Tempat Aman yang TIdak Nyaman

1

Pagi ini sepertinya saya bangun terlambat, karena kantung tidur ini selalu meninabobokan saya. Dari celah dinding yang terbuat dari anyaman bambu, sinar mentari mendarat tepat di muka. Sontak saya segera keluar menenteng kamera dan sepertinya langit masih menyisakan keindahan pagi ini. Saat itu saya berada di sebuah wisma di belakang Koramil Ngablak, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Nan jauh disana mata ini lepas memandangi langit yang seolah bertiangkan Gunung Sumbing. Pagi yang cerah dan tempat ini begitu indah, karena ada dikitari oleh gunung-gunung yang berdiri gagah. Gunung Sumbing, Sindoro, Andong, Ungaram. Telomoyo, dan Merbabu 360 derajat mengelilingi saya. Udara sejuk karena saya berada diketinggian 1200mdpl semakin menambah nyaman tempat ini.

Dari sebuah balkon tiba-tiba saya melihat seekir burung menukik tajam di padang rumput pelataran wisma. Saya hanya menebak dari warna bulu yang biru dan paruh yang merah, sepetinya ini burung raja udang yang menyambar seekor serangga. Begitu mangsa didapat langsung melesat bertengger di ranting Albasia lalu menikmati sarapan paginya. Mata saya terpesona, namun kamera saya membuat saya sakit hati karena tak bisa mengabadikan kejadian tersebut. Lensa mata ikan tak ubahnya mata saya yang bengong melihat atraksi raja udang tersebut.

13653901381668005599
Indahnya mahkota bunga Passiflora yang begitu memanjakan mata (dok.pri)

Tak lama kemudian saya berjalan menyusuri sudut demi sudut taman di belakang wisma. Beraneka tanaman di hadirkan disini. Bunga-bunga indah mekar disini. Nampak bunga Passiflora yang satu kerabat dengan Markisa bermekaran sempurna. Rona merah mahkota bungu menari bermacam serangga penghisap madu untuk hadir disana. Sulur tanaman ini dibentuk sedemikian rupa sehingga begitu artistik. Sebuah karya seni dengan memanfaatkan potensi alam.

Ponsel ini tiba-tiba berdering, ternyata panggilan untuk menikmati santap pagi. “Eits…” teriak saya saat hendak memasuki ruang makan. Muka saya hampir saja menabrak juntaian mahkota bunga Strongylodon. Mahkota yang berbentuk mirip cakar nampak bergelantungan dengan indahnya. Semut-semut hitam nampak berderet menyusuri helaian mahkota bunga yang melengkung. Embun pagi yang terjebak sepertinya enggan untuk meningkalkan mahkota bunga cantik ini, sehingga masih nampak kokoh bergantungan.

13653901981559402820
Bunga Strongylodon hampir saja menampar wajah saya, mengapad dia nyaman disini padahal ada tempat yang lebih aman..? (dok.pri)

Secangkir susu jahe membawa saya meninggalkan indahnya mahkota Passifloran dan Strongylodon. Saya dibawa disebuah tempat yang kontras dengan yang saya kunjungi saat ini. Waktu itu saya berdiri disebuah atap bangunan militer peninggalan Belanda. Seluas mata memandang nampak hijau, tertata rapi, namun bagi saya itu sangat gersang. Hijaunya rerumputan tak ubahnya karpet mushola. Nyaris tak ada kehidupan, begitu juga dengan pepohonan disekitarnya.

1365390283693305841
Beberapa pohon Mangga dan hijaunya rerumputan, namun rasanya gersang. Inikah keindahan untuk sebuah kehidupan. Sudut pandang masing-masing berbeda untuk memaknai indahnya kehidupan (dok.pri)

Tiba-tiba pikiran usil ini ingin menggelitik naluri. Kompleks militer, Batalyon, Perkantoran, atau ruang terbatas adalah sebuah kawasan yang sangat aman. Aman dalam artian, tidak boleh sembarang orang bisa masuk dan keluar. Mengapa kawasan yang aman ini sepertinya  tidak aman untuk sebuah kehidupan sehingga terkesan gersang.

Serangga yang sedari tadi saya letakan di celana saya seolah ingin berdialektika dengan saya. “Tempat yang aman seharusnya menjadi hunian kami, yakni mahluk-mahluk lemah yang terus dburu manusia. Pepohonan langka seharusnya yang tinggal disana, bukannya tanaman bebuahan yang banyak di budidayakan atau tanaman hias semata.

Mungkin atas nama estetika, keindahan maka ditanamlah tanaman hias, bebuahan, hingga rumput-rumput pilihan. Tidak ada kehidupan selain mereka yang dipilih untuk tinggal dan menghiasi tempat itu”. Demikian kata mahluk mungil yang terus mencakar-cakar kain celana saya. Memang benar adanya jika taman-taman yang dibuat di perkantoran atau ruang terbatas hanya memperhatikan masalah estetika semata, padahal jika sedikit disentuh maka ini bisa menjadi wahana konservasi.

1365390403691337966
Akhirnya dia terbang sambil berkata “tempat yang aman belum tentu nyaman”. Sebuah impian mewujudkan tempat yang aman menjadi nyaman untuk keberagaman kehidupan, terutama buat yang terancam kepunahan (dok.pri).

Katakanlah di areal tersebut ditanami beberapa tumbuhan langka di Indonesia, burung-burung boleh bertengger dan bersarang, serangga boleh berkeliaran mencari makan. Maka alangkah indahnya keberagaman dari sebuah kehidupan. Namun sepertinya tempat aman tersebut tidak sepenuhnya mengerti akan maksud pikiran nakal ini. Orientasi keindahan dan nyamannya pandangan mata memiliki porsi yang lebih besar dibanding arti konservasi. Siapa berani masuk markas Kopasus, Marinir, Kostrad, Istana Negara, dan lain sebagainya seyogyanya menjadi hunian mereka yang kini terancam punah oleh ulah manusia.

Kumbangpun terbang, dan hilang lamunan saya tak kala susu jahe sudah menjadi dingin. Mungkin pohon mangga bisa diselingi dengan menanam pohon Cendana agar buahnya semakin wangi. Impian yang semoga menjadi kenyataan agar mata ini tak gersang melihat hijaunya rerumputan,

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s