Jejak Kaki yang Meretas Masa Depan

Pemandangan yang biasa saat pagi hari di Sawangan Magelang. Anak-anak sekolah tak menghiraukan bahaya saya naik di atas angkutan umum. Perjuangan mereka setangguh Gunung Merapi yang terus mendampingi untuk meretas asa (dok.pri).

Pemandangan yang biasa saat pagi hari di Sawangan Magelang. Anak-anak sekolah tak menghiraukan bahaya saya naik di atas angkutan umum. Perjuangan mereka setangguh Gunung Merapi yang terus mendampingi untuk meretas asa (dok.pri).

Beberapa waktu yang lalu di Jakarta sempat ada perubahan jam masuk sekolah. Alasan perubahan tersebut adalah untuk menghindari macet dan anak terlambat masuk sekolah. Mungkin ada benarnya, sebab itu bisa menjadi salah satu cara untuk mensiasati dan tinggal aplikasinya bagaimana.

Anak sekolah biasanya masuk pukul 07.00 atau tergantung kebijakan masing-masing sekolah. Dibalik jam keramat, dimana siswa tidak boleh datang terlambat atau jika datang telat urasannya dengan Satpam, Guru BK hingga bantu-bantu di perpustakaan untuk 1 jam pelajaran.

13686944681536117494
Kaki-kaki kecil ini saban harinya harus berjalan untuk pergi ke sekolah. Ketiadaan angkutan dan sarana transportasi memaksa mereka bagaimana caranya sampai sekolah (dok.pri)

Tahun 80-an akhir, saat saya masih TK hingga kelas 2 SD saya sekolah di pedalaman Kalimantan. Jam masuk sekolah tetap sama, yakni pukul 07.00. Yang membedakaan dengan kondisi saat ini adalah sarana transportasi menuju sekolah. Tinggi badan belum ada 1 meter, harus jalan kaki sejau 2,5Km setiap harinya pulang pergi. Hampir 3 tahun, jika di kalkukasi mungkin saya sudah jalan sekitar 4.500Km hanya untuk ke sekolah saja.

Sebenarnya tidak jauh, sebab hanya 2,5Km saja. Menjadi jauh saat harus jalan kaki karena tidak ada angkutan umum atau sarana transportasi seperti sepeda atau sepeda motor. Semua teman saya pergi ke sekolah jalan kaki, bahkan ada yang lebih jauh jaraknya dari pada saya.

Perjuangan saya saat SD mungkin tak sebanding dengan perjuangan orang tua saya saat sekolah dulunya. Saban hari 15Km pulang pergi harus ditempuh untuk sekolah, itupun masih dibebani dengan barang dagangan milik nenek yang harus dijual di pasar. Kesimpulan saya sampai saat itu, pergi ke sekolah adalah perjuangan melintasi jalan yang panjang. Sesampai di sekolah harus berjuang dengan mata pelajaran yang penuh keterbatasan. Pulang sekolah harus berjuang untuk jalan menuju rumah dan berjuang untuk mengerjakan pekerjaan rumah ditambah membantu orang tua.

Menginjak SMA, perjuangan saya belum selesai. Berangkat ke sekolah butuh perjuangan juga, yakni rebutan naik bus pagi-pagi. Kelewat 5 menit saja, alamat terlambat atau tidak sekolah saja, karena bus hanya ada pagi itu. Jarak sekolah sekitar 17Km harus berjuang di bibir pintu bis sambil bergelantungan. Butuh waktu 30-40 menit bergelantungan, dimana tangan kanan memegang pintu bis dan tangan kiri menjaga keseimbangan dengan hanya satu pijakan kaki. Resiko jatuh dari bis tidak terpikirkan, yang penting tidak terlambat masuk sekolah.

1368694921543901951
Saat ini, anak yang beruntung mendapatkan beragam fasilitas dan kemudahan. Sekolah adal sebuah proses dan mereka menikmati bagaimana berproses tersebut (dok.pri).

Akhirnya jamanpun sedikit berubah. Jam 06.00 pagi ponakan-ponakan saya belum bangun, dan dibangunkan rasanya sulit sekali. Ayahnya sudah memanaskan mesin kendaraan dan ibunya sudah menyiapkan pakaian sekolah dan sarapan. 2 ponakan saya sepertinya enggan keluar dari zona nyaman, yakni hangatnya selimut pagi. AKhirnya 06.25 baru mereka berhasil dibangunkan dan bergegas ke kamar mandi. Sambil berganti pakaian ayahnya sibuk menyuapi makanan dan ibunya ribet dengan peralatan sekolahnya.

Akhirnya 06.45 dengan kendaraan 2 ponakan saya diantar ke sekolah yang hanya berjarak tak lebih dari 400m dari rumah. Saya hanya berguman dalam hati “andai kata ponakan itu saya dan ayah ibunya itu orang tua saya, pasti sudah plak..plok…bug..”. Dulu saya, telat bangun saja bisa berabe urusannya sebab begitu adzan subuh harus sudah bangun untuk persiapan sekolah.

