Lari-lari di Gunung Merbabu

Dari desa wekas menjadi awal menuju puncak merbabu (dok.pri)

Dari desa wekas menjadi awal menuju puncak merbabu (dok.pri)

Pagi yang cerah, disaat terik mentari membakar tenkuk yang tak tertutup. Barisan pendaki dengan langkah gontai dan nafas terengah-engah menapaki ondo rantai untuk menggapai puncak tertinggi. Merbabu dengan pesona jalur yang meliak-liuk menantang ketinggian mengundang siapa saja untuk menjamah setiap jengkal tubuhnya.

Diawali dari pertigaan Wekas diputuskan untuk naik ojek menuju desa terakhir. Jarak 3,4km kami lalui dengan menumpang kendaraan roda dua yang menembus hutan pinus di Taman Nasional Gunung Merbabu. Sekitar 15 menit kami menikmati perjalanan yang menegangkan karena pengemudi ojek yang sudah hafal sepertinya jarang menekan pedal rem, yang ada hanya tarikan gas saja.

Di desa terakhir, yakni di Wekas kami mendaftar untuk mendaki gunung. Sebenarnya tidak mendaki, karena tampang bukan seperti pendaki biasanya. Celana kolor, sepatu lari, kaus lengan panjang, topi, kaca mata dan tak kecil di punggung. Banyak yang mempertanyakan, benar mau mendaki..?.

Membayar Rp 4.000,00 untuk karcis masuk jalur pendakian. Butuh persiapan yang matang dan baik untuk mendaki model ini. Banyak yang mengatakan mendaki gunung model ini dengan nama trail running, mount trail, ultra trail, dan sky runner. Pada prinsipnya olah raga ini adalah lari lintas medan. Menggabungkan olah raga lari dengan mengambil jalur di rute pendakian.

13781800701531461139
Medan yang harus di lalui, sehingga membutuhkan persiapan yang baik (dok.pri)

Setiap pagi, sebagai persiapan biasa berlari sekitar 1-2 jam. Jarak yang ditempuh bervariasi, dari 5-20Km. Selain berlari setiap pagi, juga diimbangi dengan berenang sebagai olah pernafasan. Sesekali juga bersepeda untuk menambah kekuatan otot kaki. Latihan rutin untuk meningkatkan stamina dan daya tahan tubuh.

Latihan fisik bukan jaminan untuk bisa berlari di medang gunung. Pengetahuan dasar pendakian juga diperlukan. Kemampuan navigasi, untuk menentukan arah, ketinggian dan jalur yang tepat sangat diperlukan agar tidak tersesat. Untuk olahraga ini diharuskan membawa GPS dan alat komunikasi untuk menjaga dari hal-hal yang tidak diharapkan.

1378180135332942519
Keindahan alam yang memikat, menjadi alasan mengapa berlari di tempat ini (dok.pri)

Namanya saja lari, berbeda dengan mendaki yang setiap saat bisa berhenti untuk makan. Untuk lari gunung, makanan harus disediakan kusus. Ringan, praktis, tidak membuat perut kenyang, dan memiliki nutrisi yang baik. Cokelat pahit acapkali menjadi andalan. Ada juga yang suka dengan gula merah. Acapkali ada yang mengoplos makanan dalam satu wadah dengan komposisi tertentu. Makanan benar-benar diperhatikan, sebab dari sinilah sumber energi itu.

selepas dari desa terakhir langsung mencari posisi masing-masing. Berlari-lari kecil buat aklimatisasi, yakni menyesuiakan dengan iklim setempat. Udara dingin mulai masuk dari sela-sela baju yang didisain udara bebas keluar masuk. Buff yakni kain mirip tabung sangat membantu untuk menutupi leher dari sengatan matahari dan masker yang ampuh dari debu-debu yang berterbangan.

