Anak-anak Kampung

Keceriaan anak tanpa harus membayar mahal (dok.pri)

Keceriaan anak tanpa harus membayar mahal (dok.pri)

Sekolah alam, kampung seni, desa wisata, kembali ke alam, adalah kata-kata yang menjadi trend di masyarakat. Keramaian dan hingar bingar kota membuat masyarakatnya ingin pulang kampung, namun hanya sesaat sebab zona nyaman itu hanya dalam putaran jam dan putaran hari tetaplah kota menjadi pilihannya.

Dalam dunia pendidikan tak jauh berbeda. Ada sekolah yang mengadopsi kehidupan desa. Permainan anak tradisional, kearifan lokal masyarat desa dan kehidupan yang masih tradisional dimasukan dalam agenda pendidikanya. Sepertinya anak-anak kota begitu menikmati saat diajak main bercocok tanam di sawah, memberi pakan kambing, memerah susu sapi dan masih banyak lagi yang lain. Bagaimana dengan anak desa yang ingusan, minder dengan kegiatan tersebut. Bagi anak kampung itu bukan mainan, tetapi sumber kehidupan. Dari sanalah mereka bisa hidup dan sekolah.

13703300621484486924
Ada yang menganggap sebagai mainan tetapi ini bisa menjadi sumber kehidupan dan pendidikan (dok.pri)

Ironis juga disaat anak-anak kota bermain-main dengan keseharian orang desa, namun anak-anak desa membanting tulang. Atas nama pendidikan itu bukanlah soal dan masalah, sebab semua adalah proses. Lantas, apakah anak desa juga menikmati apa yang membuat anak dikota bosan. Game komputer, internet, water boom, pusat perbelanjaan, buku-buku yang melimpah dimana anak kota sudah jengah dengan semuanya itu. Inilah jurang pemisah dimana anak kota bisa menikmati kampung dan anak kampung begitu susahnya mencicipi apa yang dikota

Kondisi ini direspon positif dan menjadi sebuah ladang baru. Kampung seni atau desa wisata menjadi destinasi sekolah pada alam. Saat saya kecil sedikit mencibir anak jakarta yang ikut panen wortel dan teriak-teriak saat melihat cacing. Bagi kami anak kampung, itu adalah sebuah kekonyolan dan bukan hal yang menakutkan. Tamparan telak saya terima saat saya terkagum akan sebuah kota dengan layar dan beberapa tombol. “Inikah yang namanya gembot” tanya saya dalam hati, sebab sebelumnya tahu dari TVRI. “ndeso kamu, ini saya ajari, mencetnya pelan-pelan jangan sampai rusak” kata teman saya dan saya menganggung sambil mengusap ingus dengan lengan baju.

Saya tidak membayangkan di pulau-pulai terpencil dan pedalaman sana dengan nasib anak-anaknya. Apakah mereka masih selugu dan bloon seperti yang saya bayangkan. Jangan-jangan mereka melihat orang asing lari tunggang langgang, melihat yang baru sedikit langsung gumunan/kagum dan cerita kesemua teman-temannya. Alangkah lucunya jika semua ini terjadi, dan sangat alami sekali.

1370330293663509283
Potret anak-anak di pesisir laut (dok.pri)

Tidak ada yang salah dengan semua ini. Mungkin anak kota tidak tahu bagaimana cara berburu belut, tetapi anak-anak dikampung saya begitu mahir saat melihat lobang air dipematang sawah menyemburkan udara. Apa ada anak kota yang berani menyebrangi sungai ala Indiana Jones, mereka hanya tau lewat flying foxyang 99% dijamin keamanannya.

Masa anak-anak memang menyenangkan, terutama anak kampung. Dengan segala keterbatasan mereka masih bisa menikmati masa kecilnya dibanding sodara-sodarnya yang tinggal dikota. Saat yang dikota pusing dengan pelajaran tambahan, anak-anak dikampung sudah bebas bermain sampai petang menjelang. Begitu malam dan terlebih terang bulan, maka permainan masih akan diteruskan.