Perubahan jaman, ekonomi, paradigma ternyata sudah merubah sebuah proses dari yang namanya sekolah. Sekarang semua tersedia, dipenuhi bahkan melimpah namun tak dimanfaatkan secara maksimal. Disisi lain, masih banyak yang kekurangan bahkan harus berjuang dulu untuk bisa sekolah. Pemerataan pendidikan tidak berbanding lurus dengan pemerataan sosial ekonomi sepertinya.

Suatu saat saya diminta oleh atasan untuk mengantar anak didiknya pulang ke asrama. Sepertinya dia kawatir, anak didiknya tersesat pulang yang jaraknya kurang dari 1Km. Sayapun mengiyakan saja. Begitu atasan pergi, anak didiknya saya minta “buka ponsel pintarmu. Sekarang nyalakan peta kota ini, kasih tanda dimana tujuan kamu dan ikuti jalannya, sekarang pulang sana…!, jika tersesat kembali ketitik semula dan  ulangi sampai benar”. Sadis memang, tetapi saya kira itu yang terbaik.

Mengapa jarak yang kurang dari 1km bahkan kurang harus antar jemput. Dimaka kaki-kaki jenjang anak bangsa yang nilai gizinya lebih baik, bahkan berlebih menjadi anak obesitas. SAngat disayangkan, proses belajar kemandirian mereka harus diberangus atas nama kasih sayang, kasihan dan dimanjakan. Saya tidak membayangkan, apakah mereka berkemah, mencari jejak di hutan, atau main perang-perangan dikampung sekolah dan hilang ditengah kota, lalu merengek dan orang tuanya bingun lapor di kantor polisi.

Ini hanyalah kegelisahan buat anak-anak yang terus dikarantina dan diawasi gerak-geriknya. Kebebasan berekspresi mereka seperti terhalang oleh tembok yang luas. Katanya tidak ada noda tidak belajar, mengapa mandi di sungai dilarang, hujan-hujanan tidak diperbolehkan, bukankan itu sebuah pelajaran yang jauh lebih mahal dari obat salep dan pilek?.

Ada benarnya juga orang tua  yang protektif yang menginginkan anak-anaknya jalan di rute yang benar. Mereka selalu menggiring, bahkan harus menggendong agar anak ini sampai di tujuan. Banyak proses yang dilewati dengan jalan pintas dimana orang tuanya berperan didalamnya.

Entah tanggung jawab siapa, jika anak ini tidak tahu tanaman padi itu seperti apa, padahal setiap hari mengonsumsinya. Mereka tidak tahu pencemaran sungai itu seperti apa, sebab mereka hanya tahu dari internet. Mereka tidak tahu interaksi kerbau dengan jalan, sebab itu sudah banyak ditulis dibuku, jangan-jangan 2 hewan tersebut punah mereka tidak tahu.

1368695018941501603
Saya menunggu cerita mereka jika kelak berhasil dalam hidupnya. Jejak-jejak langkah mereka akan menjadi saksi sebuah perjuangan meretas masa depan (dok.pri)

Memang tidak bisa disalahkan dengan adanya pergeseran ini, sebab semua memiliki masa dan prosesnya masing-masing. Adaptasi dari masing-masing proses itu saya kira yang jauh lebih penting dengan menyesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada. Peran orang tua, guru sangatlah vital bagaimana memaknai sebuah proses perkembangan anak dan tidak harus menilik dari sisi akademis semata.

Entah sudah melangkah berapa kilo meter kaki anak-anak jaman sekarang, apakah langkah mereka sudah digantikan oleh perputaran roda jaman dan kendaraan. Saya yakin, langkah-langkah kecil mereka adalah retasan perjuangan untuk lompatan masa depan mereka. Di luar sana masih banyak yang harus melangkah, meniti jembatan roboh atau bergelantungan menyebrangi sungai. Semua adalah sebuah proses, dan itu bagian dari kehidupan mereka. Mungkin saat ini tidak ada makna, suatu saat itu akan jadi cerita. Nah cerita siapa yang indah, kita tunggu saja mereka.

6 thoughts on “Jejak Kaki yang Meretas Masa Depan

  1. lagi dan lagi lingkungan sangat mendukung tumbuh kembang mereka termasuk bagaimana membiarkan eksplorasi diri lewat hal-hal sederhana yang bisa mereka lakukan misalnya pergi kemana-mana sendiri. Walaupun katanya bahaya, tapi kemandirian sejak dini sangatlah perlu ditanamkan sejak dini😀

  2. Memang beda jauh kalau membandingkan anak jaman dulu sama anak jaman sekarang. Betul kata Dhave, bisa saja mereka gak ngerti tanaman padi seperti apa. Aku ngalamin sendiri, salah satu temanku pernah terheran-heran ketika tahu kalau beras itu asalnya dari padi, dia kira beras itu hasil pabrikasi 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s