Kau Memotret, Kau Harus Bayar…!

Saya memberikan kamera saya agar dia memotret saya. Impas bukan jika harus membayar saat memotret. Gaya bercanda inilah yang saya pakai untuk berkomunikasi dengan penduduk setempat. Akhirnya saya mendapat jalan tol untuk memotret, namun etika harus tetap di jaga (dok.pri)

Saya memberikan kamera saya agar dia memotret saya. Impas bukan jika harus membayar saat memotret. Gaya bercanda inilah yang saya pakai untuk berkomunikasi dengan penduduk setempat. Akhirnya saya mendapat jalan tol untuk memotret, namun etika harus tetap di jaga (dok.pri)

hey kau… tadi foto kita toh?, ayo bayar.. bayar.. bayar..!” suara yang keluar usai tombol rana ini terlepas. Kau foto, kau bayar itu yang terekam jelas saat saya mengunjungi Wamena. Benar adanya, apa yang dikeluhkan para pengunjung bagaimana mereka harus merogoh kantong lebih dalam untuk menebus gara-gara memotret penduduk setempat.

Sebelum sampai di Wamena, peringatan ‘dilarang motret orang yang tidak kita kenal’. Sejenak ada yang aneh dengan peringatan tersebut. Kenyataannya memang harus keluar uang usai memotret penduduk setempat. Memotret memiliki banyak orientasi, entah itu hanya sebatas dokumentasi pribadi saja, atau menjadi sebuah produk yang laku dijual. Artinya ada hasil pemotretan yang akan menjadi koleksi pribadi atau menjadi sumber uang.

Mungkin di daerah lain tak jauh berbeda dengan kejadian diatas, dimana harus membayar saat memotret. Kali ini tidak tanggung-tanggung uang yang harus di keluarkan gegara memotret penduduk setempat. 50-100 ribu rupiah harus rela keluar dari dompet. Kemungkinan kalau kita bisa bernegosiasi bisa di ganti dengan 1-2 batang rokok.

Entah sejak kapan, mereka mengkomersilkan dirinya setiap ada yang memotret. Desas-desus yang beredar, mereka mulai berani pasang tarif gegara ada turis yang usai memotret mereka lantas memberi uang. Kebiasan turis atau gaet yang memberi tips tersebut yang membuat mereka melunjak dan berani pasang tarif yang kadang tak masuk diakal.

1373867691353666281
Mengeluarkan mumi adalah momen yang mahal. Pantas juga mereka memasang tarif mahal juga. Namun kesempatan ini acapkali di salahgunakan oleh semuanya dan uang adalah jalan damainya. Jika pintar negosiasi, maka 1-2 batang rokok bisa gantinya dari pada uang biru atau merah melayang. Masalah ini sudah kompleks, jika dibust aturan main yang jelas maka semuan akan enak. Buat tarif yang jelas, dan tidak ada tarif liar. Semua senang, semua tenang. (dok.pri)

Kejadian unik saat berkunjung di desa Kurulu, 16Km dari Wamena. Teman saya bangga menunjukan hasil fotonya dengan menunjukan layar tampilan di kameranya. Tak di sangka, wajah-wajah yang tertangkap kamera langsung memasang tarif, per kepala yang terfoto sebesar 50 ribu. Bisa dibayangkan jika dia tak sengaja memotret orang 1 kampung, bisa tak pulang kampung beneran.

Memang tidak bisa disalahkan mereka meminta uang kepada pengunjung yang memotret mereka. Saya berandai-andai saja, jika saya memotret salah seorang mereka kemudian saya ikutkan lomba maka berapa kompensasi yang harus saya bayarkan pada obyek/modelnya?. Andaikata foto itu hanya menjadi koleksi, berapa nilai dari sebuah kenangan jika dirupiahkan ?. Memang semuanya serba relatif dan tergantung persepsi masing-masing. Semua bisa memutuskan sesuai dengak kebijakannya  masing-masing.

1373867946218028878
Ajak foto bersama, maka beres masalahnya. Tidak perlu meminta orang untuk memotret, cukup dengan sentuhan kreatifitas maka beres sudah.(dok.pri)

Prilaku fotografer acapkali juga kurang terpuji. Tidak sedikit mereka yang ‘candid’ atau memotret secara diam-diam. Memang semua bisa di halalkan, sebab mencuri foto sah sah saja karena tidak ada yang dirugikan. Jika berbicara etika, maka kembali pada pribadi masing-masing yang memegang kamera. Ada juga yang gemar mengekplotasi obyek habis-habisan, tanpa disertai etika. Bagaimana perasaan si obyek yang terus di gambar dan kemudian di pamerkan-pamerkan. Dengan pakaian yang seadanya ‘koteka’ adalah obyek yang menarik untuk dijadikan sasaran tembak kamera, tanpa berpikir pada ranah etika. Saya kira, kembali pada juru fotonya saja bagaimana menyikapinya.

Akhirnya saya selamat juga dari kejadian yang tak menyenangkan ini. Bila di telisik, mereka sebenarnya ada yang tak mengerti hitung-hitungan angka atau baca tulis. Mereka langsung menyebut angka, 50 ribu dengan warna biru atau 100ribu dengan kertas warna merah. Buka niat hari membuat merekan bodoh atau “tipu-tipu” kata mereka, namun yang lebih penting hanya permasalahan komunikasi saja.

Saya untuk memotret mereka, butuh obrolan hampir 2 jam baru leluasa memotret mereka. Mengarahkan untuk bergaya dengan beragam senjata dan aksesoris, semuanya gratis asal ada pembicaraan sebelumnya. Benar, jangan memotret orang tak di kenal karena harus bayar. Solusinya adalah ajak mereka dalam obrolan, saling kenal dan memahami dan utarakan tujuan kita. Dengan komunikasi yang baik, bisa kita kasih mereka pengertian dan akhirnya ada kesepakatan dan semuanya tinggal terserah anda.

1373868037585120279
Narsis rame-rame, dan terjawab semuanya (dok.adirafoi).

“Aku gak perlu uang ribuan,Yang aku mau uang merah cepe’an” kata group band Slank. Apakah masih relevan, bisa terjawab di setiap kejadian. Mungkin cepean dulu masih berwarna merah bergambar bendungan  atau perahu pinishi, tetapi sekarang bergambar proklamator dan gedung wakil rakyat. Mengapa mereka seperti sampai seperti itu, bisa tanya pada yang menghuni gedung pada uang merah 100ribuan, siapa tahu terjawab. Saya hanya bisa berkata “ini momen mahal, selayaknya bisa mengapresiasinya bagimana memperlakukan obyek sebagaimana mestinya”.

10 thoughts on “Kau Memotret, Kau Harus Bayar…!

  1. pernah saya mau foto bapak2 di jembatan penyebrangan yang lagi tidur. begitu saya keluarin kamera langsung diri dan kabur dia.
    gak semua suka difoto sih ya. memang harus ngobrol dulu baru deh nanti foto. tapi foto candid ada nilai tersendiri kan mas. gimana kira-kira enaknya.

  2. “Uang” kan juga salah satu bentuk komunikasi toh Mas? hehehe. Saya paham kalau di tempat-tempat seperti itu, warga mematok tarif ketika mereka dijepret kamera. Hanya saja, mungkin ya… saya jadi lebih berhati-hati memotret orang, jangan-jangan ada aturan tak tertulis yang menjebak dompet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s