Sungai Kecilku yang Menjadi Korban Impian

DSC04731

Panasnya udara kalimantan, tak membuat saya mundur untuk jalan-jalan menyusuri sebuah jalan setapak. 22 tahun yang lalu, tempat yang saya tuju ada taman bermain favorit saya. Legung, demikian penduduk setempat memberi nama surga kecil kesukaan saya. Sebuah sungai jernih, mengalir cukup deras dan saya yang masih kelas 2 SD saja tenggelam.

Berkilas balik sebentar untuk dua dasawarsa kebelakang. Legung sebuah sungai yang menjadi salah satu sumber air bersih di lokasi transmigrasi. Mandi, cuci hingga mengambil air untuk kebutuhan rumah tangga semua berasal dari sana. Udara yang panas usai pulang sekolah, maka Legung menjadi satu-satunya pelepas dahaga dan kami selalu bermain sampai sore hari. Urusan perut jangan kawatir, kami anak hutan bisa tahun dan paham bebuahan liar yang tumbuh disana dan tinggal prasmanan saja sampai kenyang.

Kini sungai indahku sudah berubah total. Saya termenung dipinggir surga masa kecil saya. Air dulu yang bening bak kaca yang usai di lap, kini keruh seperti air cucian beras. Derasnya air yang bisa menyeret kami dan membuat kami tertawa senang dan mengulang agar terseret lagi, kina seolah tak berdaya dengan alirannya yang pelan bahkan mandeg.

13589010971481534284
Hutannya masih lebat, namun pohonya berubah menjadi sawit semua (dok.pri).

Mata ini berputar layaknya pungguk yang mencari incaran. Dulu hutan lebat kini nyari tak berubah, yang berbeda hanya pohonnya saja. Pohon sawit kini yang tumbuh lebat dan hanya itu yang tumbuh. Tanaman lain sepertinya haram untuk tumbuh disini, bahkan tunas yang baru nongol saja sudah dibasmi dengan herbisida.

Hutan sawitlah yang kini mendominasi taman bermain saya. Kemanakah hutan tempat kami mencari makan dengan buah-buah liarnya yang sangat eksotis?. Ternyata uang dan kebutuhan sudah mengubah surga kecil saya. Inilah sebuah realita alih fungsi lahan yang didambakan jauh lebih menguntungkan, walau ada yang harus dikorbankan.

13589012061289207240
Tandan-tandan impian petani yang jauh lebih menjajikan dan menguntungkan (dok.pri)

Onggokan tandan-tandan sawit kini tak asing lagi didepan mata saya. Inilah impian para petani yang kini menggarap ladang sawit. Penghasilan yang besar dari komoditas ini memang cukup menjajikan. Harga perkilo dari harga Rp 2.100,00 hingga kini anjlog di angka Rp 750,00 tak menjadi masalah dan tetap untung.

Seluruh hamparan hutan yang dulu berisikan beraneka flora fauna, kini harus mengalah kepada salah satu keluarga Palmae. Saya serasa tak bisa berpikir harus bagaimana melihat fenomena ini. Disaat negara tak mampu menyejahterakan rakyatnya, maka  mereka akan menyejahterakan dirinya sendiri secara mandiri dengan caranya sendiri. Memang cara menyejahterakan acapkali membuat mahluk lain menjadi tidak sejahtera, tersingkir bahkan punah dari kehidupan.

Konsekuensi logis dari sebuah perubahan. Sawit yang rakus air dan unsur hara telah membuat semua berubah. Pundi-pundi uang yang bergelimang sebentar meninabobokan alam ini yang terancam kerusakan. Air yang mulai langka, tanah yang tak lagi subur, flora dan fauna lokal yang tergusur adalah sedikit ancaman yang mulai terlihat. Sadarkah mereka?, mereka semua sadar dan tahu apa yang akan terjadi nantinya, tetapi mereka juga butuh uang untuk hidup. Mereka tahu, tetapi tidak mau tahu untuk sementara, karena kesejahteraan ini adalah impian mereka.

Petani hanyalah petani dan tetap menjadi petani. Sebenarnya yang menikmati hasil kerusakan lahan adalah para kapitalis dan pejabat, sebab merekalah pemberi kebijakan dan yang mengatur semuanya. Petani hanyalah boneka kehidupan yang acapkali dipermainkan, dan mereka cukup senang. Memang sekilas ada simbiosis mutualisme, namun ekologi tak dimasukan disana dan flora fauna lokal tak dilibatkan.

13589013091656003542
Biarkan ini menjadi surga bagi anak-anak, namun apa daya dikanan kiri perakaran sawit siap menyedot airnya (dok.pri).

Sebuah curug mungil yang tersisa cukup mengobati rasa dahaga saya akan surga mungil ini. Air terjun begitu penduduk setempat, dan saya bilang sebuah jeram dengan air yang deras menjadi oase ditengah-tengah ladang sawit. Inilah yang tersisa ditempat ini, selebihnya tidak ada. Kesegaran airnya cukup mengobati rasa kesal saya karena apa yang dulu saya lihat kini sudah berubah.

Mimpi petani dan saya mungkin sama, yakni harga sawit yang tinggi dan air terjun mungil ini tetap ada. Hanya ini yang tersisa dan menjadi tujuan siapa saja yang ingin menyegarkan diri. Entah sampai kapan air disini tetap mengalir disaat pohon-pohon sawit sudah mengelilinginya dan siap untuk menyedot habis. Alam juga memiliki caranya sendiri dan sangat bijaksana untuk memberikan keseimbangan. Mungkin saat ini alam yang merasakan, namun kelak manusia juga ada didalamnya.

Advertisements

4 thoughts on “Sungai Kecilku yang Menjadi Korban Impian

  1. “Air terjun begitu penduduk setempat, dan saya bilang sebuah jeram dengan air yang deras menjadi oase ditengah-tengah ladang sawit. Inilah yang tersisa ditempat ini, selebihnya tidak ada.”
    Pertanyaannya adalah, sampai kapan curug kecil ini bisa bertahan?
    Rasa tidak mau kehilangan keindahan alami inilah yang seringnya mendorong aku untuk kluyuran mengabadikannya sebelum betul-betul hilang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s