Kenangan Dari Kamera Yang Hilang

Yang terekam saat bersama anak-anak di lembah baliem (dok.pri).

Yang terekam saat bersama anak-anak di lembah baliem (dok.pri).

Seorang prajurit tentu tak akan lepas dengan senjata yang ada dipundaknya. Tidur, makan, bahkan ke kamar kecil mungkin akan selalu menyandang senjatanya. Bagaimana jika senjata tersebut tiba-tiba raib, mungkin dalam medan pertempuran akan memakai apa saja untuk berjibaku. senapan hilang, masih ada pistol, pisau, atau tangan kosong. Bagaimana dengan fotografer, jika kamera hilang..?

Sekedar berbagi dari sebuah pengalaman pahit, bahkan menyesakan. Hari itu memang sangat melelahkan. 8 jam perjalanan darat di Jayapura dengan kendaraan sambil sesekali berjalan saat harus turun. Usai penderitaan di darat dilanjutkan 2,5 jam harus duduk manis dalam kabin pesat. Akhirnya transit di Makasar, berharap sesaat untuk mengisi perut. Baru saja mulut ini menikmati makanan, panggilan untuk segera terbang sudah terdengar. Akhirnya 2 jam lebih terbang menuju Jakarta. Mendarat dengan mulus, akhirnya berpindah pada bus Damri.

 

13744735951139684311
12,5 jam duduk ternyata sangat melekahkan. Bersama kenalan, membuka pembicaraan tentang keindahan dan kekayaan Papua (dok.pri)

 

Di sinilah awal malapetaka itu. Mata saya terus saja menatap dimana pintu tol slipi dan stasiun gambir. Akhirnya sampai juga di stasiun dekat tugu monas dan teman langsung menghampiri. Tujuan pertama adalah mencari makan, sebab seharian harus menahan lapar dan dahaga. Akhirnya teh panas dan sepiring nasi goreng siap untuk disantap. “bisa lihat hasil fotonya” kata teman saya. “kamera saya….” itu yang terucap sisanya lemas.

Seingat saya kamera saya masih saya cangklong di pundak kiri usai dari bandara, karena harus memotret di sana. Masuk bus damri, masih melihat beberapa gambar sambil menghabus gambar-gambar yang kurang bagus. Setelah itu lupa dan sadar saat semuanya sudah bubar.

 

13744737041270636086
kamera hilang, maka kenangan pun melayang (dok.pri)

 

Selain faktor kelelahan fisik, kecerobohan saya juga menjadi salah satu penyebabnya. Dari tahun 1998 saya megang kamera, baru kali ini kamera saya cangklong di pundak saat tidak memotret. Biasanya saat tidak memotret, sesegera mungkin kamera masuk dalam tas demi keamanan. Aman dari tindakan kriminal dan aman dari benturan atau kotoran.

Banyak yang kadang tak menyadari menyandang/cangklong kamera itu sangat beresiko. Benturan body kamera termasuk lensa kerap terjadi karena kita tidak menyadarinya. Tips sederhana, saat mencangklong posisikan lensa menghadap kebelakang. Memang terkesan lucu dan aneh, sebab posisi kamera terbalik, namun cukup aman untuk menghidari benturan lensa. Terlebih saya yang sering memakai lensa tanpa filter/pelindung. Paling aman gantung di leher.

Saat kamera hilang, yang membuat semakin menyesakkan adalah data-data digital dalam bentuk RAW didalamnya. Sekitar 8Gb gambar musnah dan sangat menyakitkan. Tips yang mungkin sedikit jitu dan aman adalah; bawa beberapa kartu memori ukuran kecil 2-4Gb, jangan lupa bawa flash disk atau hardisk eksternal.

 

13744737561297678316
Sesering mungkin menggandakan file agar tersimpan dengan aman. (dok.pri)

 

Untuk perjalanan jauh, saat kartu memori penuh sesering mungkin pindah dan salin gambar-gambar dalam media penyimpan data. Alangkah bijaknya, jika memori yang sudah penuh lalu kita salin kita biarkan memori tetap ada data. Cukup ganti dengan kartu memori yang baru yang masih kosong. Mungkin, flash disk bisa saja rusak, begitu juga dengan hardisk eksternal, terlebih cakram keras.

