Tepian Rawa Pening yang Menyajikan Kehidupan, Keindahan dan Kekayaan

IMG_6105

Lembaran peta topografi terus saya amati dan coba membandingkannya dengan citra satelit untuk melihat rupa muka bumi sebenarnya. Yang saya amati adalah hamparan air seluas 2,670 hektar yang terletak di cekungan Gunung Telomoyo, Gajah Mungkir, Kendil dan Ungaran. Rawa Pening demikian danau alam tersebut diberi nama. Danau dengan ketinggian permukaan air 640mdpl ini memang menyita perhatian saya untuk menggulik dari sisi lain.

Dengan naik bus jurusan Salatiga – Ambarawa, saya di turunkan di Rawa Permai, Tuntang. Dengan panduan GPS yang terus menyala, mengantar saya menuju lokasi yang sebelumnya sudah saya tandai. Lokasi ini mungkin sedikit banyak yang menyambangi, sebab kalah pamor dengan Sumurup atau Bukit cinta yang jauh lebih kondang. Kelurahan, demikian nama dusunnya yang mirip dengan Desa dalam bahasa Jawa.

Ditepi danau saya sudah disambut pak Jumeri yang menyewakan 40 buah perahu sampan. Niat hati ingin menuju ke tengah, tetapi kemampuan mendayung yang pas-pasan saya mengurungkan niat itu. Akhirnya saya habiskan mengobrol dengan beliau yang memiliki usaha dan tempat tinggal di Rawa Pening. 40 perahu yang setiap unitnya di beli 450-500 ribu disewakan Rp. 5000,00 per perahu seharinya. Tidak banyak memang hasilnya, tetapi sudah mencukupi kebutuhan seseharinya, aku pak Jumeri.

1367807353869215699
Mengadu nasib di atas perahu dan dengan gigih menebar jala keberuntungan. Rawa Pening menyimpan kekayaan, kehidupan dan keindahan.

Saya memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan dengan juragan perahu. Sebuah tanjung kecil menarik perhatian saya untuk menyambanginya. Menyusuri tepian danau yang ditumpuki dengan Eceng Gondol (Eichornia crasipes) yang dijadikan daratan baru. Perairan yang tenang nampak mengapung Salvinia cuculata diantara tanaman-tanaman air lainnya. Di ujung tanjung saya berhenti dan melihat aktivitas nelayan dari atas perahu. Dengan perlengkapan masing-masing mereka mengadu peruntungan di atas perahu sewaan. Ada yang bersabar dengan kailnya, ada yang bersemangat dengan menebar jalanya,

Seluas memandang mata saya dimanjakan oleh keindahan alam. Gunung merbabu, Gajah Mungkur, Telomoyo, Kendil, Sumbing, Sindoro, dan Ungaran begitu memukau saat langit sedang cerah. Keong sawah nampak bertengger pada batang bambu yang menancap dan Capung-cabung berterbangan kesana-kemari semakin mewarnai alam ini dengan segala kekayaannya.

13678074562072765399
Saya berbincang dengan salah satu karyawan Bapak Tasli, yang seseharinya bekerja di industri pengolahan ikannya. Banyak hal saya ketahui dari dia tentang seluk beluk rawa dan tepiannya.

Kaki ini kembali melangkah untuk kembali melihat ada apa di tepian Rawa Pening dari sisi Timur ini. Hidung saya mencium aroma yang sedap, dari mana gerangang sumbernya. Bak anjing pelacak mencoba mencari dari mana sumber bau sedap tersebut. Saya berhenti pada sebuah rumah mirip gerai toko, namun tak ada barang yang dijajakan disana. Dipelatarannya nampak sisik-sisik ikan terhampar dibiarkan mengering.

Saya bertemu dengan salah satu karyawan yang saat itu sedang mencuci sisik-sisik ikan. Saya bertanya, buat apa sisik-sisik ikan tersebut?. “ini di jual mas, katanya bisa dibuat kerajinan ada juga untuk bahan pembuat kapsul” kata karyawan yang saya temui. Setelah sejekan berbincang, saya beranikan masuk di dibangunan yang menyemburkan aroma sedap tersebut.

1367807602576472374
4-6 kuintal ikan nila berakhir di penggorengan. Dengan keuntungan rata-rata 2 juta rupiah setiap harinya, membuat usaha pengolahan ikan begitu menjanjikan, sekaligus mempekerjakan 6 karyawan.

Mata saya seolah tak percaya. Di dalamnya ada 3 buah wajan besar dengan minyak mendidih. 3 karyawan perempuan nampak sigap memasukan potongan-potongan daging ikan. ternyata mereka sedang menggoreng ikan nila. Ini adalah industri pengolahan ikan milik Bapak Tasli. Dengan karyawan 6 orang, industri rumah tangga ini setiap harinya mengolah ikan nila segar sebanya 4-6 kuintal. Ikan nila seger tersebut ada yang dijual dalam keadaan masih hidup ada juga yang sudah dalam bentuk daging goreng. Keuntungan bersih setiap harinya sekitar 2 jutaan, kata salah satu karyawannya.

Perjalanan saya di tutup dengan menyaksikan atraksi alam, yakni melihat sang surya masuk ke peraduannya. Pasangan muda yang mengajak si kecil nampak begitu romantis menikmati keindahan alam menjelang senja. Duduk dikursi sambil menikmati hamparan luas rawa pening dengan siluet perbukitan dibalik kota bersejarah Ambarawa. Rona merah matahari semakin memancarkan keindahannya saat terpantulkan oleh air rawa pening. Para nelayan juga sudah mulai menepi dan menambatkan perahunya masing-masing sambil membayar sewa.

13678077161319678317
Saya begitu sentimentil melihat suasana ini. Mereka bertiga begitu menikmati atraksi alam saat sang surya menjemput malam.

Senja ini memang luar biasa, tak hanya pasangan muda yang nampak penuh gairah sambil terus mengajari si kecil melihat fenomena alam ini. Saya duduk terpukau di tepian danau, dengan terus membuka tutup rana kamera. Sang surya sudak masuk ke singgasananya di tepi barat, rona merah di kaki langit menghantarkan malam tiba dan saatnya undur diri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s