Perang Bakar Batu di Lembah Baliem

Bersiap untuk berperang. Tua, muda dan kaum perempuan semua ikut terlibat. Namun ini hanya sandiwara tari. Saya seperti melihat film kolosal Baratayuda dalam epos Mahabarata (dok.pri)

Bersiap untuk berperang. Tua, muda dan kaum perempuan semua ikut terlibat. Namun ini hanya sandiwara tari. Saya seperti melihat film kolosal Baratayuda dalam epos Mahabarata (dok.pri)

Lembah Baliem, di sebuah pelataran kantor Polisi sektor berkumpul dua kubu yang berselisih. Nampak seorang kepala polisi setempat hanya menoleh ke kakan dan kekiri sambil mendengarkan perdebatan kedua kubu yang bertikai. Entah apa masalah mereka, yang pasti sebelum perang antar kampung itu terjadi maka perang mulut ada di kantor polisi.

Seorang yang menemi perjalan saya bercerita tentang kisah-kisah unik masyarakat adat dengan aparat penegak hukum setempat. Hukum adat yang masih dijunjung tinggi menjadi penyelesaian setiap kali ada konflik. Di lain sisi hukum positif negara ini yang tertuang dalam kitap hukum dan undang-undang tak berkutik. Bisa di bayangkan seorang polisi harus bisa menyelesaikan denda adat dengan membayar sejumlah uang dan memberikan beberapa ekor babi. Tidak mungkin juga polisi memenjarakan penduduk yang ketahuan mencuri hipere/ubi jalar, daripada pos polisi di bakar masa.

1373596807993162998
Terkadang penegak hukum di Lembah Baliem harus bisa sabar menangani konflik adat. Sungai baliem yang belika-liku harus seluwes hukum positif yang disesuikan dengan dengan budaya setempat (dok.pri)

“Polisi disini harus panjang ususnya mas, sabar, bijak dan harus memahami situasi dan kondisi. Hukum pidana biarlah di kota, tetapi di desa cukuplah hukum adat daripada semakin runcing masalahnya” begitu kata teman seperjalanan saya yang menuju desa Kilise di Distrik Kurima, Yahokimo – Papua.

Ada seorang istri kepala suku yang di culik oleh suku lain di kampung sebelah. Genderang perang sudah di tabuh, dan panji-panji kehormatan suku sudah di angkat. Tiba saatnya untuk perang. Busur dan anak panah sudah ada di tangan. Tombak panjang sudah di pundak. Parang yang tajam sudah dalam genggaman. Tanduk babi di hidung sudah melengkung ke bawah, artinya kemarahan besar dan siaga untuk berperang. Pekik suara penyemangat sudah di gelorakan. Aroma kemarahan, balas dendam, begitu nyata di wajah-wajah pemuda hingga orang tua.

137359691736389135
Anak-anak juga dilibatkan dalam peperangan. Mereka adalah generasi penerus perang ini. Inilah yang menjadi sajian festival tari perang di Lembah Baliem (dok.pri).

Walau hanya mengenakan koteka dan bertelanjang kaki membuat gerakan mereka semakin gesit. Langkah kaki mereka begitu kuat dan garang. Saya yang mengikuti mereka sepertinya kuwalahan, sebab diatas ketinggian 1800mdpl udara tipis dan dingin membuat berat langkah kaki. Akhirnya saya hanya berhenti pada sebuah pematang jalan.

Kini saatnya melihat pertarungan dua kubu yang memperebutkan kehormatannya masing-masing. 2 orang punggawa suku maju dengan tombak di tangan sambil di acung-acungkan. Mereka berlari menuju ujung jalan. Nampak samar-samar kubu sebelah sudah mengendap-mengendap mununggu kedatangan 2 musuhnya. Begitu jarak mereka semakin dekat, makan serentak keluarlah gerombolan musuhnya yang tak kalah garang.

1373597005715345211
2 orang punggawa siap mengendap untuk menyerang kubu sebelah. Di ujung sana sudah menunggu pihak yang akan diserang dengan suasana yang tak kalah garang (dok.pri).

