Benteng Binaus dengan Ranjau Tanahnya

Langit khas pulau timor, yakni dengan biru pekat dan cerah. Pagi ini menyambut saya sebelum naik turun bukit di TTS (dok.pri).

Langit khas pulau timor, yakni dengan biru pekat dan cerah. Pagi ini menyambut saya sebelum naik turun bukit di TTS (dok.pri).

Matahari baru saja menampakan wajahnya dibalik sela-sela daun Gewang (Orypha umbraculifera). Kepulan asap dari rumah bulat masih pekat, pertanda masakan belum selesai dimasak. Namun kaki ini gatal untuk segera mencari legenda desa Binaus, di Soe Nusa Tengga Timur. Jagung rebus dengan campuran kacang turis menjadi bekal sebelum perjalanan panjang ini di mulai.

Desa Binaus berjarak sekitar 10km dari ibu kota TTS. Pertanyaan nakal menyeruak saat bertanya “mengapa dan dari mana nama Binaus itu ?”. Sesepuh adat kemudian menjawab “jika ingin tahu asal-usul Binaus, besok kita pergi ke benteng Binaus”. Ajakan menuju benteng saya sanggupi, pasti ada yang menarik dari legenda Binaus ini.

Saya di antar bapak RT di dusun tiga, yakni desa paling pinggir yang berjarak sekitar 12Km dari keluarahan. Bersama 2 anak dan seekor anjing kesayangannya kami  menyusuri jalan setapak. Suasana pagi masih begitu terasa, bahkan embunpun belum mau beranjak begitupula dengan kicauan burung yang saling bersahutan.

13799037741598180904
Benteng Oemata, persinggahan pertama sebelum masuk di Benteng Binaus. Tepat di atas bukit menjadi lokasi yang strategis untuk mengamati gerak-gerik musuh (dok.pri)

Jaga, demikian nama anjing milik bapak RT yang mengikuti langkah kami. Tiba-tiba dia menyalak dan menggonggong. Ternyata di hutan ini kami menjumpai segerombolan sapi milik warga dusun sebelah yang digembalakan liar di hutan. Bagi warga di sini, ternak sapi biasa dilepas liarkan dan biarkan mencari makanan sendiri di hutan.

Bukit tandus berkapur sepertinya tak ada habis-habisnya. Beberapa sisi lereng tebing nampak longsor, sepertinya baru saja karena luka dalam tanah masih baru dan belum ada tumbuhan perintis. Tiba-tiba Otris, anak tertua dari pak RT berteriak “awas ranjau tanah..!” dengan sigap saya berhenti.

13799039811081456473
Ranjau tanah, demikan penduduk sekitar menyebutnya. Struktur tanah yang labil menyebabkan pembentukan rongga dalam tanah yang bisa runtuh setiap saat (dok.pri).

Tidak tahu apa yang terjadi, lalu dia mengambil tongkat dan menusuk-nusukan di permukaan tanah yang tandus. Tiba-tiba tanah runtuh kebawah menunggalkan lobang menganga. Entah apa yang terjadi jika terperosok di didalamnya. Jadi ingat saat melihat film Vertical Limit yang mengisahkan pendakian puncak K2 dan pendakinya terjebak dalam jurang es yang dalam.

Struktur tanah di pulau Timor adalah batuan kapur dengan lapisan tanah yang tipis. Lapisan tipis ternyata tidak stabil dan bisa saja setiap saat terjadi pergerakan. Tidak salah jika sering terjadi longsor. Celah-celah tanah yang longsor berupa lubang pelan-pelan tertutup dan setiap saat bisa saja memangsa siapa saja yang lewat. Penduduk sana sudah hafal dengan ranjau tanah ini sehingga bisa mengatisipasinya.

13799041841243370499
Salah satu pemandangan yang eksotis dari seberang benteng. Jauh di depan sana nampak Gunung Molo berdiri (dok.pri).

6km sudah kami berjalan dan sampailah disebuah bukit. Diatas bukit terpancang sebuah patok yang katanya sebagai peringatan bahwa di bukit ini dilarang melakukan perburuan dan penebangan hutan. Sebuah kesepakatan yang memihak pada pelestarian lingkungan dan semuar warga menaatinya. Dari bukit tersebut harus turun melewati lereng yang longsor dan kembali jalan menanjak tajam.

Kali ini puncak bukit berupa tatanan batu dengan pola melingkar. Ternyata inilah benteng yang dimaksud. Tebakan saya salah, ternyata ini adalah benteng Omata. Benteng ini adalah tempat untuk mengintai musuh dari kejauhan sekaligus pertahanan pertama. Dari atas benteng ini pandangan sangat luas ke seluruh penjuru mata angin. sebuah tempat strategis untuk kubu pertahanan.

1379904071798429296
Benteng Binaus, menjadi kubu pertahanan terakhir di desa ini pada masa lalu (dok.pri).

Perjalanan dilanjutkan dengan turun mengitari benteng. 2 Km dari benteng tersebut barulah sampai di benteng Binaus. Sebuah bukit kapur dengan lereng yang curam. Konon tempat ini digunakan sebagai tempat pengungsian bagi para warga. Kaum perempuan dan anak-anak akan tinggal disini selama masa perang berlangsung. Kaum lelaki sebagai prajurit di benteng Oemata.

Saya bertanya-tanya, warga di sini itu berperang dengan siapa. Tidak ada yang tahu dengan jelas bagaimana kisah masa lalu. Namun ada seorang penutur, bahwa jaman dulu pulau Timor terdiri dari kerajaan-kerajaan kecil. Ada 3 kerajaan atau suku di pUlau Timor yakni Mollo, Amnuban dan Amnatu. Dulu ketiga suku ini saling bertikau untuk memperebutkan kekuasaan dan wilayah. Suku Mollo adalah yang tinggal di Binaus ini.

Akhirnya tanda tanya itu belum terjawab. Perjalan memutar bukit-bukit kembali dilanjutkan. Tidak mungkin kami balik kanan dengan kembali pada jalur semula. Kami jalan menuju arah sungai dan berjalan ditepiannya. Tiba-tiba saya di colek agar menepi naik pada sebuah undak-undakan kecil yang tersusun dari batu kali.

13799041381655022868
Makam raja dan tawan perang yang ada dalam satu kompleks pemakaman (dok.pri).

Mata saya melihat punden-punden terbuat dari batu dan beberapa nisan. Di sini adalah makam para penguasa masa lalu. Ada sebuah punden besar dan itu adalah nisan dari raja. Lantas sekitar raja berserak nisan-nisan tak jelas dengan bentuk yang tak beraturan. Dituturkan bahwa nisa yang tak jelas itu adalah makam musuh dari kerajaan. Musuh yang tertangkap, akan dipenggal kepalanya dan dipersembahkan kepada raja. Sedangkan tubuh dari musuh akan dikuburkan dengan posisi berdiri. Demikian kata penutur yang menemani saya dan membuat sedikit merinding pulang, terlebih lebatnya pohon Ficus menambah seram suasana.

Sejarah panjang masa lalu sepertinya hanya tersirat. pada waktu-waktu tertentu kadang ada pertemuan para pemangku adat dan saling bertutur sejarah. Entah sampai kapan sejarah ini akan tetap tersimpan dalam mulut penutur dan akan ditelan usia jika tidak segera disuratkan. Terjawab sudah nama Binaus, walau harus berjalan lebih dari 20km menuju benteng Omata dan Binaus.

2 thoughts on “Benteng Binaus dengan Ranjau Tanahnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s