Bangga Menjadi Bangsa Tempe

Tempe buatan saya, ada yang jadi ada yang tidak. Banyak kearifan yang saya abaikan, sebab hanya terpaku pada sebuah teori saja (dok.pri).

Tempe buatan saya, ada yang jadi ada yang tidak. Banyak kearifan yang saya abaikan, sebab hanya terpaku pada sebuah teori saja (dok.pri).

Beberapa waktu yang lalu, sempat di hebohkan dengan harga kedelai yang melambung tinggi. Kejadian ini karena berlakukanya hukum permintaan dan penawaran, sebab terjadi kelangkaan pasokan kedelai di pasaran. Pengrajin tempe dan tahun kelimpungan, dan dilema antara menaikan harga jual atau  mengurangi ukuran untuk menutup ongkos produksi.

Beragam opini bermunculan, hingga ada yang mengingatkan akan kata-kata Mendinga Ir. Soekarno yang berkata “jangan menjadi bangsa tempe”. “Jangankan menjadi bangsa tempe, ngurus kedelai saja tidak becus” kata seorang pedagang tempe yang tak kalah bingungnya menghadapi kondisi ini. Permasalahan berangsur sirna seiring kedelai impor yang didatangkan, sehingga keadaan menjadi normal kembali.

Kembali teringat kata mantan Presiden Soekarno tentang bangsa tempe. Siapa tidak mengenal tempe, dan hampir seluruh rakyat Indonesia mengenal tempe, bahkan penduduk dunia. Tempe memiliki sejarah yang panjang, hingga menjadi makanan yang khas. Hampir tiap rumah makan dan meja makan selalu menghidangkan tempe.

“jangan menjadi bangsa tempe” mengetuk saya untuk mengerti mengapa tidak boleh menjadi bangsa tempe. Singkat kata saya membuka internet dan langsung mengetik kata kunci “cara membuat tempe” di mesin peramban. Dalam hitungan detik keluar semua artikel yang menulis resep-resep cara membuat tempe. Tak butuh waktu lama untuk menyiapkan alat dan bahan, terutama ragi tempe dan kedelai.

Singkat kata saya mengikuti artikel yang saya baca. Kedelai direndam, dipisahkan kulit bijinya, dikukus, ditaburi ragi, dibungkus dan diperam selama2-3 hari. Semua sudah saya ikuti sesuai dengan prosedur, namun sampai 5 hari tak membuahkan hasil seperti yang di tulisa dalam buku petunjuk.

Saya tak mengerti mengapa tempe buatan saya tidak seperti tempe yang di pasaran dan di buku petunjuk. Tanda tanya mulai menggelayuti pikiran dan angan-angan. Memang benar kata pak Karno, jangan menjadi bangsa tempe. Lantas saya mencoba mencari sumber tentang bagaimana membuat tempe itu.

13684411571046451070
Sosok yang saya kejar setiap menjelang subuh. Saya banyak belajar kehidupan tempe dari beliau yang sudah 54 tahun bergelut dengan kedelai berjamur (dok.pri)

Jam 04.30, usai subuh segera saya mengenakan sepatu lari dan jaket penahan angin. Niat saya bukan untuk olah raga, namun mencari Pak Muslimin yang setiap subuh sudah keliling kota Salatiga menjajakan tempe buatannya. Benar saja, meskipun saya sudah bangun sepagi mungkin, saya masih kalah start.

Pukul 05.30 saya bertemu beliau dengan sepeda tuanya. Meskipun usia sudah 75tahun, bapak ini masih setia dengan pekerjaan yang digelutinya sebagai pembuat sekaligus memasarkan tempe-tempenya. Beberapa rumah makan di Salatiga menjadi langganan beliau, karena tempe-tempenya banyak digemari para konsumen.

Dengan napas putus-putus saya mencoba mengutarakan niat saya untuk belajar membuat tempe. Awalnya dia nampak ragu akan niat saya, kemudian dengan nada halus beliau berkata “saya ada acara hari ini dan tidak bisa”. Saya tidak memaksakan diri untuk terus mengejar, namun akan saya cegat lain waktu.

Saya hafal betul jalur-jalur pemasaran tempe Pak Muslimin, karean sejalan dengan jalur lari pagi saya yang hampir 10Km. Saya bergegas pulang, mandi dan ganti dengan pakaian agak resmi. Kembali saya mencegat belaiu untuk minta ijin belajar membuat tempe. Akhirnya saya diterima dan sebelum luhur harus sudah sampai dirumahnya.