Di kejauhan kepala suku yang sudah bersiap dengan tombak di tangan memberi apa-apa. Saya melihat sosok tua dengan sejumlah luka-luka di perut nampak garang dengan kepala berhiaskan sehelai bulu burung dan hidung dengan 2 taring babu yang disatukan di bagian pangkalnya. Sekali teriakan kepala suku, maka pasukan di belakangnya maju dengan beringas kedepan. Merangsek, dan apa yang ada di tangan menjadi senjata yang mematikan. Anak panah di lesatkan menembus kabut lembah baliem. Tombak terlontar menembus pintu angin. Parang nampak terayun-ayun mengerikan. Kaum perempuan, tak mau kalah mereka juga ikut di barisan belakang.

Akhirnya perang dimenangkan salah satu kubu. Tidak ada yang tewas, tidak ada yang terluka, semua bersorak gembira. Inilah tarian perang ala Lembah Baliem. Walau sekedar tarian, namun miris juga melihat keseriusan mereka dalam memainkan watak dan perannya. Tua, muda bahkan anak-anak semua ikut terlibat dalam tarian perang ini. Saya seolah melihat film-film kolosan ala perang baratayudha di epos Mahabarata.

13735970731723375594
Anak panah kembali di genggam dan busur tak lagi tegang. Kini perang sudah berakhir dan saatnya berpesta (dok.pri).

Perangpun berakhir dan saatnya merayakan kemenangan dengan upacara bakar batu. Kayu-kayu di tumbuk di atas batu-bayu kali yang di susun mengerucut. Tahap pertama adalah memanaskan batu dengan di bakar dalam bara kayu. Tak jauh dari situ dibuat lobang dengan diameter sekitar 1m dengan kedalam 30-50cm. Kaum perempuan menyiapkan ubi jalar beserta daunnya, daun pisang dan ilalang.

Tiba saat yang paling mendebarkan, yakni prosesi penyembelihan babi. Untuk mengakhiri hidup babu, dua orang pemuda memegang kedua kaki babi dan kedua telinganya lalu di angkat sejajar. Kepala suku dengan busur dan anak panahnya kemudian membidik tepat di jantung babi. Lesatan anak panah yang mengenai jantung membuat babi kelimpungan lalu mati pelan-pelan. Babi kemudian di ambil telinga dan ekornya. Konon dua organ ini ada yang disimpan di pilamo, yakni honai khusus laki-laki. Babi kemudian di bakar dalam bara api untuk menghilangkan bulu-bulunya, setelah itu baru di potong dengan hanya di belah abdominal lateral.

1373597130520776005
Babi ini akhirnya meregang nyawa setelah tertembus anak panah kepala suku (dok.pri).

Batu yang sudah membara kemudian dipindah dalam lobang dengan menggunakan capit dari bilahan kayu. Batu ditata dengan rapi lalu di tutup dengan daun ubi dan diatasnya ditaruu ubi jalar. Batu panas kembali ditaruh diatasnya dan di tutup dengan daun pisang lalu daging babi di masukan dan ditutup lagi dengan daun ubi jalar. Tumpukan paling atas adalah batu panas kemudian di tutup dengan ilalang lalu di ikat melingkar. Prosesi oven alami ini berlangsung sekitar 1 jam.

13735971791345781076
Saatnya bakar batu di mulai. Batu yang panas membara menjadi oven alam (dok.pri).

60 menit berlalu dan saatnya membongkar masakan dengan panas batu alam. Perlahan-lahan di buka. Masing-masing jenis makanan di taruh tersendiri. Kepala suku dan para tua-tua membagi-bagi agar semuanya mendapat bagian secara merata. Babi utuh dipotong kecil-kecil agar semua merasakan, begitu juga dengan ubi beserta daunnya.

13735972351418652060
Semua makan dan merasakan. Kenyang bukanlah masalah, kerena intinya adalah kebersamaan (dok.pri).

Semua yang hadir duduk bersama dan makan dengan  lahapnya. Yang tadinya perang-perangan dengan aroma dendam, kini sudah hilang seiring aroma ubi jalar yang lezat dan babi yang gurih. Semua yang hadir mendapat bagian. Bukan besar kecil, banyak sedikit, yang penting semua merasakan. Urusan kenyan itu masalah perut, tetapi lidah harus merasakan. Perang telah usai dan bara dendam telah padam seiring dinginnya batu yang di bakar. Semua kenyang dan kembali dalam honai masing-masing untuk menikmati malam.

8 thoughts on “Perang Bakar Batu di Lembah Baliem

  1. mas dhave, kl photo2 masyarakat dg baju asli gitu pake bayar ?? yg ku pernah baca mereka minta bayaran untk berfoto. kalo ternyata tidak, berarti mas dhave beruntung sekali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s