Laut jadi Tempat Pembuangan Abadi

IMG_2572t

Kaca mata kedap air dan pipa pernafasan ini memang benar-benar membantu saya. Kali ini saya menikmati indahnya taman laut di Taman Nasional Karimunjawa. Air yang jernih, ombak yang bersahabat sangat mendukung untuk menyaksikan eden bawah air. Beraneka fauna laut menyambut kecipak kaki katak yang saya kenakan dan tangn mulai mendayung layaknya pinna pectoralis pada ikan. Sesekali saya menyelam dikedalaman sekitar 1-2m untuk lebih dekat bercengkrama dengan penguninya.

Bunga laut atau yang bisa kita sebut dengan anemon nampak indah warna-warni dengan rumbaian lembutnya. Ikan Nemo (Amphiprion ocellaris) seperti digelitik perutnya oleh anemon sehingga selalu bergoyang kesana kemari. Inilah salah satu dari sekian banyak taman laut yang saya nikmati.

136193647953422389
Inilah obyek yang menyambut saya saat memasuki dunianya (dok.pri)

Beberapa waktu yang lalu Ibu Kota sempat lumpuh gara-gara luapan air yang tak bisa dikendalikan. Banjir yang menyerbu ibu kota lantas dicari-cari kambing hitamnya dan sampahlah yang menjadi salah tersangka. Sampah dianggap sebagai biang keladi penghambatnya aliran air untuk menuju tempat yang lebih rendah. Hampir semua sepakat menyalahkan sampah sebagai sumber masalah.

Sampah, secara harafiah bisa diartikan sebagai sisa yang harus dibuang. Sangat sederhana, kita mengeluarkan nafas berupa gas asam arang atau kentut juga termasuk sampah. Begitu juga dengan plastik sisa makanan, kasur yang tak layak pakai, sofa rusak juga termasuk sampah. Bagaimana jika sofa, kasur, kulkas yang dibuang disungai dianalogikan dengan udara yang keluar dari mulut?. Tentu saja akan berbeda dampaknya, karena akan spesifik kasusnya dan efek sampingnya.

1361936546372105816
Sampah mengalir sampai jauh, akhirnya ke laut juga (dok.pri)

air mengalir sampai jauh” salah satu petikan lagu Bengawan Solo karya sang maestro Almarhum Gesang. Laut adalah pelabuhan terakhir dari semua aliran sungai. Bisa dibayangkan jika sampah-sampah itu terbawa arus mengikuti aliran sungai. Yang pasti maka laut akan menjadi TPA alias Tempat Pembuangan Abadi. Dilaut berbeda dengan daratan, sebab disana tidak ada pemulung atau dinas kebersihan, tetapi mekanisme alamlah yang akan memperlakukan sampah-sampah yang terikut.

Sampah yang berat akan segera mengendap di area muara atau estuaria, sedangkan sampah yang melayang akan berterbangan di perairan. Sampah ringan akan melanjutkan pengarungan samudranya. Mungkin saja mekanisme alam adalah salah satu indikator penolakan laut terhadap sampah manusia. Laut tidak sudi di kotori dan dicemari dengan apapun juga. Apa yang dari darat akan dikembalikan ke darat atau akan dibenamkan jadi daratan walau harus terendam.

Arus permukaan atau ombak akan mengembalikan sampah-sampah ke daratan. Arus bawah akan mengaduk-aduk material dan memilahnya, mana yang akan dikubur mana yang harus dikembalikan. Sepertinya laut tak sudi dengan sampah-sampah yang diperlakukan bukan sabagai mana mestinya. Laut kadang bijak juga dengan memberikan pelajaran hampir ke semua pantai.

Pantai yang berpasir putih, tiba-tiba bisa kotor dan penuh dengan sampah. Pantai yang kotor juga bisa disapu oleh ombak supaya bersih. Inilah hebatnya laut yang kadang berbagi keindahan dan kerusakan alam. Jangan salahkan jika melihat pantai itu kotor dan belum tentu itu ulah kita, bisa saja itu ulah orang nan jauh diseberang sana. Hukum sebab akibat memang demikian terlebih lagi alam yang memproses.

13619366191527216038
Nemo yang yang tak lagi bercengkrama dengan anemom (dok.pri)

Usai dari Karimunjawa sejenak melepas pandang ke pantai di Teluk Awur Jepara. Yang ada didepan mataku kini tak seperti apa yang kulihat di eden. Kutemukan Nemo sudah tergeletak tak berdaya diantara sampah-sampah yang memenuhi pantai. Ikan yang biasanya berenang menggemaskan diantara jemari anemon kini tak lagi indah gara-gara sampah. Ternyata nemo yang kutemui juga sampah, dan semua sampah. Sedikit saya berterima kasih pada mereka yang memanfaatkan sampah sebagai sumber kehidupan. Kayu-kayu yang berserakan menjadi sumber kayu bakar. Botol dan gelas air mineral dihargai untuk didaur ulang. Beberapa jenis plastik juga masih ditukar dengan rupiah. Sisanya, biarkan alam yang kembali memilahnya.

 

4 thoughts on “Laut jadi Tempat Pembuangan Abadi

  1. Pingback: Laut jadi Tempat Pembuangan Abadi - telusuRI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s