Savana Limbah dan Teh Sampah ala TPA

_MG_6829

Suara lenguhan sapi menyambut saya di sebuah pintu gerbang yang berbentuk melengkung. Leher-leher kuning dari besi nampak menjulur sambil mengaduk-aduk dengan paruhnya. Puluhan truk bak terbuka hilir mudik kesana kemari mengirimkan setorannya dari pagi hingga petang. Pemulung dengan keranjang dipunggung bersenjatakan ganco siap mengadu nasib dengan sesamanya. Hari ini saya mencoba mengulik ada apa di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Jatibarang, Semarang.

Puluhan pantat sapi sepertinya sedang meledek saya yang sedari tadi membuang ludah karena tak tahan dengan aroma menyengat dan pemadangan tak sedap ini. Sapi-sapi ini acuh tak acuh dengan kehadiran saya dan terus saja melahap apa yang bisa dimakan. Sayur busuk, kertas, atau apapun yang menurut sapi-sapi ini bisa dimakan, langsung saja disantap.

137290371923089092
Meraka seolah mengejek saya yang baru saja datang dan terus-menerus meludah akibat aroma yang kurangs sedap (dok.pri)

TPA Jatibarang sekilas mirip padang gembalaan, namun bukan rumput hijau segar yang terlihat. Tumpukan sampah yang terhampar 27.7098 Ha bak sebuah perkampungan dengan rumah-rumah semi permanen di sekelilingnya. Inilah sebuah klaster komunitas para pekerja limbah. Setiap harinya TPA ini menampung sampah kota Semarang 750 – 800 ton.

Kaki saya masih terpaku melihat beko-beko (eskavator) mengaduk-aduk sampah kadang memindahkan ditempat yang agak longgar. Sapi-sapi dengan perut membuncit ini sepertinya tak takut dengan kendaraan berat. Jalan becek karena habis hujan tak menghalangi pemulung untuk mengejar rejeki hari ini.

13729037921143807952
Parit kecil yang mengalirkan teh sampah dari hulu menuju bak-bak penampungan di tepi sungai. Nampa anak-anak sapi yang masih dikandangkan oleh pemiliknya (dok.pri).

Mata saya mengarah pada parit kecil di sisi kanan jalan. Air yang mengalir berwarna coklat kehitaman dan sangat pekat. Inilah yang dinamankan leachete atau air lindi. Mirip air seduhan teh, namun ini adalah teh-teh dari sampah-sampah yang tertimbun dan semalam di guyur hujan. Rembesan dari sela-sela tumpukan sampah mirip mata air, namun warna dan aroma sungguh tak sedap dipandang mata dan dicium hidung.

Aliran air saya ikuti kemana arah lindi ini pergi. Jalan memutar melewati perkampungan pemulung, hampir 1,5Km jauhnya. Akhirnya saya sampai pada tempat pemrosesan air teh sampah ini. Pengelola TPA Jatibarang sudah membuat reaktor pengolahan lindi agar sebelum lari ke lingkungan sudah mendapat perlakuan terlebih dahulu.

13729038691960584747
Reaktor pengolahan ari lindi di TPA Jatibarang, Semarang (dok.pri).

Parit dari semen beton mengalirkan lindi dari selokan-selokan yang berhulu di TPA kemudian di alirkan menuju bak-bak penampungan. Selokan sangat unik dan sepertinya kurang kerjaan dalam pembuatannya. Menurut saya, parit ini hanya seniman yang cocok membuatnya, tetapi para insinyurlah yang berkreasi membuat mahakarya ini.

Tujuan di buat berkelok untuk sedikit meredam aliran permukaan, sehingga air  lindi bisa mengalir pelan. Bisa di bayangkan dari ketinggian 200mdpl turun menuju 150mdpl, setidaknya air mengalir deras dari ketinggian 50meter. Setelah air dibuat berkelak-kelol lalu masuk dalam bak-bak penampunga dengan ukuran kecil. Bak ini berfungsi untuk mengendapkan partikel-partikel yang terlarut. Dalam tempat ini air dibuat setenang mungkin agar bisa mengendap dengan baik.

2 kolam besar berada di bak paling bawah dari reaktor yang pertama. Ada 2 kincir dalam kolam tersebut. Baling-baling dari besi tersebut berfungsi untuk menambah oksigen terlarut dalam air. Fungsi oksigen ini untuk menyuplai kebutuhan bagi organisme aerobik, seperti alga, plankton, dan bakteri. Tempat yang terakhir adalah kolam pengendapan. Kolam ini mirip labirin-labiran, yakni air kembali dibuat tenang kembali. Ada beberapa kolam yang harus dilewati lindi sebelum lari ke sungai tepat di bawah TPA.

