Perahu-perahu Rawa Pening

Menjelang senja, keindahan refleksi di Rawa Pening mulai terasa (dok.pri)

Menjelang senja, keindahan refleksi di Rawa Pening mulai terasa (dok.pri)

Rawa pening menjelang senja saat sang surya menuju ufuk barat, para nelayan sudah mulai menepikan perahunya. Pak Jumeri, nampak sibuk memakirkan sampan-sampan yang tadi disewa oleh para nelayan yang mengadu peruntungan. Pemilik 20 sampan dengan rapi menjajarkan sampan-sampannya dengan rapi dan menguras air yang menggenang di lambung sampannya.

Sampan-sampan di Rawa Pening sebagian besar bukan milik nelayan. Para nelayan biasanya menyewa perahun dari para penyewa dengan harga yang murah. Biaya sehari sewa sampan ukuran kecil hanya Rp 5.000,00 sedangkan yang ukuran besar Rp 10.000,00. Untuk perahu ukuran besar dan bermesin harga sewanya dari 30-50ribu.

13748081971854607934
Pak Jumari sibuk menyandarkan perahu-perahu sewaannya saat para nelayan mulai menepi (dok.pri).

Tidak hanya nelayan saja yang menikmati layanan jasa sewa perahu. Para pelancong yang ingin mengulik Rawa Pening bisa menyewa perahu sekaligus dengan pemandu dan pemgemudinya. Harga sewa sangat bervariatif, ada yang di hitung perjam ada juga yang sekali sewa dalam satu hari. Di bukit cinta, harga sewa perahu besar per jamnya mulai Rp 15.000,00, sedangkan di Sumurup Rp 50.000,00 sehari.

Saya bertanya-tanya dari mana perahu dan sampan-sampan ini di datangkan. Unik sekali biasanya moda transportasi air seperti ini dibuat di pesisir laut. Berbeda dangan Rawa Pening yang jauh dari laut apalagi untuk mendatangkan perahu atau sampan.

1374808368232106413
Perahu-perahu buatan warga sekitar Rawa Pening yang siap di jual.

Jawaban darimana perahu dan sampan ini dibuat terkuak sudah saat melancong di keluarahn yakni dusun kecil di sisi timur Rawa Pening. Beberapa rumah nampak perahu-perahu yang masih baru dan belum dicat. Di dalam rumah nampak para pekerjang sedang menyusun bilah-bilah papan menjadi lambung perahu atau sampan.

Dahulu perahu atau sampan di Rawa Pening terbuat dari gelondongan kayu utuh yang dibelah menjadi 2 lalu di kerok dibagian tengahnya. Saat ini sepertinya susah untuk mendapatkan kayu berukuran besar dan lurus sebagai bahan pembuat perahu. Dari sisi ekonomis juga kurang menguntungkan membuat perahu dari kayu gelondongan, karena banyak bagian yang terbuang sia-sia.

“Jika dihitung, 1 gelondong kayu utuh bisa jadi 2 sampan, namun jika dibuat menjadi papan maka bisa untuk membuat 8 sampan” begitu kata Pak Sarminto di dusun Sumurup, Kecamatan Bawen. Pengrajin perahu di sini tergabung dalam Pengrajin Perahu Budi Luhur, desa Asinan.

13748085341299154973
Pakal sela-sela papan pada dinding lambung perahu memaki cairan aspal, berbeda dengan pakal biasanya yang memakai serabut kelapa atau pakis yang kemudian ditutup dengan getah damar (dok.pri)

Di pelataran rumah, sampan-sampan nampak berjajaran dengan garis hitam disetiap celah sambungan papan. Di dalam rumah terdengar rautan mesin-mesin pemotong kayu dan suara palu yang mengantam paku. Salah seorang karyawan sedang mengintip presisi sebilah papan sebelum di tempelkan pada lambung perahu. Di samping rumah asap mengepul, ternyata dari sebuah tungku perapian yang diatasnya ada sebuah tong yang dipotong separuh. Tong ini berisi aspal yang dicairkan dengan cara dipanaskan. Aspal cair ini bergunan untuk menambal celah-celah sambungan papan agar air tidak masuk.

Perahu yang ada di rawa pening berbeda dengan yang ada di laut. Ombak yang nyaris tidak ada, maka kekuatan lambung perahu tak sekuat perahu yang harus menerjang ombak lautan. Perahu buatan Rawa Pening tidak memiliki lunas. Hanya gading-gading saja untuk menempelkan papan sebagai lambung. Begitu juga dengan sampan, yang hanya dibuat dari papan dengan susunan setengah tabung. Untuk merekatkan papan tak lagi menggunakan pasak, namun paku dari besi, alumunium atau baja karena air tawar tak sekorosif air laut.

Di teras rumah, sudah berjajar perahu dan sampan siap jual. Kedua benda terapung ini belum di cat sama sekali, sebab biasanya yang mengecat adalah para pembeli dan akan mengecat dengan warna khas sebagai penanda kepemilikan. Harga perahu di sini sangat variatif, tergantung bahan pembuat dan ukurannya.

13748086231673585779
Perahu tak bercadik agar memudahkan melewati celah-celah eceng gondok (dok.pri)

Perahu dengan ukuran 8 papan ukuran 15cm di hargai 500 ribu sedangkan 9 papan dihargai 1 juta rupiah. Untuk sampan, jika terbuat dari kayu mahoni dihargai 500ribu dan dari kayu suren sekitar 550 ribu. Untuk perahu besar dan bermesin serta memiliki atap dijual dengan harga 17,5 juta belum termasuk mesin tempelnya. Perahu atau sampan disini rerata tidak memiliki cadik, karena akan menghambat lajunya yang tersangkut eceng gondok. Perahu dan sampan dibuat seramping mungkin agar mempermudah bermanufer di sela-sela eceng gondok.

20 thoughts on “Perahu-perahu Rawa Pening

  1. fotonya kok bisa keren2 sih mas…btw itu klo mudik saya lewat situ terus mas..deket tempat simbah dan om saya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s