Mana Masa Kecilmu Nak…?

Saya bertemu 2 anak kecil yang asyik bermain di tepi danau sambil menantikan senja. Usai sekolah mereka, mengerjakan pekerjaan rumah, mengaji dan setelah itu bermian hingga maghrib. Di raut muka mereka, yang ada hanya senang, sedangkan rasa terbeban karena suatu tuntutan sudah dilarung jauh-jauh ketengah danau, sepertinya (dok.pri).

Saya bertemu 2 anak kecil yang asyik bermain di tepi danau sambil menantikan senja. Usai sekolah mereka, mengerjakan pekerjaan rumah, mengaji dan setelah itu bermian hingga maghrib. Di raut muka mereka, yang ada hanya senang, sedangkan rasa terbeban karena suatu tuntutan sudah dilarung jauh-jauh ketengah danau, sepertinya (dok.pri).

Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu, dipaksa pecahkan karang, lemas jarimu terkepal

Petikan syair lagu yang berjudul Sore Tugu Pancoran dari musisi kondang Iwan Fals. Budi yang digambarkan sebagai penjaja koran dijalanan, dipaksa menghabiskan masa kecilnya karena keadaan. Budi, adalah satu potret dari banyak anak yang harus mengobarkan masa kecilnya demi uang. Himpitan ekonomi, kebutuhan dan tekanan lingkungan mengharuskan Budi-Budi kecil ini membanting tulang untuk mendapat uang.

Apakah hanya karena keadaan yang kurang beruntung yang memaksa Budi haru jualan koran dan membuang masa kecilnya. Tidak demikian dengan mereka yang orang tuanya berlimpah dengan materi. Anak dari juragan tak jauh nasibnya dengan Budi, yang harus banting otak dan menyingkirkan masa mainnya. Apabila bermain, itu saja dibatas dalam sekat tembok yang terhubungkan dengan dunia maya.

Tekanan lingkungan dan tuntutan dari orang tua, berimbas pada si kecil yang seharusnya menikmati masa kecilnya. Mungkin, si Budi pulang sekolah yang sehusnya bermain terpaksa mengangkut tumpukan koran atau harus mencari barang-barang bekas. Tak berbeda dengan anak si juragan, pulang sekolah harus berhadapan dengan guru les dengan mata pelajaran yang seabreg.

Tak ada pilihan bagi si Budi dan anak juragan, karena lingkungan dan orang tua yang memberi tuntutan. Lantas saya bertanya, apa yang anak sekecil itu dapatkan dari tuntutan orang tua?. Puaskah orang tua jika anaknya sudah memberikan apa yang orang tua tuntut, saya kira orang tua akan menuntut lebih dari itu.

Saya mencoba mencari jawaban dengan kembali melihat masa lalu. Beberapa buku yang menceritakan kisah kehidupan orang-orang yang sukses, memiliki masa kecil yang menyenangkan walau dengan penuh keterbatasan. Pak Harto masa kecilnya sepertinya asyik bermain dengan kambing piaraannya dan tak berbeda jauh dengan Dahlan Iskan. Mereka berdua sepertinya sangat menikmati saat mandi di sungai, bermain dengan anak-anak sebayanya, walau dengan segela keterbatasan.

Berbeda dengan sorang Sidharta, yang akhirnya menyingkir dari gemerlapnya dunia kekuasaan. Putra mahkota yang digadang-gadang menjadi pengganti raja, akhirnya menyingkir dari tembok kekuasaan dan menjadi pertapa dan rakyat jelata. Apa bedanya mereka dengan si Budi dan anak juragan, sama-sama memiliki tekanan lingkungan dan tuntutan.

Saya tak membayangkan, bagaimana jika seorang anak SD sudah dijejali dengan beragam kemampuan dan akhirnya menjadi pintar dan selalu mendapat rangking 1. Orang tua mungkin bangga, terus kebanggaan itu mau di buat apa?. Apakah kebanggan itu akan menjadi modal anaknya bakalan sukses dan menjamin masa depannya?. Banyak orang pinter di negeri ini, namun nasib mereka tak seberuntung yang mereka cita-citakan.

Tegar pengamen cilik yang fenomenal akhir-akhir ini membuka mata saya. APakah Tegar itu anak yang pintar, cerdas, rangking 1 di sekolah, saya tidak tahu pastinya dan mungkin tidak seperti yang saya tanyakan. Yang saya salut dengan Tegar, dia menjadi dirinya sendiri, tangguh, memiliki daya juang yang luar biasa dan hebatnya lagi tidak canggung bertemu dengan mereka yang sudah kondang.

Saya tidak yakin mereka apakah anak juragan bisa seperti Tegar yang memiliki daya juang luar biasa. Atau jangan-jangan anak juragan ini hanya berani, dibalik layar saja yang dibatasi oleh tembok dan seutas kabel internet. Namun sangat naif jika saya meremehkan mereka, yang pasti mereka juga anak hebat yang kini dipenjara oleh yang namanya tuntutan.

Saya hanya berpikir, bagaimana orang tua itu tidak egois dan tidak perlu malu. Saya saat di bangku SMA adalah pelanggan tetap klasmen degradasi, alias rangking juru kunci. Memang saat itu orang tua marah dan menuduh saya tidak belajar dengan serius. Rangkin itu tidak ada hungannya dengan belajar serius atau tidak, itu hanya catatan kumulatif dari penilaian. Olah raga saya dapat angka 8, sedangkan yang rangking 1 cuma dapat 6. Artinya saya lebih pintar dari anak rangking 1, bukan..?.

Saat ini sepertinya, lembaran-lembaran kertas yang menjadi acuan untu baku mutu seseorang, terlebih pelajar. Mengapa mereka tak melihat tunas-tunas bakat yang mulai tumbuh, kadang malah dipangkas orang tuanya. Sebut saja Sandrina, sang penari kecil dan seluruh Indonesia mengakui bakatnya. Itulah tunas seharusnya dibiarkan tumbuh, dan tinggal dikasih pupuk tambahan berupa pelajaran-pelajaran.

Sungguh luar biasa jika Budi-Budi itu nantinya bertunas menjadi orang-orang sukses dan terkenal. Tegar pengamen cilik saat ini tunasnya sudah menghasilkan bunga dan buah-buah kesuksesan. Saya hanya bermimpi, anak-anak yang beruntung nasibnya berikan waktu untuk menumbuhkan tunas-tunas bakatnya agar terus berkembang. Tidak hanya mereka diberi tuntutan dengan terus memangkas bakat yang mulai bertunas tersebut.

1367897754490070027

Semua anak memiliki kendaraanya sendiri-sendiri untuk sukses. Cepat atau lambat itu adalah waktu, yang pasti mereka memiliki tujuan. Buka jalan mereka lebar-lebar untuk mengembangkan bakat minatnya.(dok.pri)

Ini hanyalah sebuah kegelisahan, bagaimana anak kecil sudah mengalami tekanan yang luar biasa karena sebuah tuntutan. Biarkan mereka menikmati masa kecil yang menjadi hak. Gengsi, dan tuntutan kamu harus… saya kira itu bukan porsi mereka. Ini hanya mimpi saja, namun saya percaya semua memiliki proses yang berbeda, apakah harus mulai dari jalanan, penjara dunia maya, atau taman bermain yang menyenangkan untuk menjadi sukses…

2 thoughts on “Mana Masa Kecilmu Nak…?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s