13781801891798406944
Mencapai ketinggian 3000mdpl semua berubah, sehingga harus cepat menyesuaikan diri (dok.pri)

Jalur mulai menanjak dengan hanya jalan setapak. Ketinggian sudah diatas 2000mdpl dimana tekanan semakin tinggi, udara semakin tipis. Jika belum teraklimatisasi gendang telingan kadang sedikit tuli, seperti gejala saat naik pesawat terbang. Beberapa kali selang air minum dari kantong unta yang ada dipinggung disedot untuk membasahi tengggorokan. Untuk lari model ini, biasanya ada 2-3 jenis minuman. Yang pertama adalah air mineral, yang kedua air isotonik dan yang ketiga adalah air madu. Masing-masing air memiliki peranan, yakni mengganti cairan tubuh, mengganti ion tubuh serta memberi tambahan energi.

Melewati ketinggian 3000mdpl yakni di pertigaan jalur antara wekas dan cuntel gangguan dari alam mulai terasa. Angin yang kencang dan dingin membuat tubuh kehilangan panas. Langkah yang terbaik adalah melapisi kaos dengan wind breaker, yakni jaket tipis yang berfungsi untuk menahan hembusan angin. Tujuannya adalah mengurangi tubuh kehilangan panas sehingga energi tidak terbuang sia-sia.

1378180245534377830
Puncak dengan ketinggian 3142mdpl menjadi titik akhir perjalanan dan saatnya kembali turun (dok.pri)

Akhirnya sampai juga di titik tertinggi dengan durasi waktu 02:24:54 dengan jarak 5,76Km. Tertebus sudah penderitaan dan nafas yang hampir putus saat mendaki gunung Merbabu dari sisi barat ini. Jalur wekas baik untuk pemula karena jarak yang relatif pendek dan medan yang tidak terlalu berat, tetapi bagaimanapun yang namanya gunung tetap ada saja tingkat kesulitannya.

Saatnya harus turun menuju desa terakhir. Kali ini mencoba turun menuju dusun Cuntel di sisi utara Merbabu. Untuk turun harus lebih berhati-hati karena potensi bahaya banyak saat turun. Pijakan kaki harus benar, dijaga keseimbangan serta tetap konsentrasi karena kondisi fisik yang sudah menurun. Matahari begitu teriknya, namun udara begitu dingin. Godaan untuk menjemur badan, padahal cara ini tidak baik. Kulit lama-lama akan terbakar karena jarak matahari yang lebih dekat, sehingga paparannya lebih kuat tanpa ada penghalang awan. Udara dingin meninabobokan sehingga akan berlama-lama berjemur pada akhirnya kulit akan terbakar.

1378180324582238986
Turunan curam harus di jalani dengan hati-hati, karena resiko saat turun jauh lebih besar dari pada saat naik (dok.pri)

Jarak tempuh dari puncak sampak dusun Cuntel adalah 7,37 Km. Harus melewati gunung watu tulis yakni sebuah puncak yang terdapat menara pemancar. Saat sampai disini harus jeli membaca petunjuk arah, sebab jika salah akan turun di desa Thekelan yakni 2 Km di timur dusun Cuntel. Jalur sebelah kiri adalah cuntel dan kanan adalah Thekelan. Turunan curam menyambut kaki yang mulai gontai tetapi harus terus berjalan.

02:24:19 catatan waktu yang ada di GPS untuk jalur turun. Sampai di dusun ini langsung menuju posko pendakian untuk melapor diri sudah turun agar bisa dikroscek dengan posko wekas. Usai melapor saatnya menikmati pesona Dusun yang asri. Malam ini menginap disalah satu rumah warga yang biasa digunakan pendaki untuk menginap. Suguhan teh hangat dan ubi bakar menyambut kami disertai sapa ramah tuan rumah. Malam ini di habiskan dalam obrolan di depan tungku perapian hingga malam datang dan berakhir dalam balutan kantung tidur di atas bale bambu.

Advertisements

16 thoughts on “Lari-lari di Gunung Merbabu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s