Samudra Raksa Membawa Borobudur Mengambang di Lautan Awan

IMG_2902 xxx

Bunyi alarm membuat saya langsung terjaga dengan suaranya sangat berisik. 02.30 itu yang terlihat di layar ponsel saya. Seingat saya, baru pukul 01.00 saya mencoba merebahkan diri, namun sekarang harus sudah bangun. Teh panas menjadi agenda pertama untuk mengawali dinginnya pagi. Dari kamar datang pesan singkat dan menanyakan apakah saya sudah siap langsung saya jawab “siap” dengan tan ransel siap digendong.

Pukul 03.30 hujan begitu lebat mengguyur kota gudeg, Yogyakarta. Mobil melintasi keheningan menjelang subuh sembari menerobos hempasan air dari langit. Tujuan kami kali ini adalah Magelang dan Puntuk Setumbu tepatnya. Entah angin apa yang membawa kami kesana, yang pasti adalah rasa penasaran saja.

1358816360432818539
Inilah lansekap yang menjadi incaran fotografer dan wisatawan (dok.pri).

Punthuk Setumbu, demikan namanya. Bukit setinggi 400an mdpl ini berdiri disisi barat candi Borobudur. Tempat yang strategis untuk melihat matahari terbit dan candi borobudur dalam balutan kabut pagi dihiasi perbukitan. Tempat favorit bagi pecinta fotografi untuk melukis borobudur dan lansekapnya dari ketinggian.

1 jam perjalanan dari Yogyakarta, sampai juga di pelataran candi Borobudur dan kami berbelok ke arah barat. Arah tujuan kami ke Desa Karang Rejo, Kecamatan Borobudur. Dibeberapa tempat ada petunjuk jalan yang merahkan menuju Puntuk Setumbu. Akhirnya perjalan dengan kendaraan  harus berhenti saat memasuki pelataran parkir.

Dari pinggir jalan besar, kami kami harus berjalan sekitar 1Km dengan jalan menanjak. 04.30 mengawali kami menyisir jalan setapak sambil ditemani hujan gerimis. Jalan becek dan licin menyambut usai memasuki kebun penduduk. Ular tanah juga menyambut kami dengan gerakan menggeliat dan membuat ular dan kami sama-sama kagetnya.

1358816484942223057
Selepas jalan kampung. Jalan setapak yang semalam diguyur hujan, membuat medan menjadi licin (dok.pri).

Lampu penerangan yang remang-remang menuntuk kami menuju bukit yang dimaksud, walau kadang langkah kami harus terhenti untuk mencari pijakan yang kompak. Setengah perjalan kami sampai pada gardu pandang yang pertama. Kata rekan seperjalanan saya, tempat ini kurang strategis karena pandangan kita ke arah candi tertutup pepohonan. Akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan langkah kaki yang mulai kedinginan.

30menit kami berjalan, akhirnya sampai juga di tempat yang dimaksudkan. Gazeboo, gardu pandang bertingkat dan beberapa tempat duduk dari bambu memenuhi pelataran. Inilah Punthuk Setumbu yang banyak digadang-gadang orang dengan cerita indahnya. Sesampai disana sudah banyak wisatawan domestik dan mancanegara yang sama-sama menanti matahari terbit dan kemegahan borobudur dari kejauhan. Apa yang kami nanti, tak kunjung juga karena gerimis saja masih mengguyur dan kabut tebal menyelimuti.

Perkiraan matahari terbit pukul 05.45 tidak sesuai harapan kami. Semburat warna merah mudah hanya mengiasi secuil langit timur. Harapan kami serasa sirna dan sia-sia bangun pagi, berjalan terseok-seok dan akhirnya harus pupus karena alam kurang bersahabat. Sepertinya alam mengasihani kami yang sedari tadi harap-harap cemas.

Walau sesaat sang surya muncul juga dari balik awan kelam. Borobudur nampak cantik dengan balutan kabut tipis dan bukit-bukit yang melapisinya. Imajinasi saya terbawa melanglang menuju masa silam. Borobudur bak kapal Samudra Raksa yang berlayar dari Jawa menuju Afrika. Ekspedisi kayu manis nampak didepan saya saat melihat borobudur seperti mengambang diatas lautan awan dan bukit-bukit disekitarnya menjadi pulau-pulau mungil.

 

1358816593911022762
Lapisan bukit-bukit yang dibatasi kabut tipis benar-benar memberikan imajinasi tersendiri (dok.pri).

Lamunan saya ini buyar saat beberapa kamera sudah menyambar pemandangan indah didepan lensa. Memang bukan perkara mudah untuk melukis cahaya alam ini. Cahaya yang minim dan jarak obyek yang sangat jauh memaksa harus pandai-pandai mengakalinya. Diafragma lensa dipaksa membuka selebar mungkin untuk mengkompensasi Iso serendah mungkin agar mendapat gambar yang bebas dari pasir. Kecepatan rana juga harus dipertimbangkan saat kedua tangan menjadi tumpuan kamera, karena jika goyang sedikit saja maka obyek akan kabur.

Obyek sejuta umat, kira-kira demikian saat saya melihat beberapa foto di laman situs fotografi. Bisa dibilang demikian, karena titik para fotografer hampir sama berdiri dan obyek juga itu-itu saja. Tempat dan obyek boleh sama, namun alam ini akan berkata lain yakni dengan memberikan perbedaan. Faktor cuaca menjadi penentu, saat cahaya dan kabut yang menjadi pengisi keindahan diatur oleh alam. Lautan kabut yang dilitansi Samudra Raksa sambil menanti sang surya adalah nirwana dari borobudur.

6 thoughts on “Samudra Raksa Membawa Borobudur Mengambang di Lautan Awan

  1. Meskipun diambil dari titik yang sama, rasanya gak mungkin dapat gambar yang sama, karena alam yang selalu berubah.
    Ngomong-ngomong aku senasib sama Johanes nih, belum kesampaian mau kesini 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s