiburan. Tapi sepertinya banyak yang tidak terpuaskan dengan sajian ini, semoga tahun depan lebih aktraktif dan menghibur.

Hampir 3 jam karnaval dengan jarak tempuh sekitar 3Km ini. Melintasi jalan diponegoro, jendra sudirman, sukowati, kartini, monginsidi dan kembali ke kampus menjadi rute kali ini. Dalam kurun waktu itu juga arus lalu lintas sedikit tersendat karena beberapa titik dilakukan penutupan jalan. Namun pengendara kendaraan yang harus berhenti nampak menikmati sajian parade hiburan jalanan ini.

1379910976876096897
Insan Nur Akbar seorang komika dengan humor-humor cerdasnya (dok.pri).

Kini saatnya civitas akademika UKSW mendapatkan hiburan selepas seharian berpawai. Pukul 19.00 di lapangan kampus suara musik sudah mengalir dan pembawa acara sudah membuka acara hiburan malam ini. Dengan menunjukan kartu mahasiswa, baru diperbolehkan masuk dalam area kampus. Hiburan ini terkesan tertutup, karena di kususkan untuk warga kampus. Pertimbangan keamanan dan membludaknya pengunjung adalah alasannya karena acara ada didalam kampus.

Insan Nur Akbar Komika jebolan dari Kompas TV menjadi bintang tamu pertama. Lawakan cerdasnya mampu mengocok perut para penonton. Dialek jawa timuran yang kental begitu terasa saat dia membawakan materinya. Sentilan-sentilan yang dibawakan dengan humor begitu mengalir dan disambut dengan gelak tawa. Komika sengaja dihadirkan agar bisa menstimulasi humor yang cerdas.

13799110271349100581
Geisha saat melantunkan tembang hitsnya (dok.pri).

Lewat lawakan ala stand up comedy bisa banyak belajar bagaimana meramu sebuah masalah dan solusinya dengan cara yang jenaka. Mungkin banyak yang tersenyum simpul, artinya itu mengena dan harus dewasa dalam menerima candaan. Komedian cerdas ini diharapkan bisa menambah daya kritis mahasiswa dengan cara yang santun dan salah satunya lewat humor.

1379911083542837896
Geisha juga yang menutup acara (dok.pri)

Pampil selanjutnya adalah Geisha. Kali ini Momo dan kawan-kawan melantukan hits-hitsnya sambil sesekali menyampaikan pesan moral kepada mahasiswa baru. “hey para jomblo, belajar yang baik jika kalian berhasil maka dia akan datang sendiri tanpa harus dicari. Nikmati masa-masa kuliah dengan cara yang positif dan kreatif”. Begitu pesan moral yang disampaikan. Waktu juga yang mengakhiri orientasi mahasiswa baru “creative minority in global society”.

Advertisements

2 thoughts on “Pesan Moral Lewat Karnaval

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s