13703303881557490976
Di tengah kota ada juga yang merindukan ini (dok.pri)

Syukur luar biasa bagi yang tinggal di desa. Mau main apa sepertinya masih gratis dan bisa dipakai sepuasnya. Mau main air tidak perlu memberli tiket di water boom atau kolam renang, cukup pakai celana dalam atau telanjang bulat lalu lompat ke sungai. Disaat anak kota asyik main dengan remote control atau game balap di komputer, anak-anak kampung sudah main mobil betulan tetapi dari kayu yang didorong rame-rame atau cari jalan yang menurun.

Lantas saya berpikir, berapa umur gembot (game watch), ding-dong, tetris dan mainan sejenis. Bandingkan dengan mainan lompat karet, patil lele, dakon, egrang, congklak dan permainan tradisional lainya. Asyik mana? bermain sendiri atau rame-rame. Mau game komputer, tak ada rasa bangga jika menang dan tamat. Hanya dianya sendiri yang mengaku jago, sedangkan orang lain masih meragukan. Bagaimana dengan mereka yang jago lompat karet atau  mahir bermain gasing, semua yang akan mengakui kalau dia jago. Memang anak-anak kadang butuh pengakuan, walau hanya sekedar main-main, selain dapat senang tentunya.

Anak dikampung sepertinya tak ada yang mendapat perlakukan istimewa. Dari bangun tidur hingga berangkat sekolah dilakukan secara mandiri, daripada melayang sapu lidi di kaki. Anak kota, beberapa masih harus disuapin bahkan berangkat sekolah juga diantar. Tidak membayangkan jika anak kampung dan kota kemah bersama dalam satu tenda atau sama-sama tersesat dihutan, walaupun sama-sama nangis dan teriak minta tolong pasti ada yang beda.

Fasilitas juga menjadi faktor penting dalam menentukan mutu anak bangsa. Dahulu saat saya sekolah dikenal dengan CBSA bukan cara belajar siswa aktif tetapi catat buku sampai abis. Keterbatasan buku membuat satu-satunya buku milik guru di catat/salin sampai tuntas. 36 siswa seperti mesih foto kopi yang benar-benar mengerti apa itu isi buka. Berbeda jaman sekarang yang sedikit-dikit e-book atau buku cetak yang sudah jadi. Mungkin dengan mencatat sampai habis begitu kurang efektif, tetapi cukup efisien sebab secara tidak langsung belajar dan bertanggung jawab atas tulisannya sendiri jika tidak terbaca. Memaksa diri menulis sebaik-baiknya dan selengkap mungkin untuk memudahkan dalam belajar. Tak heran, tebalnya buku adalah buku catatan.

13703304882127176465
Apakah mereka mendapat apa yang anak kota dapat..? (dok.pri)

Batasan geografislah yang membuat karakter, militansi, kemandirian itu berbeda. Mutu pendidikan juga pasti berbeda, sebab kemudahan mendapatkan sumber dan kemampuan pengajar juga berbeda. Namun, yang terpenting dari itu semua adalah proses. Kepakaran seorang pendidik dan orang tua mengarahkan anaknya itu adalah yang terpenting. Memegang kemudi anak tetapi tetap memberi kesempatan untuk bermanufer mengekspresikan diri, bisa menjadi kunci sukses seoarang anak. Ini hanyalah sebatas kegelisahan dalam sebuah catatan saja.

4 thoughts on “Anak-anak Kampung

  1. Kesenjangan inilah yang harusnya diambil sisi positifnya sehingga semuanya mendapat manfaat. Anak-anak yang disebut anak kota perlu belajar kearifan alam dan mengetahui betapa menyenangkannya melakukan kegiatan yang menyangkut fisik sementara yang disebut anak desa juga perlu tahu dan menguasai berbagai gadget dan teknologi modern.

    • Intinya semua harus seimbang. Namun jembatan penghubungnya kadang timpang. bagi yang ke desa biasanya dari kalangan mampu, sebaliknya ini tanggung jawab pemerintah berkenaan dengan pendidikan. Internet masuk desa, perpustakaan keliling dan program lainnya sudah mengawali.
      benar sekali Om Krishna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s