Semalam di Barak Bantir yang Taktis dan Praktis

1

Langit yang masih nampak samar menjebak mata saya untuk memandang ke arah barat daya. Kejauhan nampak jelas puncak Gunung Sumbing dibalik perbukitan yang menghijau. Disebelahnya nampak berdiri berdampingan gunung Sindoro dengan puncak yang lebih mengerucut. Dua gunung yang nampak anggun menyambut pagi ini.

Suara burung dari sela-sela pephonan semakin mengusik saya untuk segera berpindah. Kedua  kaki ini segera melangkah menuju segala penjuru mata angin untuk melihat keindahan pagi ini. Benar saja, halimun di kaki bukit nampak menyelimuti genting-genting rumah sebelum tersinari oleh cahaya mentari.

1365045411402764955
Halimun yang masih menyelimuti sebelum mentari menyinari sebuah dusun di selatan Bantir (dok.pri)

Lahan persawahan yang menghijau, kebun-kebun dengan model terasiring terhampar luas di depan mata. Saat ini saya berdiri diatas ketinggian 930m dari permukaan laut di sisi selatan Gunung Ungaran. Barak Bantir begitu kebanyakan orang menyebutnya. Inilah salah satu tempat latihan militer milik Kodam IV/Diponegoro.

1365045494374461403
Salah satu sisi barak militer yang ada di Bantir dengan aroma masa lalu yang masih kental (dok.pri)

Barak militer ini terletak di Kecamatan Suwono, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Inilah sisa-sisa peninggalan saat Belanda masih menjajah Indonesia. Lokasi yang strategis membuat sisi selatan Gunung Ungaran menjadi wilayah militer. Tercatat dari Ambarawa hingga ditempat ini kesemuanya kemah-kemah konsentrasi militer.

Barak Bantir pada awalnyanya adalah kesatuan Kavaleri Belanda. Di barak bagian bawah terdapat kandang kuda, yang saat ini digunakan sebagai kantin pengunjung. Masih terlihat jelas petak-petak kandang kudanya dan menjadi saksi dahulu banyak kuda hebat ada disini. Barak-barak lain di gunakan untuk ruangan komandan, kamar tidur prajurit, aula, dan masih banyak lagi.

13650468711902200711
Dapur Belanda, kata anggota TNI yang mengajak saya berkeliling barak (dok.pri)

Pagi itu saya ditemani oleh seoarang anggota TNI. Saya diajak berkeliling sambil dijelaskan satu persatu fungsi bangunan itu dari jaman dulu hingga peruntukannya sekarang. Yang paling menarik saat saya diajak menuju sebuah bangunan dengan 2 cerobong asap yang membumbung. Pintu setinggi 4 meter yang terbuat dari kayu jati begitu dibuka terlihat ruangan yang bersekat-sekat. Kata anggota TNI yang menemani saya, dulu ini adalah dapur tentara Belanda. Ada 2 tungku besar yang sekarang sudah ditimbun dan yang tersisa hanyalah cerobong asapnya. Entah saat ini ruangan ini difungsikan untuk apa, beliau tidak bisa menjawab.

13650457561392552453
Dari jendela ini para prajurit untuk melihat pemandangan di luar dan udara dan cahayapun bisa masuk (dok.pri)

Sekarang saya menuju barak-barak tempat tinggal para prajurit. Barang dengan panjang hampir 50m dan lebar sekitar 8meter bak sebuah lorong. Jendela super lebar menjadi jalan masuknya udara dan cahaya. Saat ini alas tidur berupa lincak atau bale-bale dari kayu. Namun malam nanti saya diajak untuk tidur beralaskan lantai agar bisa menikmati sensasinya.

Tidak lengkap jika tidak mengunjungi kamar mandi, kata pak tentara yang sedari tadi mengajak patroli. Kaki ini berjalan menuruni anak tangga dan terdengar suara aliran air yang cukup deras. “Belanda memang pintar mas, mereka membuat kamar mandi dari mata air alami yang tak pernah kering saat musim kemarau” katanya. Tujuan pertama saya adalah melihat lokasi prajurit mandi.

1365045899506104272
Kakus prajurit yang praktis dan taktis (dok.pri)

Bak-bak penampungan air mirip selokan besar yang tersumbat memanjang dari ujung ke ujung di lorong kamar mandi. Hanya sekat-sekat yang menjadi pemisah untu kamar mandi, sedangkan air untuk rame-rame dalam satu bak. Air sisa dari kamar mandi lantas di alirkan dalam selokan, dan inilah yang menarik sebab menjadi sarana transportasi kotoran manusia.

Pintu setinggi 2 meter lebih saya buka, yang ada hanya dua buah pijkan kaki dari ubin dengan pola kubus dan sebuah selokan. Inilah tempat buang hajat untuk prajurit. Mereka tinggal jongkok dan kotoran yang jatuh akan tersapu oleh derasnya aliran air yang nantinya akan dilimpahkan ke sungai. Saya tidak membayangkan saat ini, jika jongkok di sini sambil memainkan telepon pintar dan tersenggol jatuh sedalam 1,5meter.

13650459621237219101
Bulan perbani menutup malam ini (dok.pri)

Siang hari banyak saya habiskan mengobrol dengan beberapa anggota TNI yang sedang bertugas disana. Saling tukar cerita dan berbagi kisah, dari yang haru hingga yang lucu. Akhirnya pembicaraan kami ditutup saat bulan perbani menyinari. Melurunkan punggung dibarak beralaskan busa tipis memang tak nyaman, tetapi apa boleh buat. Kantong tidur ini seolah bukan tempat yang nyaman, namun ini jauh lebih aman dan nyaman dibanding jaman perjuangan. Selamat malam.

4 thoughts on “Semalam di Barak Bantir yang Taktis dan Praktis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s