Borobudur Bisa Runtuh Karena Ulah Kita

IMG_3023

hey…hey…hey… yang berbaju hijau turun, dilarang memanjat… sekali lagi turun turun…!” terdengar suara dari pihak keamanan dengan menggunakan megaphone. Saya yang merasa memakai baju berwarna hijau sontak kelabakan. Ada apa dengan saya, apakah saya salah berpijak dan tempat hingga harus turun?. Saya berdiri ditempat yang tidak ada tanda larangan memanjat. Itulah ke geer-an saya saat mengunjungi candi Borobudur, di Magelang Jawa tengah. Ternyata bukan saya yang dimaksud dengan baju hijau, namun sudah membuat rasa ini tak enak juga.

Saya menyusuri relief-relief di dinding Borobudur atas ajakan teman untuk melihat gambar kapal. Entah sudah berputar berapa kali dan naik turun berapa tingkat, tak ketemu juga relief yang dimaksud. Mengingat tak boleh membawa makanan masuk ke area candi dan ditahan dipintu masuk, maka tak ada asupan energi dan badan lemas sudah.

Berdiri mencari jalan keluar seolah tak nyaman dengan realita yang ada. Teriakan dan himbauan dari pihak keamanan dan para pemandu wisata seolah hanya semilir angin yang menyejukan telinga diudara yang terasa panas.Banyak yang tak mengerti dan tidak mau tahu arti sebuah papan peringatan. Jalan keluar dipakai untuk jalan masuk, begitu pula sebaliknya sehingga terkesan sangat semrawut.

Ironis memang, sebuah warisan budaya masa lalu hanya dimaknai sebagai tempat wisata semata tanpa memandang nilai-nilai sejarahnya. Tak sedikit mereka yang paham akan tulisan dan peringatan tetap nekat untuk menerobosnya. Satu dua orang mungkin tak berasa, namun jika tiap hari ratusan bahkan ribuan melakukan tindakan menyalahi aturan maka kerusakan candi tak terhindarkan. Borobudur memiliki daya dukung yang sangat terbatas, namun pengunjung dan prilakunya seolah tak mau dibatasi.

13589899531910754510
Prilaku menyimpang acapkali menjadi tantangan untuk mencari celah pihak keamanan (dok.pri).

Memanjat, menginjak, dan duduk ditempat yang buka semestinya hanya untuk sebuah momen pengakuan diri menjadi sebuah tantangan pengunjung untuk mengelabuhi pihak keamanan. Meleng sedikit saja mata penjaga, dengan siga mereka melakukan aksinya. Kesadaran dan pemahaman yang masih rendah inilah yang kadang membuat mereka sebenarnya tak layak berdiri disini. Sangat disayangkan pendidikan kita tak merambah pada ranah tersebut, sebab pelakunya adalah para pelajar yang study tour. Padahal study toursebenarnya belajar sambil berwisata, namun kenyataannya  hanya euforia belaka.

Mungkin para pelajar wajar saja melakukan seperti itu, sebab pepatah guru kencing berdiri murid kencing berlari itu terbukti. Tak sedikit para pendidik yang melakukan pelanggaran serupa. Tingkah laku mereka yang tak layak ditiru bisa menjadi refrensi murid-muridnya untuk melakukannya.

Aturan dan sanksi yang tegas sepertinya bisa menjadi efek jera. Rasa malu terhadap orang asing yang kadang jauh lebih mengerti dan menghargai sebuah mahakarya tak ada lagi. Mungkin ada baiknya sebelum masuk pelataran candi, sosilaliasi aturan dan sanksi tegasnya perlu diberikan. Bila diperlukan, berikan efek jera buat pengunjung yang nakal. Memang kadang tak etis juga memberikan sanksi tegas ditempat wisata, namun ini perkaranya adalah tempat wisata yang sangat istimewa menurut saya. Tapi entahlah, kembali kemasing-masing pribadi saja, sebab tak hanya borobudur yang bernasib serupa.

4 thoughts on “Borobudur Bisa Runtuh Karena Ulah Kita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s