1368441240170181518
Langkah demi langkah beliau berikan untuk membuat tempe yang hidup (dok.pri)

Dusun Sawo, Kelurahan Bugel, Kecamatan Sidorejo Lor beliau memberikan alamatnya. Saya tak butuh informasi, karena dari jauh akan saya buntuti bapak ini. Singkatnya saya diterima di ruang tamu rumahnya yang adem sekali rasanya. Jubin dari semin halus ini terasa bersih dan licin di kaki membuat nyaman untuk nyeker/bertelanjang kaki walau dipersilahkan memakai sandal karena takut kotor.

Lalu saya diajak menuju dapur di belakang rumah. Dengan loyang pak Muslimin mengambil sekitar 1-2kg Kedelai yang nantinya digunakan sebagai ilustrasi membuat tempe. Layaknya acara-acara masak oleh juru masak di Televisi, dalam sekejap apa yang dibuatnya sudah jadi. Pertama kali beliau mengambil kedelai, lalu lansung berkata “kedelai ini direndam semalaman menggunakan air rendaman kemarin. ini hasil rendaman semalam yang sudah di cuci bersih dengan air yang mengalir. Setelah itu kedelai di kukus selama 1-2 jam lalu di biarkan sampai agak hangat dan setelah itu ditaburi ragi. Ini yang sudah ditaburi ragi, tinggal di bungkus dengan daun pisang atau plastik. Tahap terakhir, adalah penyimpanan dalam meja ini selama 2-3 hari, dan selasai”.

Sesingkat itu hasilnya, namun saya belum terima dengan apa yang beliau sampaikan. Duduk di amben/dipan, kita coba berbincang lebih dalam mengenai pagi kedelai sore jadi tempe. Raut wajah 3/4 abad ini memulai pembicaraannya, dan berkata “apa yang ingin kamu tanyakan..?”. Lantas saya bertanya “mengapa harur menggunakan air rendaman kedelai kemarin, mengapa plastik harus dilobango, mengapa meja bagus-bagus di bor dan masih banyak pertnyaan yang lupa saya tanyakan”.

1368441303936003403
Beliau mulai bertutur dalam menciptakan tempe bercitarasa (dok.pri)

Dengan pelan beliau mulai membuka kisahnya hidupnya dari tempe. Sejak usia 21 tahun padan tahun 1959 ia sudah memulai karirnya membantu orang tuanya membuat tempe dan memasarkannya. Hingga saat ini sudah 54 tahun dia menjadi pengrajin tempe dan menjadi passionnya. Dalam merendam kedelai, mencuci hingga menambahkan ragi dikerjakannya sendiri sebab jika  dikerjakan anaknya maka rasanya menjadi beda.

Yang menarik disini setelah saya masukan dalam ranah ilmiah tak semata-mata menjelaskan alasan ilmiahnya tetapi ada sebuah kearifan lokal yang menarik. Mengapa harus memakai air rendaman yang kemarin, karena dalam air rendaman tersebut adalah rahasia tempenya. Dalam air rendaman yang turun temurun ada sebuah ekosistem mikroorganisme. Didalamnya terdapat beragam bakteri asam laktat, khamir dan jamur. Mikroba inilah yang memiliki peran dalam proses pembuatan tempe sebelum peragian. Tekstur yang empuk, rasa dan aroma dibentuk oleh hasil metabolisme mikroba yang ditandai bau asam, air berbusa dan keruh.

1368441369266616754
Inilah sebuah kehidupan yang memberikan kehidupan bagi banyak orang. (dok.pri)

Tahap tak kalah pentingnya adalah meja dari kayu yang diberi lobang. Sepertinya kakek ini kurang kerjaan, mengapa meja bagus-bagus di bor pada titik-titik tertentu. Ternyata lobang ini berfungsi untuk mengalirkan udara dari bawah untuk bernapas jamur tempe. Rhizopus sp adalah jamur aerob yang membutuhkan udara untuk tumbuh berkembannya. Miselia-miselia yang berwarna putih inilah yang akhirnya memberikan kehidupan. Jangan menjadi bangsa tempe hanyalah mentalitas semata, tetapi tempe disini tak hanya urusan mental tetapi ilmu, passion dan kehidupan.

6 thoughts on “Bangga Menjadi Bangsa Tempe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s