DI Balik Hangatnya Pilamo Ada Tawa Canda

Walaupun belum pernah menginjakan kaki di negeri tetangga, namun kaki saya sudah sampai di Wamena. Suasana pusat kota Wamena, tak seperti perkiraan saya. Di sana pendatang sudah malang melintang untuk berdagang dan menempati kantor-kantor (dok.pri).

Walaupun belum pernah menginjakan kaki di negeri tetangga, namun kaki saya sudah sampai di Wamena. Suasana pusat kota Wamena, tak seperti perkiraan saya. Di sana pendatang sudah malang melintang untuk berdagang dan menempati kantor-kantor (dok.pri).

ngapain ke Singapura atau Malaysia kalau belum menginjak tanah Papua” kata teman saya asal Jayapura. Luasnya Indonesia memang layak untuk dipijak satu persatu dengan budaya yang khas tiap masing-masing daerah. Inilah kekayaan Indonesia yang tak bisa didapat di negara tetangga kita. Akhirnya kesempatan itu datang, dan pagi itu saya menginjakan kaki di Wamena setelag 7 jam terbang dari Jakarta, Sentani lanjut Wamena.

Setiba di Wamena saya langsung kerasan. Wajah-wajah asing itu begitu menerima saya dengan tangan terbuka dan rama. Hitam kulit keriting rambut, Kata Edo Kondologit begitu khas, namun di sela-sela meraka banyak juga para pendatang. Tujuan saya pertama saya adalah menikmati lembah Baliem yang sebenarnya. Film Denias, Di Timur Matahari Karya Ary Sihasale membuat saya penasaran, apa benar seperti itu realitanya. Jawaban yang saya dapatkan, benar begitu adanya setelah 40menit kerkendara dari Wamena menuju Sogokmo.

1372990454699430959
Sungai kecil ini yang menjadi pembatas. Air bekunya menyadarkan saya, bahwa ini di ketinggian sekitar 1700mdpl.

Sungai kecil ini menjadi pembatas, antara wamena dengan kebupaten Yahokimo. Aliran air setinggi lutut langsung menyapa, bahwa saya sudah berada di ketinggian 1700mdpl. Air yang dingin dan terasa beku di kaki. Usai menyebrangi sungai barulah perjalanan sebenarnya dilakukan. Berjalan mendaki bukit sekitar 8Km.

Melewati perkampungan yang dipagari dengan tumpukan batu atau pagar dari katu yang disusun melingkar. Gerbang terdapat anak tangga setinggi 1 meter dengan atap darii ilalang menyerupai honai. Pagar yang berfungsi sebagai daerah teritorial dan mencegah babi keluar. Naik turun bukit dan bertegur sapa dengan mama-mama yang menggendong anak di pundak dan noken yang terkait di dahi. Sedangkan kaum lelaki yang berusia lanjut masih mengenakan koteka, dan kaum mudanya berpakaian ala kadarnya. Inilah pesona asli Papua yang tidak ada di negara tetangga kita.

1372990516456676702
Nampak seoran anak yang tak canggung dengan bidikan kamera saya. Bermain naik turun bukit adalah hal yang biasa sambil bertelanjang kaki tentunya (dok.pri).

Bagi-babi nampak berkeliaran kesana kemarin tanpa rasa terancam oleh para pemburu. Anak-anak kecil berlari-lari naik turun bukit dengan kaki telanjang. Sungguh sebuah keriangan yang jarang sekali saya temukan. Rumah anak-anak ini jauh dibalik bukit sana, namun mereka tanpa rasa takut bebas bermain ke mena saja. Masa-masa yang menyenangkan, sebab hanya itu yang bisa mereka lakukan.

Akhirnya setelah 3 jam berjalan melewati igir-igir lembah Baliem sampai juga di tempat tujuan. Kali ini saya akan menginap di Pilamo di desa Kilise. Tuan rumah yakni Bapak Albert Elopere sudah menyambut di depan regol beratapkan ilalang. “wah..wah..wah..wah… ” pujian dari orang Lembah Baliem saat berbincang-bincang.

