Menantikan Jeritan Loko B2503

Dari bukit banaran di tengah-tengan kebun kopi bisa melihat luasnya rawa pening dan gunung-gunung yang mengelilinginya (dok.pri)

Dari bukit banaran di tengah-tengan kebun kopi bisa melihat luasnya rawa pening dan gunung-gunung yang mengelilinginya (dok.pri)

Sore itu saya berdiri disebuah bukit di tengah-tengah kebun kopi Banaran. Dari atas bukit yang kini sudah disulap menjadi penginapan mewah bisa menyaksikan luasnya Rawa Pening. Hijaunya eceng gondok yang  hampir menutupi perairan tak mengurangi keindahannya, sebab 3 gunung yakni: Merbabu, Sindoro, Sumbing, Telomoyo, Gajah Mungkur, Kendil, dan Ungaran  menjadi pelengkapnya. Dalam lamunan dan mata yang menerawang jendela bidik kamera, saya dikejutkan suara melengking panjang “tuuut…. tuuuut…“. Inilah suara kereta uap yang sedang melintas.

Bergegas saya tak mau melewatkan momen seharga 3,5 juta rupiah atau $,400 amerika. Harga yang tidak murah untuk menyewa kereta uap dari stasiun Ambarawan menuju Bedono atau stasiun Tuntang. Kereta yang lewat bukan sembarang kereta, namun ditarik oleh lokomotif uap yang penuh dengan nilai sejarah, bahkan sangat berharga.

Dalam rintik hujan saya menerabas jalanan curam dari bukit kopi Banaran untuk menuju Sumurup. Sumurup adalah kampung kecil di pinggir Rawa Pening sisi utara yang menjadi lintasan rel kereta api dari stasiun tuntang dan ambarawa. Sekitar 15 menit saya berlari di jalanan yang cukup licin dan harus meniti pematang sawah untuk mendapat sudut pandang yang bagus.

1370926608935782203
Lansekap dalam ruangan gerbong kereta api. Tempat duduk dari kayu dan tanpa kaca jendela menjadi daya tarik sendiri selain loko yang manariknya (dok.pri)

Dalam ingatan, terlintas kira-kira lokomotif mana yang menarik gerbong. Museum kereta Api Ambarawa memiliki 21 koleksi lokomotif. 3 lokomotif diantaranya masih bisa berjalan, yakni loko denga kode: B2502, B2503 dan E1060. Lokomotif dengan kode B yang biasanya dijalankan oleh pengelola museum sebagai keretas wisata.

Jalur lintas kereta api diawali dari stasiun Willem 1 yang kini dikenal dengan museum kereta api Ambarawa. Stasiun yang didirikan pada 21 mei 1873 berfungsi untuk mengangkut pasukan Belanda dari dan ke Semarang. Stasiun yang kini berubah menjadi museum sejak 6 Oktober 1976 menjadi penghubung Magelang dan Yogyakarta dan Purwodadi.

1370926716367288582
Dari tepi sawah saya mencari sudut pandang yang terbaik menurut saya untuk mengabadikan momen seharga 400 dolar Amerika (dok.pri).

Dari tepi sawah di Sumurup saya menanti-nantikan datangnya kereta dengan harap cemas. Rintik hujan tak henti-hentinya mencobai ketabahan hati untuk menunggu kereta. Lagu Iwan Fals “kereta tiba pukul berapa…?” sepertinya tidak berlaku di sini. Akhirnya yang di tunggu-tunggu datang juga setelah menunggu lebih dari 30 menit.

13709268711044562848
Sesosok hitam legam dan kepulan asap tebal inilah yang menarik perhatian saya dan rela berhujan-hujan di tepi sawah (dok.pri).

Dari arah stasiun tuntang terdengar jeritan loko uap yang serasa membelah danau. Sesosok hitam legam dengan kepulan asap pekat meraung-raung keluar dari sela-sela pepohonan. Asap putih berupa uap air dari ketel keluar sambil meniup katup dan menimbulkan suara khas kereta. Inilah momen yang berharga ini untuk mengabadikan loko B2503  buatan Muschinenfabriek Esslingen yang melintas di tepian rawa pening. 3 gerbong dengan 40 penumpang ditariknya dengan perkasa seolah menunjukan sisa-sisa kekuatan transportasi masa lalu yang kini hanya tinggal 3 dan dua diantarnya ada di Swiss dan India. Hilangnya suara ketel uap dan asap yang tertiup angin mengakhiri pemandangan langka sore ini.

26 thoughts on “Menantikan Jeritan Loko B2503

  1. Hahahahaha, untung aku wis tau numpak kereta larang. Tapi yang di Solo mas, kereta Jaladara, gratisna pulak hehehe. Pengen deh sekali-kali naik yang dari Ambarawa ini, viewnya jawara yak

  2. wah nih sepur nongkrongnya dideket dumah simbah saya mas, Ambarawa kota palagan hehehe, karena yang loko gede mahal mending naik yang kereta kecil bermesin diesel heheh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s