Kamera, lensa, kartu memori, hardisk, flash disk dan lain sebagainya adalah barang yang ringkih. Perlakukan mereka dengan sangat istimewa daripada anda kecewa. Maskapai penerbangan acapkali menolak memasukan barang-barang mahal tersebut dalam bagasi. Cara menyiasatinya, kemas kemara dan perlengkapannya dalam tas yang kompatibel dengan bagasi di kabin. Tas kamera saya yang kelewat obesitas, alhasil tidak bisa masuk dalam bagasi kabin dan harus masuk dalam bagasi. Pihak maskapai tentu saja tidak mau bertanggung jawab jika terjadi kerusakan saat ada benturan atau goncangan dalam bagasi.

Solusi alamannya adalah, bawalah tas kemera kecil. Minimal cukup untuk memasukan 1 atau 2 body kamera, dan biarkan lensa tetap tidur manis di bagasi. Cukup dengan tas cangklong, sudah bisa memuat 1-2 body DSLR dan kamera saku, atau 1 DSLR dengan 1-2 lensa. Disinilah kepiawaian kita di uji dalam seni packing. Pintar-pintarlah mengemas barang.

 

1374477383429972544
Paling aman adalah motret rame-rame (dok.pri)

 

 

Agar lebih aman, kasih label atau name tag di seluruh barang-barang berharga kita. Bukan bermaksud untuk menunjukan barang ini milik kita, tetapi demi keamanan saja. Ingat saat traveling, sesepele apapun benda itu akan sangat berguna sekali. Kasih sticker, tag label atau simbol-simbol yang mudah dilihat.

Pastikan juga ada daftar barang bawaan kita. Fungsi list ini agar kita  mudah mengingat, karena dalam kondisi lelah acapkali lupa naruh tutup lensa dimana, dicari-cari tidak ketemu ternyata ada di kantong belakang.

Kejadian hilangnya kamera saya di bus damri memang patut di sesalkan. Beberapa teman nampaknya ikut gusar, dan karena ketidaktahuan saya maka peluang ketemunya sangat sedikit. Di beberapa kota ada komunitas-komunitas unik. Pakai saja jasa mereka, siapa tahu bisa membantu. Pernah ada teman, laptopnya tertinggal di dalam bus. Berkat bantuan komunitas Busmania, laptop berhasil ditemukan dalam keadaan selamat. Nah jika barang kita hilang atau tertinggal di bus, ingat saja plat bus atau nomer lambung, makan teman-teman komunitas Busmania Insya Allah bisa melacaknya. Laman-laman atau media sosial juga akan sangat membantu dalam melacak barang hilang, siapa tahu  masih berjodoh dengan anda, niscaya tak akan lari kemana.

 

13744738351813397618
Bawalah semuanya serba ganda, buat cadangan saat salah satu bermasalah (dok.pri)

 

Jika kita teliti, kamera maupun lensa memiliki penciri dan nomer seri. Alangkah baiknya nomor-nomor ajaib itu kita data, siapa tahu gayung bersambut dan cocok dengan barang yang hilang. Namun, peluang sangat kecil setidaknya kita ada usaha.

Sudah 2 kali saya kehilangan kamera. Kemarin di bus, tetapi sebelumnya hilang gara-gara kecelakaan. Entah siapa yang menyenggol kamera saya, akhirnya tenggelam di dermaga di Karimunjawa. Mungkin tidak hanya fisik kamera dan lensa saja yang membuat gemetar, namun perjuangan untuk mendapatkan gambar-gambar bagus juga pupus. Akhirnya kembali menjadi prajurit harus bertempur tak lagi dengan senapan mesin, tetapi ponsel 2,3mp bak perkelahian tangan kosong.

12 thoughts on “Kenangan Dari Kamera Yang Hilang

  1. Yah sayang banget, Dhave. Apalagi sudah kedua kalinya. Lain kali hati-hati. Kamera bisa dibeli lagi, tapi hasil jepretannya itu kan gak mungkin terulang. Aku ya pernah ngalami kamera kejebur di laut, makanya kapok nenteng kamera tanpa nyangkutin talinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s