Anak-anak kecil yang bermain di pelataran sepertinya begitu antusias melihat kedatangan orang asing. Mereka tidak canggung, malu atau takut. Pertanyaan singkat mereka lontarkan “kakak dari mana, siapa nama kakak, kakak yang akan jadi bapak guru kah..?”. Pertanyaan terakhir membuat saya trenyuh sebab guru mereka hanya satu, yakni mengajar dari kelas 1 sampai 6 SD.

13729906042005472262
Malam ini, rumah bulat yang beratapkan ilalang menjadi hotel termahal yang saya inapi (dok.pri)

Langit biru itu pun segera berubah menjadi pemandangan hitam kelam. Kabut tebal datang dan bukit-bukit indah sudah hilang dari hadapan. Yang ada hanya angin yang beku. Pantas saja Lembah Baliem disebuta sebagai pintu angin. Angin yang dingin karena berasal dari pegunungan dengan suara yang cukup membuat saya merinding. Akhirnya saya menyerah berlama-lama di pelataran honai.

Ajakan pemuda-pemuda setempat untuk masuk ke Pilamo tak bisa di tolak. Pilamo adalah honai khusus lelaki. Honai merupakan rumah adat di papua terutama daerah pegunungan. Kawasan Indonesia timur seperti Nusa Tenggara juga terdapat honai, namu memiliki nama yang berbeda. Honai memiliki dinding dari kayu yang pipih disusun melingkar. Atap honai terbuat dari ilalalng yang di susun melingkar berbentuk setengah bola. Di dalamnya ada yang dibuat bertingkat untuk tempat tidur sedang bawahnya untuk dapur.

13729906771517716014
Suasana saat usai habis menyanyi maka saatnya sit down comedy. Mop atau lelucon alal Papua dibawakan secara bergantian. Inilah hiburan yang membuat perut terkocok dan air mata keluar saat tertawa hebat (dok.pri).

Malam ini saya tidur di honai bersama kaum pria setempat. Perapian sudah dinyalakan. Biasanya asap akan memenuhi ruangan membuat nafas tetasa sesak dan pedih di mata, tetapi sirkulasi udara dari celah-celah dinding membuat ruangan tetap nyaman dan hangat.

Hari semakin malam dan ruangan yang hangat ini semakin hangat oleh sajian keladi dan hipere/ubi jalar yang dibakar. Suasana tak lengkap tanpa mendedangkan lagu yang menurut saya tak jelas syairnya namun memiliki irama yang pakem. Usai satu putaran lagu makan diselingi satu mop, yakni cerita lucu mirip stand up comody yang dilakukan sambil duduk. Sambutan tawa bahkan sampai ada yang terbatuk-batuk dan keluar air mata saat lawakan berhasil menjebol pertahanan mulut yang ternganga. Jangan salah, selera humor mereka sangat tinggih bahkan satu persatu mendapat giliran untuk ber-mop-ria.

13729907671314668523
Saya baru sadar jika ini sudah pukul 1 dini hari. Hanya dua kata yang terucap “selamat pagi Indonesia” karena begitu luasnuya nusantara (dok.pri).

Malam semakin larut, waktu Jakarta pukul 23.00 artinya di honai adalah pukul  1 dini hari. Kamipun mencari posisi masing-masing untuk merebahkan badan. Beralaskan rumput dan jerami kering kami mencoba meretas mimpi di balik honai yang hangat. Saya tidak tahu keadaan di luar sana, yang pasti pintu angin berketinggiam 1800mdpl sangat dingin udaranya.

 

VIDEO ada di sini http://www.youtube.com/watch?v=kOVJLaPueQM

8 thoughts on “DI Balik Hangatnya Pilamo Ada Tawa Canda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s