TPA Jatibarang terletak di Kelurahan Kedungpane, Kecamatan Mijen, Kota Semarang. Dengan ketinggian 200mdpl TPA ini terletak di atas kota semarang sisi selatan-barat yang berdekatan dengan Gunung Pati. Ratusan ton sampah setiap harinya menumpuk disini, dan lindi yang dihasilnya juga tidak sedikit. Membayangkan bagaimana jika di atap rumah saya ada tong sampah dan saya tinggal dibawahnya.

Air lindi, tak sepenuhnya tertampung dalam bak-bak penampungan. Entah berapa banyak yang lari bebas ke lingkungan. Lindi ini bisa berlari ke dalam tanah, atau terbuang keluar area TPA. Fakta lain bahwa air lindi ini di alirkan dalam sungai Kreo yang menjadi bahan baku PDAM kota Semarang. Air lindi atau teh sampah ini merupakan air yang terlarut bersama-sama dengan materi dari sampah. Kandungan air lindi begitu kompleks, dari logam berat, mikroorganisme, hingga bahan-bahan beracun dan berbahaya lainnya.io

Mau tidak mau harus sadar, bahwa daur biogeokimia itu tetap ada. Sampah yang kita buang suatu saat akan kembali pada kita. Tak ubahnya dengan hukum karma, apa yang kita buang bisa saja kembali pada kita bahkan orang lain bisa terkena imbasnya. Hanya kesadaran diri yang bisa mengurangi dampak karma dari lingkungan ini. Bagaimana memilah, memilih dan mengolah sampah kita sendiri dengan baik dan benar agar tidak menjadi karma kita dan orang lain.

Bijak dalam bertindak yang berkaitan dengan sampah. Mungkin kita secara tidak langsung menerima akibat dan dampaknya. Suatu saat anak cucuk kita yang akan menerima karma dari perbuatan kita yang tidak ramah lingkungan. Air lindi yang masuk dalam tanah, bisa saja mencemari air tanah. Berapa banyak sumur yang dibawah TPA yang siap-siap airnya menjadi teh sampah. Belum lagi udara yang tercemar akibat penguapan dari timbunan sampah. Dampak lain yang tidak disadari adalah konsumsi daging sapi yang hidup dan besar di TPA. Sapi-sapi tersebut mengonsumsi sampah yang isi nutrisinya tidak jelas, bisa saja bahan yang baik atau berbahaya dan beracun.

13729039541797402773
TPA Jatibarang mirip dengan padang gembalaan namun bukan rumput hijau yang ada. Suatu saat entah kapan daging-daging sapi ini akan dikonsumsi. Air lindi yang mengalir juga akan kembali saat daut materi biogeokimia itu berlangsung (dok.pri).

Permasalahan sampah memang tidak akan pernah berakhir. Kita hanya bisa mengurangi dampaknya saja, tentu saja lewat diri kita sendiri. Urus sampahmu dan kurangi membuang sampah dengan cara yang kurang bijak. Seyognyanya sampah tidak harus sampai TPA jika kita mampu mengurus. Sampah organik biarlah kembali ke alam menjadi pupuk organik. Sampah anorganik bisa kembali di daur ulang, sepeti kertas, besi, kaca, plastik. Sampah berbahaya seperti bahan kimia, pestisida, obat-obatan bisa di tampung untuk mendapatkan perlakuan istimewa agar tidak bebas blusukan ke lingkungan.

8 thoughts on “Savana Limbah dan Teh Sampah ala TPA

  1. aaak….berasa dpt kuliah ekologi lingkungan lagi hehe
    eh tp saya pernah liat dan sampai sekarang masih penasaran…knp sapi2 lbh suka nyari makanan di tumpukan sampah drpd lahan di sebelah tumpukan sampah yg jelas2 masih bnyk rumput….tp sepertinya semua sapi kek gitu ya kcuali sapi2 yg di kandang *lho kok jd OOT mlh ke sapi* ^^V anyway TFS mas dhave😀

    • Sengaja… karena banyak kandang di sana.
      Sapi sebagai produk sampingan saja kok Mas… bukan untuk mengurangi sampah. Yang pasti mereka ikut memulung juga untuk dirinya sendiril.

  2. Sampai sekarang aku masih sering mikir, itu tumpukan sampah kalau sudah begitu banyak trus diapain ya Dhave? Apa dibiarkan sampai betul-betul padat dan kemudian menyatu dengan tanah, kemudian setelah TPA-nya ditutup akan jadi pemukiman juga?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s